Taaruf Profesional dan Komitmen-an ala Milenial
Dalam fase pertumbuhan dan perkembangan, setiap dari kita akan memiliki ketertarikan dengan lawan jenis yang kemudian timbul keinginan rasa ingin menikah. Keinginan ini akan kita lalui dengan cara-cara tertentu, bisa dengan taaruf, komitmen, atau pacaran; yang pada hakikatnya membangun aktivitas yang sama yaitu pendekatan untuk saling mengenal lebih jauh menuju ke jenjang pernikahan.
Dan istilah taaruf dipakai oleh kalangan muslim/muslimah dengan harapan aktivitas yang dilakukan tidak menyimpang dari kaidah perkenalan dalam Islam.
Sebagian dari kita mengasumsikan kalau proses taaruf juga identik dengan perjodohan, menggunakan perantara dan/atau orang ketiga untuk saling bertukar informasi calon pasangan. Tetapi berbeda halnya hari ini, zaman sudah lebih dinamis, ruang informasi dan komunikasi terbuka lebar, dan proses taaruf dapat dilakukan secara mandiri.
Taaruf Mandiri
Taaruf adalah proses perkenalan dan pendekatan secara Islami antara laki-laki dan perempuan sebelum memutuskan untuk terikat dalam pernikahan. Pilihan taaruf secara mandiri menjadi salah satu cara yang efektif untuk mengenali calon pasangan kita secara lebih jauh.
Kenapa mandiri? Karena setiap dari kita memiliki karakteristik yang berbeda, kita yang dapat mengenali diri kita; dan kita juga yang mengetahui diri kita membutuhkan pasangan dengan karakteristik yang bagaimana. Apakah kita menginginkan pasangan yang melengkapi, membersamai, atau keduanya.
Dengan mandiri, kita juga dapat mengetahui responnya secara langsung, tidak bias informasi seperti halnya melalui perantara. Meski demikian, kita tetap mengindahkan nilai-nilai taaruf dalam Islam. Jangan sampai karena sedang taarufan kemudian kita lupa ibadah, menimbulkan pikiran-pikiran yang tidak perlu, dan lainnya.
Taaruf dengan Profesional
Istilah taaruf profesional merupakan istilah kekinian dari Redaktur rahma.id untuk Rahmania sekalian. Taaruf professional adalah metode taaruf yang berlangsung secara mandiri dengan tetap berpedoman pada kaidah Islam, mengamalkan nilai kafa’ah dalam proses taarufan, menaati hukum-hukum perkawinan dalam Islam, serta mengetahui hak dan batasan dalam proses perkenalan. Lebih jauh, taaruf professional dapat kita terapkan dengan cara berikut:
Pertama, Tentukan dan Pilih Calon Pasanganmu
Iya dong, masa ingin taarufan tapi tidak punya pilihan. Masa ingin taarufan tapi kebingungan karena banyak pilihan? Memilih dan menentukan itu penting, setelahnya fokuslah pada calon pasanganmu seorang saja. Kan nggak bisa juga kamu terus mencari, berganti-ganti, terus beradaptasi lagi dan lagi. Sayangi diri sendiri ya Rahmania. Ketika kita menemukan yang sesuai dengan hati, maka seriusi.
Kemudian, ketika kamu telah tertarik dengan lawan jenis, coba diriview kembali, apakah kamu tertarik karena suka belaka, atau ingin menjadi teman hidupnya. Ingat, kunci yakin dia jodohmu ada pada dirimu sendiri.
Caranya gimana? salah satunya ketika melihat calon pasanganmu, kamu merasa tentram, senang, dan aman. Kala Bahasa anak sekarangnya, ada rasa nyaman dan nyambung ketika berkomunikasi.
“Dan di antara tanda-tanda kebesaranNya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi kaum yang berpikir” (Ar-Rum: 21).
Kedua, Berorientasi pada Upaya Memantaskan Diri.
Setelah kamu mengkomunikasikan pada calonmu bahwa kamu ingin membangun komunikasi yang lebih, maka tetaplah berfokus pada orientasi dan aktivitasmu sebelumnya. Tanda kalau dia jodohmu adalah menjadikanmu semangat bekerja, berfokus pada kegiatan dan meningkatkan energi positif aktivitasmu.
Jika dia menjadikanmu bermalas-malasan, maka bisa jadi, ada yang salah dengan cara komunikasi yang terbangun. Bukankah seharusnya ibrah dari berkomunikasi itu saling mengingatkan pada segala kebaikan?
Maka Rahmania, dalam proses menunggu, kamu dan calonmu harus terus memantaskan diri. Masing-masing dari kamu harus saling belajar mengenai hak dan kewajiban dalam pernikahan, mengetahui hukum perkawinan, kisah-kisah pernikahan, dan lainnya. Termasuk juga, masing-masing harus saling menjaga kesehatan.
Atau jika perlu, hal-hal yang berkenaan dengan meteri pranikah tersebut kamu jadikan topik diskusi rutinan dengan calonmu.
Ketiga, Inisiatif dan Komunikatif.
Tidak semua yang eksrtrovet akan memilih yang introvert, pun sebaliknya. Apalagi bagi kamu yang sudah lama melajang. Kamu harus mengubah sedikit – demi sedikit kebiasaanmu untuk tidak egois. Seperti memberikan kebutuhan-kebutuhan pasangan pada umumnya, kamu harus menjadi given, tanpa diminta. Seperti bertanya, memberikan perhatian, memberikan hadiah, dan lainnya.
Dalam hal komunikasi, harus ada keterbukaan, memberikan kata apresiasi, afirmasi, dan bahasa cinta lainnya. Apalagi di zaman serba digital ini, banyak cara romantis yang bisa dibangun untuk saling menghargai, menghormati, dan menjaga satu sama lain.
Keempat, Mengkomunikasikan Rencana Strategi.
Dalam masa taarufan, hal-hal yang berkenaan dengan dengan rencana walimahan, pernikahan, rencana bekerja, dan cita-cita harus kita diskusikan. Termasuk juga jika keduanya tipikal orang yang aktif, maka harus diobrolkan siapa yang akan bekerja penuh waktu dan siapa yang akan bekerja secara fleksibel.
Prinsipnya, masing-masing pasangan harus mendukung segala potensi dan mimpi pasangan kita dengan mempertimbangkan mudharat – maslahat, dan keutamaan keluarga.
Kelima, Melibatkan Keluarga.
Keluarga menjadi salah satu kunci keberkahan pernikahan. Hal-hal yang berkaitan dengan rencana tempat tinggal, tempat bekerja juga harus dikomunikasikan dengan keluarga. Meski setiap orang tua akan mensupport putra/putrinya dan menginginkan kebahagiaan anaknya; kita sebagai anak pun harus memahami bahasa orang tua. Apalagi kalau kamu dan calonmu adalah anak satu-satunya dari keluarga kalian masing-masing. Maka harus ada kesepakatan, upaya meyakinkan dan kesadaran berbagi kunjungan.
Pada hakikatnya setiap orang tua akan mendukung keputusan anaknya. Tergantung pada bagaimana komunikasi kita dengan orang tua selama ini, juga cara kita meyakinkan mereka.
***
Islam hadir dengan membawa pencerahan berupa cara pandang, aturan dan norma-norma kebaikan. Termasuk adab berinteraksi dengan lawan jenis. Ia hadir untuk kesalingan membangun Rahmah dengan keutamaan keluarga. Sehingga dalam memilih pasangan, bukan lagi atas dasar status sosial, melainkan keinginan untuk mencapai ketakwaan kepada Allah.
So, jika ingin taarufanmu sukses sampai ke pernikahan, maka luruskanlah niatmu, perbaiki cara taarufmu, dan reorientasikan tujuan pernikahanmu.

Rahmania, Dosen Administrasi Publik UMJakarta
