f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
anak

Lalai Terhadap Anak Bukanlah Sebuah Kekhilafan

Baru-baru ini terjadi peristiwa yang cukup mengiris hati siapa pun yang melihat maupun mendengar. Seakan menggugah nurani setiap insan untuk tidak sembrono dan menyepelekan suatu urusan sekecil apa pun. Tidak hanya untuk seseorang yang disebut sebagai ibu, tetapi bagi semua insan yang masih memiliki rasa kasih dan sayang.

Sebuah tamparan sekaligus pelajaran berharga yang tidak mungkin mudah dilupakan sepanjang hayat. Bisa jadi penyesalan yang teramat dalam bagi si pelaku dan orang-orang di sekitar. Orang-orang yang tak ingin kejadian tragis itu terulang kembali dan menimpa diri dan keluarganya.

Ya, si kecil dua tahun akhirnya tak tertolong setelah lebih setengah jam kecemplung kolam mini. Kolamnya memang mini karena berada di depan rumah tetangga sebagai kolam hias yang dikelilingi tanaman bunga. Ketika sang ibu tengah ngobrol dengan tetangga si empunya rumah, si kecil main-main sendiri. Mungkin karena saking lamanya ngobrol lantaran asik hingga si ibu lupa si kecil tadi berada di mana. Saat sadar dan mencari keberadaan anak, terlambat.

Sosok mungil dua tahun itu sudah terapung di kolam depan rumah yang airnya entah sudah berapa lama tidak diganti. Naas bagi si bocah, dia menghembuskan nafas terakhirnya dengan tragis justru ketika dilarikan ke RS. Hampir semua mata menyalahkan ibu dari bocah karena kelalaian yang dilakukannya didan nyaris tak termaafkan.

Rezeki, jodoh, dan maut memang hanya Allah yang tahu. Namun, sebagai mahluk paling sempurna ciptaan-Nya, kita dikaruniai akal dan pikiran. Juga diberi petunjuk baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Entah itu melalui berbagai kejadian di sekitar atau kejadian-kejadian yang kita dengar dan kita jumpai dari berita-berita di media sosial.

Baca Juga  Biarkan Anak Menemukan Bakatnya Sendiri

Seperti yang masih segar dalam ingatan kita, peristiwa memilukan terjadi di sebuah daycare, tempat penitipan anak. Betapa hancur hati orang tua atas peristiwa penganiayaan tersebut. Bagi pelaku, sudah tidak adakah rasa iba, rasa kasih, terhadap bayi-bayi yang dititipkan? Tidak adakah rasa itu tatkala menatap sorot kepolosan di mata mereka yang belum tahu hiruk pikuk dunia?

Kalau memang sudah nasibnya tertulis demikian maka demikian pula yang terjadi. Pendapat semacam ini tentu keliru dan tidak tepat yang hanya menampakkan kepicikan kita semata. Jika semua berpikiran seperti itu, lalu untuk apa kita ingin mengubah nasib agar menjadi lebih baik? Bukankah kita yakin bahwa Allah tidak akan mengubah nasib seseorang selama orang tersebut tak ada usaha untuk mengubahnya?

Maka, kelalaian yang berujung fatal hendaknya disikapi dengan serius. Apalagi menyangkut keselamatan nyawa manusia. Lalai adalah kurang hati-hati terhadap sesuatu yang dilakukan dengan disengaja. Namun, khilaf lebih pada melakukan sesuatu yang keliru tanpa disengaja. Di luar apakah si ibu itu lalai atau khilaf, sebagian warga sekitar sudah terlanjur menyesali hal ini terjadi.

Seperti cerita di atas, seorang batita merupakan sesosok anak kecil, mungil dan sedang lucu-lucunya. Dia belum tahu apa-apa, belum memahami situasi di sekitar termasuk hal-hal yang membahayakan dirinya. Bocah sekecil itu belum bisa bermain sendiri. Orang tualah yang berkewajiban melindungi, mendampingi tumbuh kembangnya, dan memastikan keselamatan dirinya.

Mungkin di luar sana masih ada beberapa orang tua yang menganggap enteng, sepele, tentang keselamatan mereka, si bocah-bocah mungil. Bocah-bocah itu berhak mendapatkan perlindungan dari keluarga khususnya dan dari lingkungan secara umum. Meskipun bukan orang tuanya, jika mendapati seorang bocah kecil yang diperlakukan cenderung membahayakan, kita berkewajiban ikut melindungi.

Baca Juga  Rumah sebagai Tempat Pedagogi Primer Anak

Melindungi seorang atau beberapa anak yang kebetulan berada di ambang mengkhawatirkan atau membahayakan keadaannya, bukan berarti kita ikut campur dalam setiap urusan rumah tangga orang lain. Namun, lebih pada empati kita pada tetangga atau kerabat yang kebetulan mengalami. Jika bisa dicegah, mengapa tidak? Misalnya, orang tua yang abai sehingga anak-anak tak mampu bertumbuh kembang dengan selayaknya atau sengaja membiarkan mereka tak terurus dengan semestinya.

Anak adalah titipan sekaligus karunia dan ujian. Meskipun itu anak kita, lahir dari rahim kita, tetapi mereka sesungguhnya bukan milik kita. Mereka milik Sang Pencipta. Masihkah kita ragu dengan pengawasan-Nya saat memperlakukan mereka yang telah Dia titipkan pada kita? Apakah hanya karena masih kecil, masih bayi, atau bahkan sebelum lahir pun lantas dengan gampang dan semena-mena kita abai dengan keberadaannya? Tentu tidak ‘kan?

Bila kita mau merenung sejenak, tidak setiap rahim seorang perempuan diberi izin Allah sebagai tempat  tumbuh kembang para calon generasi penerus. Selain rasa syukur atas nikmatnya “dititipi”, ada pula rasa bahagia yang menyertai. Salah satu wujud syukur adalah siap lahir batin di segala keadaan atas titipan-Nya dan hal ini merupakan keharusan. Menjadi sangat penting karena yakin kelak dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya.

Bagikan
Comments
  • Heru

    Tulisan yang mudah dicerna dan dipahami. Tulisan juga sangat menginspirasi. Terima kasih banyak Ibu Wurry Srie

    Oktober 30, 2024
  • Wurry Srie

    Terima kasih kembali, sudah menyimak.🙏

    November 9, 2024
Post a Comment