f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
toxic parenting

Hindari Toxic Parenting dengan Beberapa Cara Ini

Suatu hari saya berjalan-jalan ke pantai dengan keluarga besar. Saat perjalanan pulang, ada keponakan yang memang ikut bersama ke pantai, usianya kira-kira 7 tahun. Tiba-tiba dia tantrum menendang, memukul orang yang berada di dekatnya, dan menangis kencang. Kejadian tersebut berlangsung hampir satu jam lamanya, anak tersebut berhenti setelah kelelahan dan tertidur pulas.

Saya merasa heran, orang tuanya yang kebetulan berada di situ saat anaknya tantrum. Dia hanya diam membisu tidak memberikan respon apapun, baik menahan serangan-serangan anaknya ataupun setidaknya memberikan nasehat bahwa perilakunya membuat orang lain tidak nyaman. Setelah bangun anak tersebut juga berperilaku seperti biasa lagi dan orangtuanya tetap diam selama perjalanan.

Kasus lain lagi adalah saat kumpul keluarga besar, ada anak yang merengek ingin makan mie instan. Ibunya susah payah membuatkannya, setelah matang tiba-tiba anak tersebut ngambek karena mie instan yang dia inginkan adalah mie goreng bukan mie rebus. Anak itu ngamuk dengan cara memukul ibunya dan mau menumpahkan mie rebus; tapi tidak kena karena ibunya langsung lari dan hampir saja jatuh.

Setelah suasana mereda, si ibu anak tersebut meletakan mie rebus di atas meja tanpa mengucakan sepatah katapun dan kemudian pergi keluar meninggalkan anaknya. Akhirnya kita yang sedang berada di sana sibuk menenangkan dan membujuk anak tersebut agar mau memakan mie rebus yang sudah dimasak.

*

Kejadian lain yang tidak kalah menggemaskan adalah masih saat kumpul keluarga besar tapi di kesempatan yang berbeda. Ada anak yang usianya kira-kira 4 tahun, setiap bertemu dengan orang baru maka ia akan menangis menjerit-jerit sejadi-jadinya. Dia hanya akan berhenti sampai orang yang dia ngggap asing tidak berada di hadapannya.

Baca Juga  Kapan Perempuan Harus Menikah?

Kejadian ini terjadi berulang-ulang, sampai-sampai anak-anak yang merasa dirinya dianggap asing berusaha untuk sadar diri menghindar jika ada anak tersebut. Orang tuanya berusaha memberikan pengertian pada anaknya dan berusaha sekuat tenaga memperbaiki perilaku anak tersebut. Akan tetapi yang mencengangkan adalah sikap neneknya yang bilang seperti ini “biarkan saja, anak itu nanti ada waktunya, kalau sudah besar dia akan baik dan paham”.

Saya yang mendengar hal tersebut sampai geleng-geleng kepala dan terheran-heran. Apakah ini yang dinamakan kalau nenek itu akan lebih sayang sama cucunya dibandingkan pada anaknya, sehingga akan cenderung membiarkan tingkah laku cucunya; sekalipun itu perilaku yang membuat perkembangan psikis anak tersebut tidak optimal. Bahkan jika kondisinya terus-menerus, maka bisa menimbulkan maladaptive bagi si anak.

Banyak kasus-kasus kesalahan dalam parenting yang terjadi dan dilakukan oleh orangtua langsung atau oleh pengasuh anak selain orangtua. Akan tetapi kebanyakan dari orang tua itu tidak menyadarinya, jika hal tersebut masuk dalam kategori toxic parenting. Tiga kasus yang saya paparkan di atas termasuk kategori pola pengasuhan permisif, di mana membiarkan anak dengan aturan dan harapan yang tidak jelas.

Diamnya orang tua saat anak melakukan hal yang negatif atau seolah-olah ada pembiaran, ini merupakan aturan yang tidak jelas yang diterima oleh anak. Anak dapat saja menyimpulkan bahwa tindakannya tersebut boleh dan sah-sah saja; sehingga tidak heran jika dia akan mengulanginya di lain waktu. Termasuk Nenek yang ikut “ngerecoki” dalam pengasuhan anak; ini akan semakin membuat anak tidak paham aturan yang jelas, bahkan tidak tau yang dinginkan orangtuanya seperti apa.

***

Ada beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk menghindari toxic parenting ini yaitu; resiliensi keluarga yang kuat, artinya membangun keluarga yang siap menerima tantangan dalam keadaan apapun, hal ini dibangun dengan cara kebersamaan, komunikatif dan kooperatif antar anggota keluarga.

Baca Juga  Mengenalkan I’tikaf kepada Anak: Meraih Lailatul Qadar Bersama Keluarga

Kebersamaan, komunikatif, dan kooperatif dapat dibangun dengan cara ketika makan bersama keluarga; obrolan saat makan (bukan saat mengunyah makanan ya) dapat membangun suasana yang hangat. Inilah yang saya lakukan bersama keluarga; topik apapun dapat dibahas di meja makan ini mulai dari teman anak-anak, kegiatan, sekolah, kegiatan akhir pekan, sampai pada masa depan mereka.

Selanjutnya kelekatan yang aman oleh anak pada orang tua; kelekatan ini sudah dibangun oleh anak sejak bayi, bagaimana orangtua membangun kelekatan dengan anaknya yang akan tumbuh pada anak. Saya biasanya melakukannya saat menjelang tidur setelah membacakan buku cerita, kita dapat me-recalling dengan bertanya pada anak tentang kegiatannya hari ini. Jangan lupa juga menanyakan bagaimana perasaannya apakah senang, sedih, bahagia, atau kecewa, ini akan membangun kelekatan kita dengan anak-anak.

Setelah anak melakukan perilaku negatif pun, kita dapat berkomunikasi menanyakan apa masalahnya, apa yang diingingkan, termasuk bagaimana perasaannya. Begitu juga saat anak berperilaku positif, kita dapat mengapresiasinya baik dengan verbal berupa kalimat pujian, maupun non verbal berupa pelukan.

Self-compassion pada orang tua, di dunia ini tidak ada orang tua yang sempurna, sesekali atau bahkan beberapa kali pernah melakukan kesalahan. Saya biasanya memaafkan diri sendiri, kemudian menerima segala kekurangan dan berusaha untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Ssusah memang praktiknya tapi setidaknya kita berusaha untuk terus melakukan yang terbaik untuk diri kita dan keluarga.

Bagi oran tua apalagi ibu, me time adalah waktu yang tepat untuk mengevaluasi dan menerima keadaan diri sendiri secara positif; meski hanya dengan makan makanan kesukaan atau pergi ke salon untuk perawatan.

**

Kehangatan dari orang tua, sebenarnya dari resiliensi keluarga yang kuat. Kelekatan yang dibangun oleh anak dan orang tua; kemudian self-compassion pada orang tua sudah berjalan dengan baik maka kehangatan keluarga akan terbentuk. Jika ingin suasana baru dalam membangun kehangatan, boleh lah sesekali pergi ke suatu tempat bersama-sama untuk liburan. Jika memang harus di rumah seperti pandemi sekarang ini; maka ciptakan kehangatan meski hanya ngeteh atau ngopi di balkon rumah sambil bermain monopoli bersama anak-anak.

Baca Juga  Akibat Meyekolahkan Anak Terlalu Dini

Terakhir ini cara bagi orang tua yang rentan dengan toxic parenting, maka disarankan untuk mengikuti program pencegahan dapat dengan berkonsultasi pada psikolog untuk konsultasi keluarga. Di sini orang tua dapat mengemukakan permasalahan yang berkaitan dengan keluarga. Jadi orang tua yang rentan harus segera melakukan terapi (jika diperlukan) agar dapat melakukan pengasuhan secara positif. Karena pola asuh yang positif akan berpengaruh pada generasi selanjutnya.

Inilah beberapa cara untuk menghindari toxic parenting, orang tua dan anak bekerjasama membangun pribadi-pribadi yang sehat baik secara fisik maupun psikis. Pengasuhan yang sehat tidak mungkin dibangun oleh sebelah pihak, kerjasama, komunikatif, dan kooperatif yang dibangun keluarga akan membuahkan kehangatan dalam keluarga.

Bagikan
Post a Comment