f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
berbagi sejak dini

Menggelorakan Semangat Berbagi Sejak Dini pada Anak

Salah satu value penting yang harus diinjeksikan dalam dunia parenting untuk anak usia dini (Balita) adalah menanamkan empati yang diterjemahkan berupa aktifitas berbagi. Hal ini menjadi pondasi penting dalam upaya membekali ananda soft skill untuk berdampingan dengan masyarakat secara rukun dan kekeluargaan.

Kendati demikian, lazimnya dalam perkembangan anak memang ada satu tahapan yang didominasi oleh sifat egois dan rasa ke-aku-an yang tinggi. Hal ini senada dengan studi yang dirilis di Nature Communications; seorang anak baru mulai bisa berempati atau menempatkan dirinya di posisi orang lain setelah ia menginjak usia 4 tahun. Para peneliti dari Institut Max Planck untuk Kognitif Manusia dan Ilmu Otak (MPI CBS) di Leipzig dan di Universitas Leiden mengatakan bahwa kesadaran sosial semacam ini berasal dari pematangan koneksi serat kritis di otak, yang sebenarnya tidak terjadi sampai usia 4 tahun.

Maka term yang digunakan adalah ‘menanamkan’ rasa empati melalui kesediaannya untuk berbagi dengan temannya. Karena pada prinsipnya orang tua menjadi fasilitor dalam mendampingi ananda bertumbuh dan kembang khususnya dalam menerima, memahami dan menunjukkan kesediaan sikap berbaginya. Karena memang tidak bisa instan, perlahan-lahan untuk membangunkan kesadaran kritisnya supaya bersedia berbagi tanpa paksaan.

*

Membahasakan secara mudah tentang berbagi ke anak balita salah satunya adalah dengan memahamkan pada mereka bahwa aktifitas berbagi merupakan salah satu hal agar mereka (ananda) disukai oleh teman-temannya. Saat mereka dewasa nanti dapat menjadikan mereka manusia yang bermanfaat untuk orang lain. “Khoirun Naas, Anfa’uhum Linnas” bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk manusia lainnya. Sehingga tidak ada yang lebih membahagiakan diri sendiri selain bisa berbagi dengan yang lain.

Baca Juga  Agar Anak yang Diantar Ke Pondok Tidak Merengek Minta Pulang

Satu hal penting yang wajib diingat oleh para orang tua adalah sejatinya semangat berbagi itu menular, sehingga tidak sulit untuk menanamkan pada anak kita untuk terbiasa empati dan berbagi ke sesama. Asal si orang tua juga tiada lelah dalam memberi teldan dan mengajaknya langsung praktek berbagi dalam momen-momen tertentu secara ajeg.

Salah satu hal yang bisa menjadi pelecut orangtua maupun sebagai bahan memahamkan ke anak-anak yang termaktub dalam sebuah hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan dari Hakîm bin Hizâm Radhiyallahu anhu, dari Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah. Dan mulailah dari orang yang menjadi tanggunganmu. Dan sebaik-sebaik sedekah adalah yang dikeluarkan dari orang yang tidak membutuhkannya. Barangsiapa menjaga kehormatan dirinya maka Allâh akan menjaganya dan barangsiapa yang merasa cukup maka Allâh akan memberikan kecukupan kepadanya.”

Sehingga dengan bermodal niat yang kuat dan amunisi yang banyak serta berkualitas akan memudahkan orang tua dalam menjadikan anaknya gemar berbagi ke sesama.

Startegi untuk Mengakrabkan dan Menanamkan Rasa Peduli pada Anak
  1. Sesering mungkin untuk memperlihatkan ke Ananda bahwa orang tuanya adalah pribadi-pribadi yang pemurah dan dermawan. Bahkan saat menjalani rutinitas kegiatan yang dilaksanakan secara bersama di rumah; misalnya saat makan bersama, seseringlah berbagi makanan ke pasangan dan anak, sesekali biarkan anak melihat saat orangtua memberikan sumbangan untuk korban bencana alam maupun donasi lainnya di jalan maupun di luar rumah lainnya. Biarkan sesekali anak kita beri kepercayaan untuk memberikan secara langsung uang donasi nya ke pihak pengumpul maupun ke pemintanya sendiri. Bahkan minimal satu tahun 2-3 kali ananda diajak ke panti asuhan untuk melihat anak yatim piatu; sembari berbagi rizki ke mereka dalam upaya memanggil dan melatih empati mereka. 
  2. Menyampaikan dan memberi penjelasan ke ananda bahwa aktivitas berbagi merupakan kegiatan sebagai ekspresi cinta kita sesama manusia. Sehingga melalui aktivitas berbagi ini akan membuat kita pun disenangi oleh banyak orang juga. Karena sejatinya manusia adalah makhluk sosial, yang mana dalam hidupnya pasti membutuhkan satu dengan yang lain. Segingga mereka kudu paham bahwa orang lain juga banyak membantu dan berbagi dengan kita.
  3. Selain itu, sampaikan juga pada Ananda, bahwa berbagi itu sebagai bentuk ungkapan syukur kepada Allah SWT atas segala nikmatNya baik atas kelebihan rizki, umur yang panjang khususnya nikmat sehat. Ungkapan syukur tersebut kemudian diaktualisasikan melalui kegiatan berbagi kepada teman khususnya orang-orang yang membutuhkan.
  4. Berikan waktu sejenak pada si Ananda untuk legowo berbagi dengan temannya. Karena biasanya mereka susah untuk secara langsung mau berbagi, terlebih jika harus membagi makanan maupun mainan kesukaannya pada temannya. Maka just flow it, berikan dia waktu beberapa saat sampai mereka mau melepaskan mainannya maupun membagi makanannya.
  5. Saat mereka sudah berhasil lolos dari ego untuk tidak berbaginya, maka berikan apresiapi atas usahanya keluar dari mental block-nya. Sehingga apresiasi tersebut bisa menstimulus Ananda untuk belajar berbagi ke temannya.
  6. Selanjutnya, sebagai orangtua, tanamkan pada diri kita bahwa sejatinya tidak ada istilah anak pelit atau anak egois. Anak-anak kita hanyalah belum memahami. Jadi, tidak perlu kecewa karena anak-anak kita akan terus berkembang baik fisik maupun psikisnya. Maka jadilan oase terbaik untuk tempat belajar dan berpulang anak-anak kita.
Baca Juga  Pentingnya Belajar Kelola Emosi di Usia Dini
*

Hal-hal lain yang perlu menjadi catatan orang tua dalam memahamkan dan melatih berbagi pada anak-anak adalah batasan barang-barang mana saja yang boleh maupun barang-barang mana saja yang tidak boleh dibagi ke temannya demi kemashlahatan bersama. Salah satunya karena barang-barang tersebut bersifat pribadi, sehingga Ketika barang tersebut dibagi ke temannya berpotensi menularkan penyakit hingga membahayakan temannya. Misalnya celana dalam ataupun sikat gigi. Semoga Bermanfaat. Wallahu A’lam!

Bagikan
Post a Comment