f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
lifestyle

Berkaca Diri dari Manusia Langit dengan Lifestyle Membumi

 Zaman berkembang kian pesat. Teknologi semakin canggih, “semua berada di genggaman” kata orang-orang yang memuja dan berafiliasi pada ‘keren-kerenan’, sibuk menunggu keluaran terbaru, ganti smartphone setiap tahun. Tak sedikit yang rela pinjol hanya demi memamerkan mirror selfie dengan produk kunyah apel, memberi makan instagramnya yang dibubuhi bio “lifestyle”. “Beuuuh gayanya selangit, padahal bokapnya morat-marit!” komentar netizen yang tak lain tetangga seberangnya.

Yah, begitulah kira-kira fenomena hari ini, manusia bumi dengan gaya selangit, diciptakan dari tanah namun penuh pongah. Sebaliknya, ada, manusia langit namun kerap membumi, siapakah mereka? Simak kisahnya.

Dulu, suatu negeri sedang mengalami paceklik akibat kemarau panjang yang membuat warganya kehabisan bahan pangan. Semua orang pontang-panting mencari penghidupan dan menghemat persediaan yang tersisa. Suatu ketika seorang pendatang yang amat kelaparan datang, harap-harap dapat mengganjal perutnya, ia menghampiri pemimpin kota untuk meminta makan. Pemimpin kota tersebut menunduk, kemudian melempar tanya ke arah penduduk, adakah kiranya yang sanggup memberi makan pemuda tersebut?

Warga kota tak kalah lempar pandang, mereka pun di ujung tanduk, tak mampu mengulurkan bantuan. Tiba-tiba, seorang wanita mengangkat tangan, menawarkan kesanggupan. Warga dibuat terkejut, bukan main, wanita itu pasti masih menyimpan banyak harta hingga bersedia, pikir mereka.

Wanita tersebut menyilakan sang pendatang untuk masuk ke rumahnya, dengan senyum teduh menanggapi warga yang masih terperangah. Rumah tersebut gelap, namun sang pendatang dapat dengan jelas mencium aroma bubur yang diberikan. Ia menyimpan semua keheranan itu dan makan dengan lahap sembari berbincang riang, yang ia tahu sepasang suami istri, tuan rumah tersebut, ikut menikmati hidangan yang sama.

Ia tidak tahu, dentingan sendok dan piring lawan bicaranya kosong, mereka menipunya, berpura-pura kaya, sedang bubur tersebut adalah semangkuk pangan terakhir di rumah mereka milik bayi mereka yang terpaksa ditidurkan.

Baca Juga  Menumbuhkan Gerakan Filantropi Perempuan

Selepas makan, pendatang itu pamit dengan haru dan mengucapkan banyak terima kasih pada kedua tuan rumah, ialah Ummu Sulaim dan Abu Tolhah.

Kisah lain datang dari negeri yang sama. Suatu hari, seisi kota gaduh karena guncangan yang luar biasa, mereka mengira itu gempa bumi. Ternyata itu bukanlah gempa, melainkan deru dari langkah 700 ekor unta yang datang berisi penuh harta kekayaan untuk diinfakkan. Di lain kesempatan pun sosok ini mendermakan 500 kuda untuk tentara muslim dan ribuan unta di peperangan lainnya. Bukan main, kalau kata warga zaman now “Sultan mane nih coyy?”. Beliau adalah Abdurrahman bin Auf yang bahkan di akhir hayatnya menginfakkan 50.000 dinar di jalan Allah.

Kisah selanjutnya datang dari seorang Gubernur yang terkenal sebagai petualang nan gagah berani, namun menangis tanpa henti di akhir hayatnya. Seorang sahabat bertanya mengapa ia menangis. Ia mengatakan bahwa dirinya takut jika selama hidup ia terlalu banyak menghabiskan harta untuk dirinya sendiri. Sang sahabat diam seribu kata, mencoba menahan tangisnya pecah, terharu sebab gubernur tersebut hanya memiliki wadah untuk minum dan berwudu di rumahnya, juga bahkan tidak pernah mengambil gajinya selama menjabat barang sedirham pun. Beliau adalah Salman Al Farisi.

Terakhir, kisah ini datang dari seorang sahabat yang meski terkenal dengan laqob ‘kejujuran’nya, ia juga amat ‘sok kaya’. Suatu hari Umar bin Khattab mendatanginya dan mengatakan telah menyerahkan separuh hartanya untuk peperangan. Seorang sahabat yang kala itu sedang menjadi komandan perang tersenyum mendengar Umar. Umar bertanya, “berapa yang ia serahkan?”, dengan penuh keridaan, ia menjawab ia serahkan seluruh hartanya untuk peperangan ini, ia sisakan Allah dan Rasulullah untuk keluarganya. Beliau adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Baca Juga  Harapan Tak Akan Pupus untuk Penyintas Lupus (1)

Itulah potongan cerita dari perilaku ‘sok kaya’ manusia langit. Mereka berlomba-lomba mengerahkan hartanya hingga membuat manusia bumi terperangah karena merasa mereka amat kaya padahal tidak ada yang disisakan bagi mereka kecuali Allah dan Rasulnya.

Aku menghela nafas panjang. Kisah sahabat di atas terinspirasi dari sebuah buku berjudul “Seni Berjalan di Bumi” karya Farah Qoonita. Saat membaca buku itu, aku berinisiatif menulis pikiranku di sini, sambil berkaca di mana kah posisi diri ini saat ini?

Maka melalui tulisan ini, aku ingin kita merenung bersama, kita para manusia bumi kerap kali melangit padahal amalan kita masih amat sedikit. Jangankan di saat sempit, saat lapang pun kadang masih terselip rasa pelit. Padahal saat masuk ke restoran-restoran berbintang kita santai saja mengeluarkan uang. Untuk hal-hal dunia kita juara, seakan hidup ini selamanya. Sementara para sahabat dulu sibuk berinfak banyak-banyak. Mereka yang amat dekat dengan nabi, yang siang malam beramal tanpa henti, ketika ajal menghampiri masih menangisi, takut-takut pernah terlena duniawi.

Astaghfirullah, air mata ini menitik, rasa bersalah dan syukur bercampur aduk, syukur karena hati ini masih dapat diketuk. Mari sama-sama berbenah teman, seimbangkan keduanya, jika kita bersemangat mencari harta maka semangatlah bersedekah, jika kita semangat menggeluti karir dan pendidikan, maka kejarlah sepertiga malam. Kita tak pernah tahu mana yang sampai pada kita lebih dulu, kesuksesan atau kematian. Mari berkaca diri pada manusia langit yang senantiasa mendekatkan diri pada ilahi namun tetap membumi.

Bagikan
Comments
  • Zaydan Ulwan Salim

    MasyaAllah, semoga kita dapat meneladani kisah2nya dan senantiasa bermuhasabah 🤲

    Februari 6, 2024
Post a Comment