Adakah Mush’ab bin ‘Umair di Zaman Sekarang?
Pemuda Milenial
Milenial, dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) memiliki arti sebagai orang-orang atau generasi yang lahir pada tahun 1980-an dan 1990-an. Generasi milenial terkenal juga dengan sebutan generasi Y. Zaman milenial terkenal dengan anak-anak muda yang unggul dalam ilmu pengetahuan, teknologi, dan keahlian. Memiliki tanda dengan berkembang pesatnya teknologi, terutama yang berkaitan dengan komputerisasi, perangkat digital, perangkat mobile, perangkat cerdas, internet, dan juga media sosial.
Zaman milenial dikenal dengan zamannya pemuda karena para pemuda berani tampil, bersuara, dan berkarya. Berbagai sektor penting di zaman ini banyak percaya kepada para pemuda dengan harapan golongan pemuda ini dapat membawa perubahan untuk kemajuan bangsa, negara, dan agama. Sektor pendidikan, pemerintahan, ekonomi, agama, bahkan sektor hiburan pun terwarnai oleh gerak langkah dari para pemuda.
Pemuda adalah generasi penerus harapan bangsa. Generasi pemuda memang menjadi harapan karena para pemuda identik dengan semangat tinggi, cerdas, berani, pintar, dan berjiwa pembaharu. Dalam sejarah Islam pun, peran pemuda sangat penting. Pada zaman Rasulullah Muhammad saw, pengikut yang termasuk golongan muda sangat banyak dan menjadi tumpuan Rasulullah dalam memperjuangkan tegaknya Islam di muka bumi.
Siapakah Mush’ab bin ‘Umair Itu?
Salah satu pemuda sahabat Rasulullah bernama Mush’ab bin ‘Umair. Tahukah Anda siapa Mush’ab bin ‘Umair itu?
Mush’ab bin ‘Umair adalah salah seorang pemuda Quraisy yang terkemuka. Dia memiliki ciri-ciri pemuda idaman layaknya di masa sekarang. Wajah yang tampan, pintar, cerdas, pandai bergaul, bergelimang harta, dan terkenal. Orang tua Mush’ab bin ‘Umair adalah orang kaya sehingga hidup Mush’ab bin ‘Umair pun begitu kedua orang tuanya manjakan. Gaya hidupnya banyak menjadi role model para pemuda. Cara berpenampilan, cara berjalan, cara bergaul, dan cara berbicara. Tak heran jika Mush’ab bin ‘Umair merupakan idola para gadis Makkah di zaman itu. Hal ini tak berbeda jauh dengan zaman sekarang, pemuda yang memiliki ciri-ciri tersebut akan menjadi idola. Wajah tampan, gaya hidup yang glamor, otak yang cerdas, kaya raya, dan terkenal.
Seperti itulah kehidupan Mush’ab bin ‘Umair, tepatnya sebelum beliau masuk Islam. Menjadi sosok pemuda yang disukai orang banyak dan digandrungi para gadis. Namun, tahukah Anda, bagaimana kehidupannya setelah berba’iat kepada Rasulullah Muhammad saw? Masuk Islamnya Mush’ab bin ‘Umair telah mengubah gaya kehidupannya. Setelah masuk Islam, semua sarana milik Mush’ab bin ‘Umair orang tuanya ambil.
Dia diusir dari rumah megahnya, tidak diberi pakaian mewah lagi, tidak dibekali harta, dan semua fasilitas yang dahulu diperolehnya dihentikan oleh orang tuanya. Setelah masuk Islam, Mush’ab bin ‘Umair tidak lagi menjadi pemuda yang bergaya hidup mewah. Ia tampil sederhana dengan baju seadanya dan wajah tampan tanpa bersolek.
***
Ia rela meninggalkan istana kediamannya, meninggalkan ibu yang sangat ia cintai, meninggalkan harta berlimpah, dan meninggalkan pergaulan sebelumnya. Demi mengikuti seruan Rasul untuk menyembah Allah saja, ia rela meninggalkan kekuasaan yang ia miliki sebagai hartawan di Makkah. Untuk mengikuti seruan Rasul untuk ber-Islam kaffah, ia rela meninggalkan lingkungan sosialnya yang sangat jauh dari ajaran Islam. Demi mengikuti seruan Rasul untuk mendapatkan ridho Allah dan surga, dia rela meninggalkan seluruh kehidupannya dahulu dan rela mengikuti apa-apa yang Allah dan Rasul perintahkan kepadanya.
Sungguh, seorang pemuda dengan hati yang bersih, sehat akalnya, cerdas pemikirannya, dan tinggi pengetahuannya. Ia tahu apa yang dia tinggalkan tidaklah sebanding dengan kenikmatan hidup abadi nanti di akhirat. Kebersihan akidah dan ketaatannya kepada Allah dan Rasul-Nya membawanya menjadi pemuda Islam yang unggul dan tangguh.
Mush’ab bin ‘Umair tercatat sebagai salah satu sahabat Rasulullah yang utama. Berbekal kecerdasan pemikiran dan akhlak mulia, Rasulullah menunjuk Mush’ab bin ‘Umair ditunjuk Rasulullah menjadi duta Islam pertama ke Madinah. Duta Islam ini mendapat tugas untuk mengajarkan Islam kepada golongan Anshar yang baru berbaiat kepada Rasulullah..Selain itu, duta Islam bertugas untuk berdakwah mengajak orang-orang Madinah lainnya masuk Islam. Duta Islam bertugas untuk menyebarluaskan Islam di Madinah.
Kisah harum Mush’ab bin Umair lainnya adalah saat dia gugur dalam Perang Uhud. Dia adalah orang yang dengan jiwa mujahidnya memegang Bendera Islam hingga titik darah penghabisan. Diceritakan bagaimana heroiknya Mush’ab bin ‘Umair berusaha mempertahankan bendera Islam dengan tangan kanannya yang kemudian ditebas pedang musuh, lalu tangan kirinya pun ditebas, dan akhirnya dadanya ditusuk hingga Mush’ab bin ‘Umair gugur sebagai mujahid di perang ini.
Adakah Pemuda Milenial Layaknya Mush’ab bin Umair?
Kisah Mush’ab bin ‘Umair seharusnya layak menjadi motivasi bagi para pemuda zaman sekarang. Namun, adakah pemuda milenial layaknya Mush’ab bin ‘Umair saat ini? Adakah pemuda yang berani bertindak, berbuat, dan berpikir seperti dia? Adakah pemuda milenial yang rela meninggalkan kesenangan kehidupan duniawi ini demi mencapai ridha Allah? Ataukah pemuda milenial sekarang ini hanyalah para pemuda lembek, tidak tangguh, yang hanya memikirkan kesenangan, kemewahan, dan kekayaan hidup saja?
Merasa hebat jika punya wajah tampan, penampilan modis, gaya hidup mewah, harta yang banyak, serta ketenaran? Tidakah pemuda milenial ini memikirkan kehidupannya kelak? Apakah Allah ridha dengan jalan hidup yang ia jalani? Lalu, bagaimana kesudahan hidup abadinya di akhirat nanti?
Sungguh sangat disayangkan dan sangat memprihatinkan jika di zaman milenial ini tidak ada pemuda-pemuda pelanjut Mush’ab bin ‘Umair. Akan seperti apakah masa depan bangsa, negara, dan agama ini jika pemuda milenial tidak setangguh Mush’ab bin ‘Umair? Apa yang akan terjadi jika pemuda milenial ini hanya sibuk memikirkan kesenangan hidup di dunia saja, mengikuti hawa nafsu, dan bergaya hidup yang tidak sesuai dengan Islam?
Tentunya kita berharap generasai muda Indonesia menjadi generasi milenial yang berakidah, bersyariah, dan berakhlak Islam serta tangguh seperti Mush’ab bin ‘Umair agar masa depan bangsa ini tidak hancur karena perilaku pemudanya.

Penulis freelance dan Ibu Rumah Tangga
