Masalah Keluarga Sebagai Pemicu Self Harm pada Anak
Keadaan keluarga yang sudah tidak utuh, ucapan orang luar menjadi luka yang sangat menyakitkan, kehampaan hidup, dan berbagai perasaan negatif yang sangat sulit dimusnahkan. Ketidakpercayaan dengan pandangan bahwa semua orang itu sama saja, itulah yang dirasakan seorang anak broken home.
“Menyayat lengan menggunakan benda tajam berupa lempengan baja kecil tipis dan bermata dua adalah hal yang biasa saya lakukan kan dan itu tidak berasa sakit sama sekali, justru melegakan dan membuat saya lebih tenang”, ucap teman saya.
Ya, saya mempunyai teman yang memiliki gangguan mental berupa self harm. Menjadi salah satu anak dengan segala masalah yang ada, itulah alasan dia melakukan self harm.
Apakah self harm itu termasuk gangguan mental? Perilaku menyakiti diri ini termasuk bentuk gangguan perilaku yang terkait dengan berbagai penyakit mental.
Dia dengan sengaja melukai tangannya untuk menyalurkan dan meluapkan segala emosi yang dia rasakan saat itu juga dengan cara seperti itu. Dia bukan teman sekolah, bukan teman dekat rumah, tetapi saya nilai dia baik dari sisi lain selain gangguan mental yang dia miliki.
***
Bergurau, bercerita pada umumnya seperti dia baik-baik saja dengan segala senyum, tawa, dan senda gurau yang dia lontarkan. Namun, semuanya adalah kebohongan yang dibuatnya untuk menutupi semua masalah dan kesedihannya.
Hingga tiba akhirnya, dia terbuka tentang keadaannya. Namun, saat itu saya masih belum mengetahui bahwa dia melakukan self harm. Pertama yang dia ceritakan adalah keluarganya. ‘Broken-Home’, istilah yang langsung terngiang di kepala saya bahwa dia sedang tidak baik-baik saja.
Di mana dia adalah anak sulung laki-laki yang harus menahan dan menopang serta menguatkan ibunya. Ya, dia tinggal dan ikut ibunya setelah orang tuanya berpisah bersama dua adiknya. Pada saat itu saya langsung berkata “Saya harus bisa menjadi teman yang paling baik untuknya”.
Lambat laun dia mulai bercerita tentang self harm yang biasa dia lakukan. Saya terkejut, saya tidak ada berpikiran bahwa seorang anak broken home sedikit bahkan banyak mungkin yang melakukan hal seperti itu.
Berawal kala malam itu dia mengirimkan foto tangan yang tersayat dan mengeluarkan secercah cairan merah segar. Di situ saya tidak percaya dan masih mengira itu foto tipuan. Namun, dia mulai menceritakan kepada saya tentang apa yang terjadi. Itu pertama kali saya lihat hal seperti itu dan saya takut, bingung akan berbuat apa.
Waktu itu saya cuma bisa mengatakan “Udah, stop. memang tidak sakitkah?”, kemudian dengan santainya dia menjawab “Tidak”.
Bahkan ia berkata “Ini belum seberapa, cuma beberapa sayatan saja, karena dulu pernah satu lengan saya sayat dan besoknya saya pakai baju lengan panjang setiap hari agar tidak diketahui orang rumah”. Di situ saya langsung kaget.
***
Malam itulah saya mulai mengetahui apa yang sedang terjadi, kala malam itu dia mulai terbuka untuk berbagi dan menceritakan masalah yang sedang ia hadapi. Cukup syok tetapi saya mencoba memahaminya.
Mulai dari masalah keluarga, ayahnya yang sudah tidak bertanggung jawab dan ibunyalah yang menanggung semua itu. Menyekolahkan dia berserta dua adiknya dengan susah payah. Dia juga membantu ibunya bekerja dengan status dia seorang mahasiswa yang berkuliah di salah satu perguruan tinggi.
Rasa capai, kesal, menyesal dan tidak bisa apa-apa, dipaksa untuk diam dan menelan masalah tanpa bisa berpendapat itulah yang setiap saat dirasakannya. Ketika puncak kecapaian di mana dia bekerja sambil kuliah dan menampung segala rasa yang mungkin sangat berat, mulailah dia melakukan self harm.
Dia pernah berkata, “Saya capek dengan yang namanya manusia, semuanya sama, entah keluarga, percintaan, pertemanan, sahabat pun semua sama”. Di situlah saya bisa merasakan bahwa dia merasa sangat sendiri padahal banyak sekali orang-orang yang care dengannya.
‘Anak broken home’ mungkin itu julukan yang menjadi alasan dia memiliki pribadi seperti itu. Terjadinya broken home menjadikan anak kurang percaya diri, kurang kasih sayang, insecurity, kebencian pada orang tua hingga gangguan mental seperti yang terjadi oleh teman saya sendiri.
Pemarah, pemberontak, emosian karena di dalam dirinya terselimuti rasa bersalah, kebencian yang amat sangat besar, padahal ada sisi hatinya yang sangat lembut. Namun, semua tertutupi dengan semua perasaan negatif itu.
Dia melakukan self harm merasa bahwa dengan melukai dirinya sendiri itu dapat melepaskan rasa emosi negatifnya, seperti perasaan cemas, depresi, marah, perasaan bersalah atau sedih yang ia pendam.
Karena ketidaktahuan diri mengenai bagaimana cara mengatasi rasa emosi negatifnya, kurangnya pemahaman tentang emosi yang dia rasakan, kesulitan mengekspresikan emosi membuat individu tersebut akhirnya melakukan self harm dan menjadikannya sebagai jalan keluar. Menjadi pendengar yang baik mungkin itu jalan keluar agar bisa melegakan dirinya, walaupun sangat kecil kemungkinannya.
**
Hal seperti ini sangat berharga bagi saya untuk belajar memahami kehidupan seseorang. Belajar menghargai dan menjadi pribadi yang selalu bersyukur dengan keadaan saya sekarang.
Mungkin di luar sana banyak sekali terjadi yang tersebut bukan hanya teman saya saja yang mengalami broken home hingga self harm. Namun, cukup dari cerita-ceritanya yang membuka mata saya berpandangan lebih luas ke dunia luar.
“Jangan biarkan masa lalumu menghambat mimpi dan cita-citamu. Ingatlah bahwa broken home bukan berarti broken dream”. Semangat kepada para pejuang Self Harm untuk bisa belajar lepas dari kebiasan yang kurang baik itu.
