Pendidikan Bagi Wanita, Mengapa Penting?
“Cewek gak perlu sekolah tinggi-tinggi, toh ujungnya bakal balik ke dapur”
“Cewek jangan sekolah tinggi-tinggi nanti laki-laki minder”
Pernahkah Rahmania mendengar kalimat seperti itu? Saya yakin masih banyak di antara kalian yang pernah mendengarnya atau bahkan tanpa sadar kalian juga pernah mengucapkannya. Di kalangan masyarakat Indonesia masih menganggap tabu wanita berpendidikan, terutama di daerah-daerah tertinggal atau daerah terpencil. Masih banyak masyarakat Indonesia yang berpikir tidak ada gunanya wanita berpendidikan, karena kodrat wanita hanyalah 3M (Masak, Macak, Manak).
Munculnya anggapan jika pendidikan tidak penting, karena sekolah tidak mengajarkan seorang wanita untuk mengurus kebutuhan rumah seperti menyapu, mengepel, mencuci, memasak, dan lain sebagainya. Di sisi lain, wanita dilarang berpendidikan tinggi sebab takut jika laki-laki yang kelak akan mendampinginya merasa minder. Sungguh miris bukan? Tapi inilah realitasnya.
“Bukankah pendidikan adalah hak semua orang?”.
Itu adalah kalimat yang sering muncul di kepala saya tatkala disindir soal perempuan berpendidikan tinggi. Saya sebagai perempuan merasa bahwa tidaklah adil apabila hanya laki-laki yang boleh mendapatkan pendidikan tinggi sementara wanita tidak. Bukankah memiliki mimpi dan cita-cita adalah hak bagi semua orang?
Lalu bagaimana jika mimpi seorang wanita adalah menjadi wanita yang sukses dalam pendidikan atau menjadi wanita karier yang memerlukan pendidikan tinggi seperti menjadi dosen, pengusaha kelas atas, atau bahkan ilmuwan? Dengan membatasi pendidikan, apakah itu artinya seorang wanita tidak diperbolehkan menggapai mimpinya?
Pendidikan untuk Menjadi Manusia Berkualitas
Mengenai larangan perempuan berpendidikan tinggi sebab menjaga perasaan laki-laki agar tidak minder, apakah itu juga merupakan kewajiban seorang wanita? Bukankah urusan minder atau tidak percaya diri adalah urusan hati tiap-tiap individu? Bukankah seharusnya mereka, para laki-laki juga mengejar pendidikan yang tinggi agar tidak merasa minder? Kenapa harus wanita yang bertanggung jawab akan perasaan tersebut?
Sebagai seorang wanita yang hidup di tengah masyarakat yang belum terlalu melek soal sekolah membuat pertanyaan-pertanyaan atau lebih tepatnya sindiran mengenai wanita tidak perlu berpendidikan tinggi tidak lagi asing di telinga saya. Saat saya memutuskan untuk melanjutkan pembelajaran ke jenjang selanjutnya setelah lulus dari Sekolah Menengah Atas, banyak tetangga yang menyayangkan karena saya lebih memilih melanjutkan pembelajaran daripada bekerja kemudian menikah. Saya selalu berpikir apa salahnya melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi? Bukankah seharusnya mereka bangga? Namun lambat laun saya sadar bahwa bukan melanjutkan pendidikan yang salah, tetapi stigma masyarakat mengenai wanita berpendidikan tinggi itu yang salah.
Menjawab mengenai pertanyaan-pertanyaan tentang pentingnya pendidikan bagi wanita atau seberapa penting pendidikan bagi seorang wanita, sebagai seorang wanita yang sedang menempuh pendidikan, saya memandang bahwa implementasi pendidikan tidak hanya untuk menjadi seseorang yang berprestasi atau memiliki karier yang cemerlang lewat pendidikan. Lebih dari itu, pendidikan membentuk pola pikir baru yang mampu menjadikan manusia lebih berkualitas. Pola pikir ini tidak hanya sekedar untuk memecahkan setiap soal-soal matematika atau soal sains lainnya, namun bermanfaat dalam setiap lini kehidupan.
****
Pola pikir yang terbentuk pada orang yang memiliki pendidikan tinggi akan berbeda dengan orang yang tidak berpendidikan tinggi. Mengapa hal itu bisa terjadi? Lingkungan dan masalah-masalah yang dihadapi di lingkungan pendidikan tentu akan berbeda dengan permasalahan yang dihadapi di luar lingkungan pendidikan, artinya semakin tinggi pendidikan yang ditempuh maka pandangan dan permasalahan-permasalahan yang dihadapi di lingkungan pendidikan akan semakin kompleks. Dengan adanya perbedaan permasalahan tersebut akan membuat terbentuknya cara berpikir baru yang akan membentuk solusi-solusi permasalahan yang baru yang mungkin jauh lebih efektif. Selain itu, dari pola pikir yang berkualitas tersebut akan timbul karakteristik dan sikap yang berkualitas pula.
Karakteristik yang berkualitas akan membentuk pribadi yang berkualitas pula. Keseimbangan antara pola pikir yang berkualitas dan karakteristik yang berkualitas akan membentuk manusia yang memiliki akal, sikap, dan etika moral yang baik. Sebagai contoh seseorang yang berpendidikan ketika mengalami permasalahan dengan suatu pihak akan melakukan analisis terhadap permasalahan terlebih dahulu dan memandang permasalahan tersebut dari segala sisi hingga menemukan solusi permasalahan yang paling efektif tanpa perlu koar-koar menjelekkan salah satu pihak yang bermasalah. Dari kejadian tersebut akan tercermin bahwa pendidikan akan membentuk manusia yang lebih bijak dan berkualitas.
Kemudian berbicara soal larangan wanita berpendidikan tinggi agar laki-laki tidak merasa minder. Bukankah itu aneh? Seorang laki-laki tidak seharusnya minder akan hal tersebut. Selain itu, jika nanti menjadi ibu, akan jauh lebih baik apabila ia dapat menjadi ibu yang baik dan berkualitas dalam mendidik anaknya.
Jadi, masihkah berpikir bahwa pendidikan tidaklah penting bagi wanita?
Editor: Ahmad Murtaza MZ
