Menyelami Cinta Mencari Makna
Bulan Ramadan yang identik dengan ritual keagamaan, sebagai seorang muslim berkewajiban dalam berpuasa dan amalan lainnya. Tapi perlu kita ketahui, apakah Ramadan ini sebagai bentuk kebiasaan ritual semata ? Apakah dalam rangka mencari keridaan Allah Swt.?
Dalam keseharian seorang muslim di Indonesia kuat akan adat istiadat dan kebudayaan yang melekat yang mayoritas agama muslim. Sebagai peluang seorang muslim untuk mudah dalam beribadah dan beramal tapi tidak hanya sebatas bentuk fisik yang terlihat perlunya beribadah bantin ruhaniyyah.
Bukankah terdapat dalam surah Al Mulk Ayat 3 yang artinya: “(Dan Rahasiakanlah) hai manusia (perkataan kalian atau lahirkanlah ia ) yakni Allah SWT yang maha Mengetaui segala isi hati apa yang tersimpan di dalam kalbu dan apa yang kalian ucapkan”. Segala isi hati manusia Allah mengetahui niat dan amal yang ia lakukan.
Menyelami cinta atau dengan kata lain mahabbah dalam konsep tasawuf yaitu rasa cinta kepada Allah Swt. dan makhluk-makhluk-Nya. Dengan ini, manusia akan meraih rida Allah dan dimasukkan ke surga-Nya. Ada kata “meraih rida” pasti bertanya-tanya kenapa rida-Nya mengantarkan ke surga bukankah amalan ibadah?
Seseorang yang telah memiliki keimanan yang tinggi dalam dalam setiap langkahnya akan selalu berharap pada keridaan Allah Swt. Karena meraih keridaan Allah Swt. merupakan tujuan tertinggi dan teragung, bahkan menjadi salah satu jalan agar digolongkan sebagai penghuni surga. Sebagaimana Allah Swt. berfirman dalam surah At-Taubah 72 yang artinya : “Dan Keridhaan Allah adalah lebih besar, itu adalah keberuntungan besar”.
Dalam mendapatkan keridaan Allah Swt. ada banyak amalan yang dilakukan. Hal yang sangat mudah adalah menyatakan keteguhan diri dalam beriman beriringan niat apa yang diperbuat lillah. Hadis riwayat muslim yang artinya : “Iman adalah bahwa kamu beriman kepada Allah dan malaikat-Nya, segala kitab-Nya dan rasul-Nya dan hari akhir serta kamu beriman qada dan qadar baik dan buruk”.
Bahwasanya kita sebagai seorang muslim perlu akan mendalami ilmu syar’i agar rasa keimanan semakin mendalam seperti mengetahui bagaimana cara beriman dan mengetahui apa aja yang perlu kita imani, karena seorang semakin tinggi ilmunya akan semakin tunduk. Tunduk di sini maksudnya lebih mendekatkan diri dengan Allah Swt. dengan amalan-amalan beribadah dan amalannya.
Beribadah yang Khusyuk
Khusyuk dalam Bahasa Arab ialah al-inkhifaadh (merendah), adz-zull (tunduk) dan as-sukuun (tenang). Kosongkan hati dari hal-hal yang melalaikan dari ingat kepada Allah Swt. Tegasnya, hati dan pikiran kita terfokus kepada Allah Swt. tidak selain-Nya.
Kekhusyukkan merupakan manifestasi tertinggi dari sehatnya hati dan landasan utama tegaknya salat dan zikir. Perlunya sebelum kita menghadap (tawajuh) kepada Allah Swt., selesaikan terlebih dahulu urusan-urusan yang kiranya dapat menganggu konsentrasi kita. Selain itu perbanyak berdoa kepada Allah agar istiqomah dalam hati yang khusyuk. Sebagaimana doa yang sudah diajarkan Rasulullah Saw. kepada kita : “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Muu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyuk, dari jiwa yang tidak pernah puas dan dari doa yang tidak dikabulkan.” (HR. Muslim).
Al-Qur’an merupakan salah satu kitab Allah Swt yang diturunkan untuk umat manusia. Merupakan surat cinta dari Allah Swt. sebagai pedoman hidup dan safaat. Dengan membaca, memahami bahkan mentadaburi Al-Qur’an, kita lebih mendekatkan diri pada-Nya membuat lebih tentram dan tenang dalam menghadapi permasalahan; karena tanpa kita sadari Al-Qur’an lah sebagi petunjuk jalan keluar dalam setiap permasalahan. Beriman kepada kitab-Nya merupakan sebagai bentuk menyelami cinta-Nya.
Beramal yang Ikhlas
Ikhlas merupakan megerjakan segala sesuatu yang telah Allah dan Rasul-Nya gariskan dengan penuh ketulusan semata-mata hanya untuk mendapat keridhaan-Nya, baik dunia maupun akhirat. Berarti beramal dengan iklhas beramal semata-mata mengharap rida Allah Swt.
Apapun yang kita amalkan juga berdasarkan niat yang lurus. Terdapat pada hadis Abu Hurairah Ra. yang berjihad, berilmu dan bersedekah namun masuk neraka. Karena menuhankan selain Allah Swt. untuk mendapat gelar pada manusia. Padahal sebenarnya amalan kita apapun kita lakukan sebenrnya jika kita iklhas kepada Allah Swt. itu juga kan bermanfaat bagi orang lain.
Seperti bersedekah kita meniatkan lurus untuk dijalan-Nya membuat hati menjadi tentram karena sebenarnya membuat hati menjadi hidup dengan melihat berbagi itu indah. Sebenarnya apapun kebaikan dan alamaln yang ikhlas akan berdampak kepada kita juga Allah akan memberi lebih dari apa yang kita berikan kepada Allah dengan adanya rida dari-Nya.
Sebagai hamba kita selalu berusaha untuk mencari ridanya sampai akhir hayat karena kita tidak tahu dosa mana yang membuat Allah murka dan rida, akan terus mencari makna-Nya. Semoga di bulan Ramdan menjadi kita selalu istiqomah.
Wallahualam bissawab
Mahasiswi S1 Bahasa dan Sastra Arab UAD berdomisili di Yogyakarta. Instagram : @riaajeng_ Facebook : Ajeng Riadwi.

castri
MasyaAllah kak 🙏🏻