Menggapai Ketenangan Jiwa Melalui Zikir
Manusia merupakan makhluk yang mulia. Akan tetapi manusia memiliki sifat tergesa-gesa sehingga dalam melakukan suatu pekerjaan manusia cenderung dengan jiwa yang tidak tenang. Manusia akan tercapai tujuannya bila ia melakukannya dengan jiwa yang tenang. Tanpa jiwa yang tenang manusia akan sulit menggapai tujuan nya.
Untuk mencapai sebuah ketenangan jiwa yang sempurna, manusia memerlukan pendidikan serta pelatihan mental dan itu membutuhkan waktu yang lama. Untuk mencapai itu semua salah satunya adalah dengan zikir. Bermeditasi memusatkan kesadaran menyebut dan mengingat Allah dalam setiap keadaan untuk menjalin ikatan batin seorang hamba dengan Allah sehingga timbul rasa cinta hormat dan jiwa muroqobah (merasa dekat dan diawasi Allah).
Pengertian Zikir
Pengertian Zikir menurut Al-Ghazali: secara bahasa adalah mengingat, sedangkan secara istilah yaitu ikhtiar sungguh-sungguh untuk mengalihkan gagasan, pikiran dan perhatian manusia menuju Tuhan dan akhirat. Zikir ini bertujuan untuk membalikkan keseluruhan karakter manusia dan mengalihkan perhatian utama seseorang dari dunia yang sudah sangat dicintai menuju akhirat yang sejauh ini belum dikenali sama sekali.
Menurut Al-Ghazali, manusia cenderung mementingkan urusan dunia, sehingga dengan mudah manusia itu lupa kepada Tuhannya dan setan menggoda manusia tanpa henti selama keseluruhan proses ini. Jika manusia mencurahkan semua perhatiannya pada Tuhan maka hanya akan tersisa sedikit ruang untuk godaan setan.
Adapun yang di cari dari zikir adalah perasaan uns (keakraban). Apabila ia berhasil melakukannya secara kontinyu, maka ia akan merasakan uns dalam hatinya dan tertanamlah dalam hatinya perasaan cinta.
Dalam buku “Munajat Al-Ghazali” juga dijelaskan bahwa aktivitas zikrullah ini memiliki tahapan awal dan akhir. Permulaannya mengharuskan (memaksa) seseorang untuk bisa memiliki rasa cinta dan simpati. Rasa simpati dan cinta itu sendirimengharuskan untuk selalu zikrullah, sehingga zikrullah akan muncul dari rasa simpati dan cinta kepada Allah. Dan pada hakikatnya yang dicari dari zikir itu adalah rasa simpati dan cinta.
Kemudian, apabila rasa simpati dan cinta itu sudah berhasil karena zikrullah, maka segala kegiatan dan apa saja selain zikrullah akan terputus karena disibukkan oleh kegiatan zikrullah. Seseorang yang menginginkan kejinakan hati maka harus membiasakan diri berusaha untuk selalu berzikir. Karena mustahil hati akan lembut tanpa membiasakan diri untuk selalu mengingat Tuhan.
Manusia adalah budak kebiasaan dan akhirnya kebiasaan berubah menjadi tabiat. Ketika gairah kepada zikir kepada Allah swt, terputuslah ia dari segala sesuatu kecuali Allah Ta’ala dan ia melakukan hal tersebut hingga kematiannya. Zikrullah akan menyertainya di dalam kubur dan bukan anak-anak dan hartanya.
Di antara prinsip al-mulamalah dalam zikir terbagi menjadi empat: (1) Zikir dengan lisan. (2) Zikir dengan hati. (3) Zikir dengan rahasia (sirri). (4) Zikir dengan ruh.
Masing-masing zikir memiliki cobaan tersendiri: cobaan zikir ruh adalah munculnya sirri, cobaan zikir sirri munculnya kalbu dalam sirri, cobaan zikir kalbu munculnya nafsu dalam kalbu, dan cobaan zikir nafsu munculnya akibat-akibat zikir itu sendiri. Hal ini membuat seorang hamba karena zikirnya menuntut pahala atau menduga bahwa dengan zikir itu ia akan sampai pada suatu maqam atau tahapan tertentu.
Al-Ghazali membagi zikir kepada dua tipe: yang pertama zikir dengan hati (zikir bi al-qalbu), yang kedua zikir dengan lisan (zikir bi al-lisan). Secara khusus, Al-Ghazali mengajak mendorong para “muallaf” sufi untuk selalu mengingat kematian mereka sendiri yang bisa datang setiap saat dan lemahnya posisi mereka di hadapan Tuhan. Ini akan menjadikan kematian sebagai pusat perhatian utama mereka. Sehingga kecintaan mereka terhadap dunia yang fana ini akan terhapus.
Olah mental atau meditasi ini akan membantu para “muallaf” sufi itu untuk lebih sering berzikir kepada Tuhan dan melakukan ibadah lainnya. Jika olah mental ini dilakukan secara terus-menerus, manfaatnya akan menjadi lebih efektif.
Implikasi Zikir bagi Jiwa dalam Pandangan Al-Ghazali
Jiwa menurut Al-Ghazali: Jiwa adalah suatu zat atau substansi (jauhar) yang berdiri dengan sendirinya dan bukan suatu keadaan atau aksiden (‘ardh). Sehingga ia ada pada dirinya sendirinya. Munculnya kekuatan jiwa itu berawal dari dorongan semangat lalu berubah menjadi tindakan.Dalam pemikiran Al-Ghazali, jiwa berasal sama dengan asal malaikat. Asalnya dan dan sifatnya ilahiah. Jiwa tidak berawal dengan waktu seperti pendapat Plato dan filosof lainnya. Jiwa di ciptakan oleh Allah di atas arsy, dunia ruh (alam arwah) kemudian dihubungkan dengan jasad embrio.
Hati dan jiwa di ibaratkan cermin. Di mana kebaikan dan kejahatan akan tercermin padanya. Kebaikan akan menjadikan hati manusia menjadi mengkilap, dan cemerlang. Sedangkan kejahatan serta dosa akan membuat hati manusia menjadi keruh dan gelap.
Kebersihan dan kebeningan hati atau jiwa dapat diperoleh dengan zikir (menyebut dan mengingat) Allah yang menenteramkan dan mendamaikan hati orang yang bertaqwa. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa taqwa adalah pintu zikir, sedangkan zikir adalah pintu kasyf (terbukanya hati) kepada Allah.
Ada empat perkara yang membuat hati itu tegerak untuk melakukan suatu pekerjaan. Pertama, timbulnya goresan hati atau lintasan pikiran sesaat. Kedua, timbulnya kecenderungan, kehendak hati atau kata lain (haditsun-nafsi).Ketiga, timbulnya perintah hati. Keempat, adanya tekad, niat dan maksud kuat untuk mengerjakannya.
Bila jiwa seseorang dalam kondisi tenang dan mampu menyingkirkan kegaulannya dalam menentang kehendak syahwatnya, maka yang demikian menurut Al-Ghazali dinamakan jiwa yang tenang (al-muthmainnah). Apabila jiwa belum dapat hidup tenang, tapi sudah berupaya menolak nafsu syahwatnya. Maka jiwa seperti itu menurut Al-Ghazali disebut jiwa al-lawwamah. Namun bila tidak berupaya menentang dan bahkan tunduk kepada syahwatnya atau tunduk kepada dorongan-dorongan syaitan. Maka jiwa yang demikian itu dinamakan jiwa al-ammarah yang selalu mengajak kepada keburukan.
Zikir terus-menerus dengan hati tawadhu adalah yang paling utama dan paling bermanfaat. Jika hati kita serta lalai pada saat berzikir kepada-Nya dengan lidah, maka pahala yang kita raih pun juga tidak berarti. Apabila hati kita tidak ada perhatian saat berzikir, maka akan sangat kecil manfaatnya. Akan tetapi, nilai zikir yang dilakukan dengan penuh perhatian dan sepenuh hati setiap saat nilainya berada di atas ibadah-ibadah lainnya. Ingat dan mengingati Allah adalah tujuan dari setiap ibadah yang kita kerjakan.
Pengaruh dari mahabbah kepada Allah adalah merupakan puncak rasa suka cita dalam jiwa. Hakikat jiwa adalah rasa suka dan kegembiraan yang tiada tara karena terjadinya mukasyafah kepada Allah dengan segala keindahan dan keparipurnaan-Nya saat taqarrub kepada Allah Swt.
Hakikat taqarrub itu sendiri menurut sebagian sufi adalah sentuhan rasa segala yang ada yang muncul dari dalam qalbu dan ketundukan nurani kepada Allah Swt. Di satu sisi, menurut Al-Ghazali sendiri taqarrub itu merupakan penyucian qalbu dari segala hal selain Allah SWT. Apabila qalbu telah suci dari segala yang selain Allah, maka Allah lah yang hadir bersama hamba. Sebab sudah tidak ada lagi hijab antara Allah dan hamba, baik berupa dirinya maupun materinya.
Zikir juga mempengaruhi psikologis seseorang yaitu menambah rasa keimanan, pengabdian, kejujuran, dan kematangan cita-cita dalam hidup. Zikir juga termasuk dari sarana pengendalian diri serta hawa nafsu yang selalu mengajak kepada kejahatan. Faedah lainnya adalah dapat mengusir syaitan, mengalahkan dan menundukkannya, menjadikan Allah rida kepadanya, menjadikan duka nestapa, melenyapkan kegelisahan dan kesusahan hati, serta mendatangkan penggembira dan lapang hati.
Berzikir menggunakan lisan maupun hati akan memperoleh pengalaman batin yang tidak setiap orang mengalaminya. Dengan berzikir, hijab yang ada dalam hati manusia yang selalu tersangkut pada materi akan terbuka dan menjadikan manusia yang selalu dan pandai bersyukur atas segala nikmat, rahmat dan karunia yang diperoleh olehnya, serta membersihkan hati manusia dan jiwa manusia dari kegala kekotoran perbuatan dan sifat kebinatangan.
Zikir mempunyai keutamaan-keutamaan sebagaimana yang disebutkan oleh imam Al-Ghazali:
- Memperoleh ampunan.
- Menjadi tidak lupa dan lalai.
- Memberikan dorongan dan semangat dalam menghadapi masalah kehidupan.
- Menentramkan jiwa.
Menurut Al-Ghazali keutamaan dalam melaksanakan zikir ada empat, yaitu pertama, memperoleh ampunan, kedua menjadikan orang tidak mudah lupa dan lalai, ketiga memberikan dorongan dan semangat dalam menghadapi masalah kehidupan, dan keempat menenteramkan jiwa. Ketika seseorang melaksanakan zikir maka jiwanya akan senantiasa tenang dan tenteram sebab pengaruh zikir sangat terkait dengan jiwa seseorang, (alaa bidzikrillaahi tathmainnal Qulub) “Berzikirlah kepada Allah, maka sesungguhnya zikir itu mendatangkan ketenangan”.
Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Syubbanul Wathon Magelang. Instagram: arhaz_8686 Facebook: Haji Lewo Baranusa.
