f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
tetangga yang baik

Menjadi Tetangga yang Baik, Susahkah?

Sudah menjadi adat istiadat kalau saja tukang sayur berhenti di depan rumah; maka kerumunan warga dari blok mana saja ikut meramaikan dengan perbincangan isu-isu yang memanas di kompleknya. Padahal yang dijumpai adalah sayur-mayur dan tukangnya; bukan masalah ‘dapur’ komplek yang kerap membuat rasa penasaran dan inisiasi membuka aib pun bermunculan. Tidak disadari, sampai-sampai tukang sayur hapal sekali plot bincang pagi ini akan dibawa ke mana: kalau tidak ngomongin orang ya, ngeghibahin orang. Sama saja bukan?

Selesai paginya mengumbar kejelekan orang, malamnya justru membuat resah sekitar. Seperti bermain musik dengan volume keras, gaduh dalam rumah, tertawa terbahak-bahak sampai tidak sadar bahwa tetangganya sedang tidur, dan hal-hal lain yang membuat bising tercipta. Padahal, yang demikian itu termasuk sepele di mata kita, tapi berat dalam kacamata agama.

Inilah yang sesekali menjebak kita dalam melaksanakan perintah agama namun hubungan antar manusia terkikis. Khususnya krisis akhlak kepada manusia lain menjadikan hablum min annas justru tidak terlakoni dan lebih mementingkan hubungan kita kepada Allah tanpa memperhatikan keadaan sekitar.

*

Agama Islam adalah agama yang sungguh luar biasa dalam menuntaskan masalah akhlak. Tidak terkecuali alasan Allah mengutus kekasih-Nya, nabi Muhammad Saw  yakni untuk menyempurnakan akhlak. Sebab, dari akhlak itulah menjadikan terbentuknya karakter di diri masing-masing sehingga membuat pandangan manusia lain akan tertuju pada akhlak kita, bukan fisik kita – meskipun ada beberapa yang masih menilai by its cover.

Apalagi yang dihadapkannya bukan orang jauh, namun orang terdekat yang tidak mempunyai hubungan darah lalu bersebelahan dengan rumah kita; Yaps, siapa lagi kalau bukan tetangga. Dalam sebuah riwayat, malaikat Jibril terus-menerus berwasiat tentang kedudukan tetangga sehingga Rasulullah yakin bahwa ia (tetangga) akan mewariskan harta kepadanya (tetangga lain). Saking seringnya mendapatkan wasiat lagi-lagi menegaskan pentingnya berbuat baik kepada tetangga.

Baca Juga  Belajar dari Kisah Nabi Nuh : Lebih Takut Corona atau Allah?

Bahkan indikator iman pun implementasi dari bagaimana kita berakhlak kepada tetangga. Sesuai hadist nabi, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berbuat baik kepada tetangganya.” (HR Bukhari-Muslim)

Jelas sudah, bilamana ingin menyempurnakan ke-enam rukun iman, maka jangan sekali-kali ia berlaku buruk sekecil apapun terhadap tetangganya. Dalam riwayat lain, dari Abu Hurairah RA; dikatakan kepada Rasul “Wahai Rasulullah SAW, Fulanah selalu sholat malam dan berpuasa di siang harinya tetapi ia sering mencela tetangganya.” Rasulullah SAW menjawab, “dia masuk neraka.” Sungguh buruk sekali tempat kembalinya bagi siapapun yang mencela tetangga. Mencela dalam arti baik di depan maupun di belakang (ghibah).

Dan juga menjadi taraf seseorang benar-benar muslim, dikatakan pula ; “Dan berbuat baiklah kepada tetanggamu, niscaya engkau menjadi muslim.” (HR Ibnu Majah). Ketika meyakini Islam adalah agama yang benar dan bertuhan esa, maka tersimpanlah keimanan di hatinya. Dan semakin tinggi keimanan seseorang, maka semakin mulia akhlaknya. Dan yang terpenting adalah keluhuran akhlak adalah bukti kesempurnaan imannya; ialah salah satunya dengan satu amal: berbuat baik kepada tetangga.

*

Agar menjadi mulia di mata Allah, ialah yang senantiasa bersih hatinya dan baik amalnya, bukan dari harta ataupun rupa. Dengan bersikap baik kepada tetangga berarti seorang hamba siap menjadi mulia di hadapan Allah. Dan inilah reward dambaan kaum muslimin-muslimat kelak nanti berjumpa dengan Allah.

Sulitkah kita mendapat balasan luar biasa dari Allah lewat jalur memuliakan tetangga?

Untuk menjadi tetangga yang baik memanglah tidak semudah yang diduga, bahkan pernah disakiti atau dijelek-jelekkan. Lalu, bagaimana sikap terbaik kita terhadap tetangga yang buruk perangainya? Hal ini Rasulullah bersabda, “Sebaik-baiknya tetangga adalah yang paling baik terhadap tetangganya.” Sudah sewajarnya bila ingin memperoleh predikat tetangga yang baik, maka jangan lakukan hal-hal yang menyakitinya meski ia berulah duluan, dan balaslah mereka dengan hal yang ma’ruf. Rasulullah menyatakan dalam hadistnya, “Seseorang datang kepada Nabi mengadukan perihal tetangganya kepada beliau. Maka nabi menjawab, tiga kali: bersabarlah.”

 Lantas tidak hanya itu, berkasihlah hadiah kepada tetanggamu lantaran hal itu menumbuhkan rasa cinta dan kasih dalam lingkaran keakrabanmu; “Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian akan saling mencintai.” (HR Muslim). Meski yang dihadapi ialah tetangga yang buruk, janganlah menilai buruk tapi berilah hadiah; dan yakinlah Allah akan meluruhkan keburukannya dan menyemai cinta dan kasih pada tetangganya lewat hadiah yang dipersembahkannya.

Baca Juga  Bahaya Fokus Memperbaiki Diri Sendiri
*

Betapa tidak mudah untuk menjadi tetangga yang baik, di samping kita harus rela dan pasrah untuk menjaga rasa sakit dari perilaku tetangga, tentunya kita pun tidak boleh balas dendam. Sampai-sampai agama pun melarang bagi orang yang menyakiti tetangganya meski seekor anjing miliknya karena yang demikian sama halnya menyakiti tetangganya. (Ayyuha al-Jaar, h. 6),

Dilarang berbuat kikir terhadap tetangganya. “Bukanlah seorang mukmin, orang yang kenyang sementara tetangganya kelaparan berada di sampingnya.” (HR Bukhari). Hal ini menunjukkan untuk selalu dermawan dengan meringankan musibah yang menimpa tetangga, membantunya, dan mendoakannya agar dimudahkan segala urusannya.

Adapun Islam menyuruh agar seorang muslim untuk peka terhadap kondisi tetangga. Jangan mendirikan suatu bangunan yang membuat akses sinar matahari dan angin-angin milik tetangga terhalang sebab bangunan yang kita buat; jangan pula menghalangi jalannya jika hendak lewat; dan segala hak-hak tetangga harus dipenuhi: memberikannya pinjaman, menjenguk bila  ia sakit, mengantarkan jenazahnya, dan memberikannya hadiah.

Sungguh, agama Islam sangat menjunjung tinggi ikatan muamalah antara manusia dengan berakhlak mulia, peduli terhadap sesama, dan berkasih sayang agar memperoleh cinta yang harmonis bagi setiap insan yang bertetangga. Memang tidaklah mudah untuk menciptakan sosok sebagai tetangga yang baik. Bahkan, kita sangatlah jauh dalam berakhlak demikian karena penyakit hati terus menyergap.

Dari sanalah, Allah menguji sesiapa yang hendak menerima kemuliaan, ialah yang rela dalam hatinya untuk menjaga hak-hak tetangga. Ada peribahasa mengatakan;tidak ada batu mulia yang tidak diproses secara ditempa, dibakar, diukir, dijemur, dan diamplas kecuali hasilnya adalah menjadi batu berharga di mata orang-orang yang menjumpainya.

Bagikan
Post tags:
Post a Comment