f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
ketenangan

Ketenangan yang Mahal

Hari-hari ini ketenangan seolah sesuatu yang mahal. Mahal dalam arti susah di dapat dan susah dimiliki. Sepertinya semakin banyak saja orang-orang yang tidak memiliki hati yang tenang. Ketenangan memang bersumber dari hati yang tenang.

Musibah yang datang sungguh beruntun pandemi Covid-19 juga belum menunjukkan akan berakhir, sekarang musibah dari ‘kemurkaan’ alam beruntun hadir. Banjir, longsor, serta gempa bumi. Begitupun musibah berupa kecelakaan. Kecelakaan yang dialami Sriwijaya Air seolah melengkapi kecelakaan-kecelakaan di darat yang kerap terjadi di jalan tol.

Yang paling membuat miris adalah musibah akibat dari orang-orang yang berhati mati. Demi nafsunya untuk menguasai harta orang lain, lewat menjambret, membegal, merampok, mencuri, tak segan mereka mengayunkan samurai, menusukkan pisau untuk melukai korbannya.

***

Musibah memang bagian dari skenario Allah Swt. Namun, tetap saja hati ini gelisah, tidak tenang menghadapi kenyataan hidup seperti sekarang ini. Di mana kejadian yang tidak diharapkan bisa terjadi kapan saja. Setidaknya itu yang saya rasakan. Dan itu pula yang membuat saya menulis ini.

Sebagai seorang Muslim saya selalu mentadaburi al-Qur’an untuk mencari solusi dari setiap persoalan. Karena saya yakin, al-Qur’an yang menjadi way of life atau petunjuk hidup, tentu mempunyai informasi untuk melakukan sesuatu.

Dan, berkaitan dengan ketenangan yang mahal ini, saya menemukan satu ayat dalam al-Qur’an yang memberikan solusi supaya hati menjadi tenang. Ayat itu ada di surat ar-Ra’du.

“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’du: 28)

Ayat ini menyebutkan bahwa untuk mencapai ketenangan hati adalah dengan berzikir. Terus terang, bagi saya sendiri ayat ini masih ‘abstrak’, maksudnya belum langsung memahami bahwa hanya dengan zikir, hati langsung merasa tenang.

Baca Juga  Mental Healing pada Mahasiswa Semester Akhir: Tips Meredakan Kecemasan Antisipatori

Saya pun terus ‘mencari’ makna yang dikandung dalam ayat 28 surat ar-Ra’du di atas. Melalui beberapa kitab tafsir dan kitab-kitab hadits dan tentu bertanya ke orang-orang yang saya anggap guru. Dan juga, semoga ada pembaca yang memberi pencerahan tentang ini.

Zikir Membuat Hati Menjadi Tenang

Makna zikir secara bahasa adalah mengingat. Mengingat Allah swt. Lalu, dalam upaya pencarian itu saya mengingat nama-nama Allah Swt. yang disebut Asma ul-Husna. Dari 99 Asma ul-Husna itu, saya mengingat setidaknya 2 asma atau nama Allah Swt. yaitu al-‘Aliim (Yang Maha Mengetahui), dan al-‘Adil (Yang Mahaadil), yang saya hubungkan dengan ‘membuat hati menjadi tenang’.

Maksudnya bagaimana?

Pertama, Allah Maha Mengetahui (al-‘Aliim). Apa pun yang terjadi di dunia ini, tidak ada satu pun yang luput dari pengawasan Allah Swt. Yang telah terjadi maupun yang akan terjadi, semuanya diketahui-Nya. Termasuk apa yang akan terjadi pada diri kita, besok, lusa, bulan depan, atau tahun depan. Termasuk apa yang terjadi pada kita, pasca kita mengalami suatu musibah.

Kedua, Allah Mahaadil (al-‘Adil). Pengertian adil secara umum adalah ‘menempatkan sesuatu pada tempatnya’. Jadi, Allah akan menentukan sesuatu yang terjadi kepada kita itu sudah sesuai tempatnya. Sudah sesuai dengan kondisi kita. Lawan kata adil adalah zalim, artinya Allah Swt tidak mungkin berbuat zalim kepada hamba-Nya. Mustahi menimpakan sesuatu yang merugikan.

Sementara itu yang saya temukan. Saya selalu mengingat kedua nama (sifat) Allah Swt tersebut saat ada sesuatu yang menimpa saya. Tentu yang saya anggap musibah, dan dengan mengingatnya serta memahaminya sebagaimana uraian di atas, hati saya menjadi lebih tenang.

Misal, saat saya kehilangan sepeda motor. Saya mengingat Allah sebagai al-‘Aliim (Maha Mengetahui). Dia pasti tahu apa yang akan terjadi terhadap saya pasca saya kehilangan sepeda motor. Selanjutnya saya mengingat Allah sebagai al-Adil (Yang Mahaadil). Dia pasti menimpakan itu (kehilangan sepeda motor) sudah sesuai dengan kondisi saya. Dan Dia tidak akan berbuat zalim kepada saya, dengan membuat saya menderita pasca kehilangan sepeda motor.

Baca Juga  Menyelami Cinta Mencari Makna

Begitupun untuk kejadian-kejadian lainnya. Dengan mengingat dan memahami, membuat hati saya lebih tenang. Itu pemahaman saya terhadap ayat yang menyatakan ‘dengan berzikir hati akan menjadi tenang’. Tentu saja, saya tidak akan berhenti untuk mencari tafsir yang lain, untuk menguatkan pemahaman saya.

****

Dan, ketenangan hati yang saya maksud dengan mengingat dua nama Allah di atas, adalah bersifat personal. Perseorangan. Bukan dalam konteks musibah yang menimpa banyak korban. Karena musibah yang memakan banyak korban banyak, misalnya banjir atau tanah longsor, itu memahaminya lain, karena musibah seperti itu bisa merupakan azab dari Allah, atau bisa juga merupakan ujian dari Allah. Jadi pembahasannya yang berbeda.

Namun, saat kejadian musibah besar itu, bisa saja secara personal seorang korban menggunakan pemahaman yang saya uraikan di atas. Contohnya, saat terjadi musibah bajir. Masing-masing korban bisa berkontemplasi dengan mengingat dan memahami dua nama Allah di atas, sehingga dapat membuat hatinya lebih tenang.

Wallahu ‘alam.

Bagikan
Post tags:
Post a Comment