f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
konflik anak dan orang tua

Meminimalisir Konflik Anak dan Orang Tua Jelang PPDB

Kerap kali konflik anak dan orang tua muncul menjelang PPDB (Penerimaan Peserta Didik baru). Ribuan informasi tentang pilihan sekolah yang terpapar di genggaman ponsel pintar bukannya memudahkan, justru bikin pusing pala barbie.

Anak yang merasa sudah dewasa dan mengantongi sejumlah informasi, menuntut haknya untuk membuat keputusan secara mandiri. Jiwa remajanya meletup-letup, dikompori bujuk rayu teman untuk memilih sekolah tertentu.

Di sisi lain, orang tua merasa punya segudang pertimbangan untuk dijadikan acuan. Ketersediaan dana, lokasi, lingkungan, dan nilai religius yang diterapkan di sekolah patut masuk dalam daftar kriteria sekolah pilihan.

Sementara, sekolah negeri dan swasta bersaing ketat mempercantik kualinya. Ya, ibarat kuali,  input siswa yang baru masuk digodhok di kuali selama kurang lebih 3 tahun.

Di dalam kuali, bahan mentah berwujud peserta didik baru diolah dengan program intrakurikuler dan ekstranya. Bahan-bahan dasar dan tambahan apa yang dibubuhkan.

Bagaimana higienitas pengolahannya, kualitas kuali dan bahan bakar kompornya bagaimana. Chefnya seperti apa. Dan banyak hal lain sengaja dikondisikan untuk “memasak” anak-anak Anda.

Elemen tersebut yang akan menentukan anak-anak menjadi santapan siap saji yang seperti apa. Apakah level warteg atau sajian mewah restoran bintang lima. Kuali panas macam  apa  yang Anda rela untuk menyemplungkan anak kesayangan di dalamnya? Hehehe. Makanya hal ini tak bisa dianggap sepele.

Nah, permasalahannya bagaimana langkah memilih sekolah yang tepat untuk anak-anak tanpa konflik? Ketidak seragaman visi bisa berujung cek cok panas. Ujung-ujungnya saling emosi, berakhir pengambilan keputusan spontan yang malah tak logis. Walah jangan sampai ini terjadi.

Sebagai orang tua, hal pertama yang harus Anda lakukan adalah tentukan pilihan dahulu berdasarkan kriteria yang Anda prioritaskan. Langkahnya, kenali dulu sumber daya Anda. Budget yang tersedia sebesar apa. Sah-sah saja berprinsip, ”Kalau untuk anak, rejeki pasti ada.” Tapi harus tetap realistis.

Baca Juga  Menggelorakan Semangat Berbagi Sejak Dini pada Anak

Jika kondisi sekarang cukup untuk mengenyam pendidikan di sekolah negeri, ya sekolahkan di negeri. Jangan paksakan mendaftar di sekolah swasta yang kadang memang bagus namun costnya juga tidak main-main.

Jer basuki mawa bea boleh jadi pedoman. Tapi tetap realistis ya. Jangan tergoda gengsi. Anak tetangga belajar di sekolah bergengsi. Biar saja. Toh masa depannya bagaimana kan kita belum tahu.

Selanjutnya kenali karakteristik anak Anda. Rekomendasi peminatan dari guru BK sangat membantu. Apakah dia masih menyimpan stok semangat balajar keilmuan dalam jangka panjang? Jika ya, maka SMA atau Madrasah Aliyah bisa jadi pilihan. Tentu selanjutnya diprospek untuk melanjutkan ke perguruan Tinggi.

Bilamana anak Anda lebih senang praktik dan potensinya sudah tampak di bidang tertentu, titipkan di kuali SMK. Why not? Sekarang banyak SMK negeri dan swasta yang sangat berkualitas. Bahkan menjajikan kontrak kerjasama dengan perusahaan-perusahaan besar. Lulus SMK, langsung direkrut perusahaan. Menggiurkan sekali, bukan?

Atau Anda ingin mencetak pribadi tangguh? Sama seperti orang tuanya? Pondok pesantren dan sekolah kedinasan dengan nuansa disiplin militer sangat dianjurkan. Banyak life skill yang kadang tak diajarkan di sekolah reguler pada umumnya. Di kuali ini, anak akan ditempa fisik dan mentalnya untuk tumbuh menjadi pribadi kuat, mandiri, tahan banting, bermakna bagi sesama, namun tetap rendah hati. Tawadhu’. Anda berani? Lanjuut. No pain no gain.

Permasalahan lokasi, kredibilitas sekolah, kualitas pengajar dan program ekstra yang sekolah tawarkan bisa kita intip di website, sosmed atau obrolan masyarakat luas.

Tak bisa dipungkiri kan, seobjektif-objektifnya kita, kadang omongan tetangga bisa lebih ngaruh dibanding data valid dari sumber terpercaya.

Menyikapi hal itu, ambil sisi positifnya saja. Jikalau pernah ada kasus yang terjadi di sekolah yang sudah yakin anda tuju, dan itu sedikit menggoyahkan pendirian Anda, abaikan. Fokus pada sisi positifnya.  Bukankah kasuistik bisa terjadi di mana saja, kapan saja dan menimpa siapa saja.

Baca Juga  Parenting Moralitas Anak sejak Dini Memengaruhi Pola Pertumbuhan Anak

Lantas bagaimana menyamakan visi dengan anak jika pilihan jatuh pada sekolah yang berbeda?

Pertama jika anda merasa pilihan Anda sudah sangat tepat berdasar data akurat dan hasil istikharah, komunikasikan baik-baik. Jika Anda tak mahir menyampaikan pesan, minta bantuan orang yang cukup dekat dan berpengaruh pada anak Anda.

Di sini saya ada sedikit cerita. Dahulu ketika lulus MAN, saya bingung mau kuliah di mana, mengambil jurusan apa. Melanjutkan studi mengikuti pujaan hati, terlalu jauh. Kuliah dekat, dosennya sama dengan pengajar di MAN. Kebetulan mayoritas ustaz tempat saya sekolah, juga dosen di Universitas Islam yang kemungkinan besar akan saya sasar.

Akhirnya Bapak nyeletuk untuk ambil psikologi saja. Umum, prospeknya bagus, kemungkinan dosennya beda. Awalnya saya ogah-ogahan menimba ilmu. Yang membuat saya termotivasi hanya kegiatan UKM saja. Tapi siapa sangka ndilalah dari jurusan itu yang mengantarkan kesuksesan saya menjadi guru BK sejak lulus hingga sekarang. Alhamdulillah. Rejeki anak tawadhu’ katanya. Hehehe.

Poin lain tak kalah penting, jika Anda paham tipikal anak Anda keras, jangan coba-coba memaksakan kehendak. Khawatirnya malah terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan. Fisiknya anak belajar di sekolah, tapi psikisnya meronta, siapa yang tahu?

Berangkat sekolah karena paksaan dan tekanan, bisa-bisa munculnya malah perilaku maladaptif. Melenceng dari jalur. Urakan, tawur, bolos, membangkang, narkoba. Atau ada sebagian yang menunjukkan protesnya dengan mengurung diri, self injury, ­atau resiko paling parah bundir. Na’udzubillah.

Bukan tak mungkin hal itu terjadi. Pengalaman saya sebagai guru, ada siswa melakukan self injury karena bosan didikte!

Intinya komunikasikan baik-baik. Jika argument anak-anak masih masuk akal, tak ada salahnya mengikuti keputusannya. Beri dukungan sepenuhnya agar anak merasa dihargai. Dimanusiakan. Bukankah mereka copy paste dari kita?

Baca Juga  Kebiasaan Berutang, Kebutuhan atau Keinginan?

Seperti kata James Baldwin. Anak-anak memang tidak pernah bagus di bidang mendengarkan orang yang lebih tua, namun mereka tidak pernah gagal untuk meniru mereka.

Jangan terlalu bersikeras dengan satu opsi saja. Jika kita sudah mengupayakan, namun hasil tak sesuai ekspektasi, artinya Tuhan punya rencana lain yang kita belum paham bahwa itulah yang terbaik.

Satu cerita lagi saya ambil dari pengalaman mengajar. Dahulu ada siswa terpaksa dikembalikan lagi ke orangtua karena tersangkut masalah tata tertib sekolah. Dia pindah ke sekolah swasta yang entah. Kisaran setahun kemudian, kami bertemu di hall hotel. Pada acara bergengsi yang hanya dihadiri oleh waka kesiswaan dan 2 orang pengurus OSIS inti. Dan dia ada di sana!!

Ya. Di sekolah lama bisa saja siswa itu tak ada artinya. Sampah. Bermasalah. Tapi di sekolah lain, dia justru bisa berkembang. Mencuat. Ingat, Tuhan Maha Baik.

Jadi, niatkan untuk kebaikan, ikhtiar, pasrah pada ketetapanNya. Sudah. Selamat mengantar calon pemimpin bangsa ya.

Bagikan
Comments
Post a Comment