f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
plastik

Plastik, Bom Waktu Sebuah Kepraktisan

Beberapa waktu lalu saya kencan buta di sebuah coffe shop. Saya memesan signature late dan suami memesan kopi robusta. Ketika pesanan datang, saya cukup heran melihat kopi disajikan dengan gelas plastik bersegel lengkap dengan sedotan. Setelah lirik kiri kanan, ternyata sebagian besar pengunjung menggunakan wadah yang sama. Oh, karena minuman dingin mungkin lebih praktis begini kemasannya. Begitu pemakluman saya.

Awalnya saya kira cuma kopi-kopi yang dipesan take away atau by ojol saja yang model begini. Atau aneka minuman yang memang tidak menyediakan layanan minum di tempat. Yah, saya memang kurang nongkrongnya. Kemasan plastik ini memang praktis. Tak perlu mencuci, sehingga mengurangi cost tukang cuci. Sekali pakai. Langsung buang jika sudah tak terpakai.

Eh, tapi dibuang kemana ya? Ke tempat sampah.

Itu jika doktrin “buang sampah pada tempatnya” ngena pada diri pemilik sampah. Jika tidak, mungkin hanya akan jadi salah satu yang terdampar di selokan atau bantaran sungai Ciliwung. Kita terlalu fana dengan doktrin tersebut. Saking fananya, program ini bahkan tidak pernah bisa kita katakan berhasil. Mungkin karena tidak digerakkan semasif program KB.

***

Sebagai salah satu orang yang cukup idealis dengan kebersihan. Plastik kemasan kopi tersebut langsung saya lesatkan ke tong sampah terdekat. Yang nantinya akan dibawa ke TPS terdekat. Dinas Kebersihan akan mengangkut kemasan itu beserta plastik-plastik lain. Kemana ya? Ya, betul sekali! Ke tempat pembuangan akhir yang merupakan bentuk perlakuan akhir pada sampah.

Pernah terpikirkan tidak, akan diapakan kumpulan plastik dan sampah lain  di TPA tersebut? Dibakar, ditimbun, didaur ulang, beragam sekali memang. Didaur ulang memang opsi yang menarik. Tapi, ketika sudah bercampur dengan aneka sampah lain, daur ulang di TPA tak mungkin mencapai 50%. Yang akan petugas TPA lakukan tentu saja membakar, mengubur dan menimbun sampai menjadi gunung. Nyatanya penimbunan ini yang paling banyak terjadi. Petugas kewalahan menangani sampah yang datang setiap hari.

Baca Juga  Ancaman Mikroplastik Semakin Nyata

Meskipun sampah makanan masih menduduki peringkat pertama sampah di TPA, tapi Indonesia juara 2 penghasil sampah plastik se-dunia, lho! Harap maklum, penduduk Indonesia melimpah. Maka tak heran jika konsumsi sampah tumpah ruah. Apakah itu pantas menjadi sebuah alasan? Tentu, tidak.

Negara kita memang dihuni banyak manusia. Tapi, bukan berarti pantas menjadi yang terdepan pada penggunaan plastik. Kita hanya sebagian (sebagian yang banyak) dari penduduk bumi  yang membebankan plastik sebagai sebuah kepraktisan. Seolah-olah segala sesuatu wajib dibungkus plastik. Kegiatan remeh temeh sampai super penting menjadi wajib bercengkerama dengan plastik. Padahal banyak alternatif yang bisa kita lakukan.

Membawa Wadah

Membawa wadah, baik itu  kantong kain atau rantang bisa menjadi alternatif. Beberapa bulan ini, saya menerapkan prinsip “bawa wadah” sendiri setiap ingin membeli sesuatu. Makanan tentu saja berlaku untuk prinsip ini. Mengubah kebiasaan belanja dengan wadah ini cukup mengguncang komunikasi keluarga saya. Bayangkan dari kebiasaan langsung berangkat ke tujuan, perlu direpoti dengan aktivitas membawa gembolan. Bersyukur, lambat laun kebiasaan ini mulai terbangun. Setiap mau beli martabak, suami selalu mengingatkan ”siapin dulu wadahnya!”.

Tindakan ini pun masih para pedagang anggap suatu hal yang ajaib. Pasalnya mereka telah menata pernak-pernik dagangan dalam setiap wadah. Supaya pelanggan mendapat pelayanan terbaik ketika berbelanja. Cepat dan lagi-lagi praktis.

Tapi, kalau kita mau melihat dampaknya sungguh tidak sepraktis itu. Bayangkan, berapa kantong plastik yang kita butuhkan untuk satu porsi bakso? Sebuah plastik berisi kuah, satu untuk mie dan sayur, satu sambal, satu kecap, satu saos serta kantong terbesar untuk membungkusnya. Paling tidak 6 buah plastik yang kita gunakan. Itu baru untuk satu orang. Bagaimana jika empat anggota keluarga memesan menu yang sama? Kalikan saja.

Baca Juga  Musim Kampanye di Musim Pandemi
Kurangi Belanja Plastik Kemasan

Mengurangi belanja barang yang menggunakan plastik kemasan memang tidak mudah. Apalagi kemudahan-kemudahan berbelanja yang da sekarang memaksa kita untuk menggunakan plastik kemasan dan sebangsanya.

Pertimbangan belanja pun perlu kita lakukan. Jika tidak terlalu mendesak, tak perlu beli barang baru. Atau jika mampu, belilah dalam kemasan terbesar supaya menggurangi kemasan sachet. Kalau tak saking mendesaknya, buatlah makanan sendiri. Toh, cemilan-cemilan kemasan itu sejatinya sungguh tak ramah di tubuh kita. Buatlah pilihan-pilihan yang sekiranya menyehatkan bumi. Setidaknya kita masih punya berbagai pilihan untuk mengubah kesejahteraan bumi.

Mengapa plastik memiliki citra yang buruk, padahal sangat bermanfaat bagi keberlangsungan hidup manusia?

Bukan, bukan begitu. Citra buruk sebenarnya bukan pada plastik, melainkan bagaimana perlakuan kita terhadap benda ini. Kita terlalu masif menggunakannya. Plastik punya keunggulan-keunggulan yang jelas pantas diperhitungkan dibanding bahan besi, emas, kain, ataupun kertas. Tentu kita perlu berterima kasih kepada Leo Baekeland yang berhasil menemukan Bakelite. Yang menjadi cetusan aneka bentuk plastik itu.

Nurul Noviyanti

Bagikan
Post a Comment