f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
terjawab dalam kepasrahan

Terjawab di Puncak Kepasrahan

Lebaran adalah momen yang membahagiakan bagi setiap insan. Tak terkecuali buat diri dan keluargaku. Mudik atau pulang kampung seakan menjadi kewajiban yang tak boleh diabaikan. Bukan hanya kedua orang tua yang tinggal di kampung, tapi saudara dan kerabat hampir semuanya di sana.

Lebaran tahun ini merupakan tahun merdeka untuk mudik setelah dua kali lebaran menahan diri tak mampu melepas rindu dengan orang-orang terkasih. Hanya mengandalkan video call dan itu pun sudah kami syukuri mengetahui orang-orang tercinta sehat wal afiat tanpa bisa berpelukan lantaran pandemi.

Di setiap momen lebaran pula aku harus mampu menata hati, agar bisa berkompromi atas beberapa pertanyaan dari sanak saudara dan handai taulan. “Kok belum ada momongan sih, kan sudah empat tahun? Oh, ditunda dulu demi karier, ya? Si Anu sudah punya dua, lho! Kapan menyusul?” Dan pertanyaan-pertanyaan lain yang sedikit memojokkanku seakan belum punya anak adalah hal yang aku sengaja.

*

Aku, perempuan bernama Delima, putri satu-satunya dari tiga bersaudara dalam keluargaku. Dari sekian teman-teman perempuanku, hanya aku yang terlambat mendapatkan menstruasi yaitu ketika sudah duduk di kelas dua SMA. Postur tubuhku mungil dan dari riwayat keluarga sebenarnya normal-normal saja. Ibuku mendapatkan haid pertama ketika SMP. Tanteku justru saat kelas lima SD sudah mendapatkan haid pertamanya.

Bersama beberapa teman lulusan sebuah SMAN di kota Pati, aku mendapat kesempatan kuliah di Bogor dengan mulus tanpa test seleksi masuk. Dua belas jam perjalanan dari kampung, membuatku terpaksa berpisah dengan keluarga demi cita-cita. Di saat kuliah inilah aku baru tahu bahwa ada sesuatu yang tak beres di organ tubuhku.

Berawal dari rasa sakit yang hebat setiap kali datang bulan, bahkan pernah sampai pingsan, akhirnya pergi periksa ke dokter. Dari dokter SPOG yang menangani, ternyata ada semacam kista di rahimku yang menyebabkan rasa sakit luar biasa dan siklus haid yang tak teratur. Hasil pemeriksaan sementara, aku mengidap PCOS.

Baca Juga  Hamil adalah Hak Perempuan: Pilihan atau Kewajiban?

Dari keterangan dokter, kutahu PCOS (Sindrom Polikistik Ovarium) adalah suatu kelainan ketika ovum atau sel telur tidak berkembang secara normal karena hormon yang tak seimbang. Hal ini membuat siklus menstruasi tak teratur, disertai terbentuknya kista pada ovarium (indung telur) yang kemungkinan bisa menyebabkan terjadinya kemandulan.

Pada suatu hari, saat periksa ke dokter dan ditemani ibuku, jawaban dokter cukup membuatku sedikit lebih tenang. Kata dokter, meski aku termasuk pasien termuda dalam kasus ini, tak perlu terlalu khawatir karena kista ini umum terjadi dan tak perlu diangkat atau dioperasi. Saran dokter, bila memang sudah punya kekasih, segera menikah agar bila kelak ada kehamilan, kista ini akan hilang dengan sendirinya.

Sebelum benar-benar menikah atas saran dokter, orang tuaku berupaya mencari cara ‘pengobatan‘ lain dengan harapan aku sembuh atau normal seperti gadis-gadis lainnya. Selain suntik hormon dari dokter, cara alternatif dari herbal pernah aku coba. Semua ini aku lakukan dengan sungguh-sungguh dan tak lupa terus berdoa. Karena aku yakin ini sudah menjadi skenario-Nya. Dia memberi ujian sakit, Dia pula yang menyediakan obatnya. 

Tibalah saatnya aku menikah dengan seorang pria yang benar-benar mau menerima kelebihan dan kekuranganku. Sejak awal menikah hingga 4 tahun, aku dan suami menjalani program kehamilan (promil). Beberapa metode yang sesuai dengan keadaan tubuhku, telah kucoba. Tentu saja masih di bawah pengawasan dokter.

Selama 4 tahun tersebut rasa was-was dan khawatir selalu membayangi kami berdua. Apalagi childfree tengah menjadi berita viral saat itu. Yakni sebuah keputusan dan pilihan hidup sepasang suami istri yang memilih tidak mempunyai anak, apakah anak kandung, anak tiri atau anak angkat. Itu hak mereka dan kami menghargai pilihan yang mereka ambil. Di luar itu semua, kami berdua tetap mengharapkan keturunan sebagai penerus generasi.

Baca Juga  Air Mata Air

Selama berusaha atau berikhtiar dalam upaya untuk mendapatkan momongan, sudah tak terhitung dana, waktu dan tenaga yang terkuras. Hingga pada suatu hari, kami merasa lelah dan letih nyaris putus asa. Hanya doa-doa yang selalu kami panjatkan tanpa jeda sebagai wujud tawakal dan pengharapan kepada Sang Maha Kuasa.

Meskipun program kehamilan berhenti, namun kami tidak putus asa. Yang ada justru tingkat kepasrahan yang sudah mencapai level menerima dengan legowo apapun keputusan-Nya. Sembari tak lupa senantiasa memohon petunjuk dalam menjalani kehidupan selanjutnya, ada anak atau tidak.

Selain berdoa tanpa henti dan berderma pada sesama, kami sadar ada satu kekuatan utama yang tak kalah dahsyatnya yang mampu membuka pintu-pintu langit yaitu doa dari orang tua. Puji syukur ke hadirat Ilahi, kami berdua masih memiliki orang tua. Seiring dengan harapan menggebu mendapatkan momongan, bakti ke orang tua makin kami tingkatkan. Dari hal-hal sepele hingga serius kami lakukan sepenuh hati demi kebahagiaan mereka.

Dahsyatnya doa orang tua tidak mampu ditebus dengan sejumlah nominal berapapun mahalnya, karena terlalu tulus demi kebahagian anak-anaknya. Doa yang tak pernah berhenti dengan tingkat kepasrahan yang cukup tinggi, ditambah sebongkah kesabaran yang menyertai, justru telah menjawab apa yang selama ini kami dambakan.

*

Rencana Allah selalu indah. Dia jawab ribuan pinta dengan dihadirkannya buah hati penerus generasi. Tak terlukiskan kebahagiaan kami saat itu ketika dokter menyatakan bahwa aku positif mengandung. Subhanallah. Alhamdulillah. La Ilaha illa Allah. Allahuakbar.

Kini, Sean putraku, sudah berusia satu setengah tahun yang lahir secara sesar karena satu dan lain hal. Dalamnya rasa syukur dan puncak bahagia yang menyelimuti keluarga kami, tak mampu ditulis dengan kata-kata maupun dilukis dengan sejumlah tinta. Dia Maha Tahu kapan hamba-Nya harus bersabar dan kapan hamba itu akan memperoleh buah dari kesabaran tersebut.

Baca Juga  Suami : Sumber Stress di Masa Kehamilan ?

Bersyukur di tahun ini kami berkesempatan mudik ke kampung dengan suasana hati penuh kebahagiaan yang tak mampu kami sembunyikan. Kekhawatiran akan pertanyaan-pertanyaan negatif yang mungkin muncul, kini musnah. Bila ada yang bertanya kapan Sean punya adik, cukup aku jawab dengan senyum manis karena gemuruh rasa syukur di dada hanya aku dan Dia yang tahu.

*Seperti yang diceritakan Delima  kepada penulis.

Bagikan
Post a Comment