f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
surau

Dua Surau

Purnama bersinar sempurna malam itu, tanpa terhalang sedikit pun tabir awan. Pak Rosyid mematikan lampu surau yang ada di dalam, dan sengaja membiarkan lampu yang ada di luar tetap menyala. Jam belum menunjukkan malam yang larut, tapi keadaan saat itu sudah sangat sepi. Maklum, jumlah penduduknya memang masih sangat sedikit. Selesai mengunci pintu surau, perhatian pak Rosyid tertuju pada deretan rumah di dekat surau yang jumlahnya tak lebih dari enam.

Tak ada satu pun aktivitas manusia di luar rumah. Masyarakat di sekitar surau tersebut lebih memilih menikmati waktu bersantai bersama keluarga di dalam rumah. Pak Rosyid pun melakukan hal yang sama. Tapi, entah mengapa hari itu pak Rosyid belum ingin beranjak pergi dari surau. Malam itu sebenarnya tak benar-benar sunyi, suara jangkrik bersahut-sahutan memecah keheningan.

Pak Rosyid lantas melihat langit-langit surau. Matanya kemudian memerhatikan setiap detail surau tersebut. Satu per satu dengan perlahan. Pak Rosyid menarik napas dalam. Ia teringat bagaimana awal mula surau itu berdiri.

*****

Salat Magrib baru selesai. Ketika keluar dari masjid, pak Haji Fahrur buru-buru menghampiri pak Rosyid yang hendak pulang.

“Pak Rosyid, tunggu sebentar!”

“Eh, Pak Haji. Ada apa, Pak?”

“Bapak ada waktu luang nggak malam ini?”, tanya pak Haji Fahrur.

“Iya, Pak. Ada kok.”

“Alhamdulillah! Mari, Pak! Ke rumah saya, ada hal penting yang mau saya sampaikan pada Bapak.”

“Oh, begitu. Mari, Pak, mari!”, pak Rosyid menimpali tanpa banyak tanya. Pak Rosyid merasa bahwa urusan pak Haji Fahrur ini tampaknya bersifat pribadi sekali sehingga ia diajak ke rumahnya. Oleh sebab itu, pak Rosyid lebih memilih langsung mengiyakan ajakan pak Haji Fahrur.

Mereka berdua kemudian menuju rumah pak Haji Fahrur yang letaknya tak terlalu jauh dari masjid. Pak Rosyid belum berani menanyakan apa pun di jalan, ia lebih memilih diam untuk menghormati ranah privasi topik yang akan dibicarakan pak Haji Fahrur. Sesampainya di rumah, pak Haji Fahrur meminta istrinya untuk membuatkan 2 gelas teh manis hangat. Tanpa basa-basi istrinya langsung melaksanakan permintaan pak Haji Fahrur tersebut.

Baca Juga  Mama : Malaikat Dunia

“Mari, Pak, duduk! Silakan!”, pinta pak Haji Fahrur dengan ramah.

“Eh, baik, pak. Terima kasih”, pak Rosyid balas tersenyum.

Pak Haji Fahrur tidak langsung membahas niatnya yang sebenarnya. Ia berbincang ringan terlebih dahulu dengan pak Rosyid. Tak berselang lama, istri pak Haji Fahrur datang dengan membawa dua gelas teh manis hangat. Ia kemudian menaruhnya di atas meja.

“Oh, Pak Rosyid ternyata tamunya. Silakan Pak, diminum!”, istri pak Haji Fahrur menyapa pak Rosyid.

“Iya, Bu, terima kasih”. Pak Rosyid tersenyum.

Istri pak Rosyid kemudian meninggalkan ruang tamu, membiarkan suami dan tamunya berbincang lebih serius. Sepertinya ia memang sudah tahu apa yang akan disampaikan suaminya kepada pak Rosyid.

“Mari, Pak, diminum dulu!”, pak Haji Fahrur mempersilakan.

“Iya, Pak. Nanti aja nunggu agak dingin.”

*****

“Wah, nanti malah keburu nggak manis, Pak!”. Mereka berdua kemudian tertawa. Selepas habis tertawa, pak Haji Fahrur menarik napas. Pak Rosyid menyadari bahwa sekaranglah waktunya perbincangan serius. Pak Rosyid mempersiapkan diri atas segala yang disampaikan pak Haji Fahrur.

“Jadi begini, Pak. Maksud saya mengajak bapak kemari karena memang ada hal yang harus saya sampaikan, seperti sudah saya katakan waktu di masjid tadi. Bapak tahu sendiri bahwa umur saya sudah tak muda lagi. Oleh sebab itu, saya ingin memberi wasiat kepada bapak. Jika nanti saya sudah meninggal, saya mohon bapak bisa memenuhi wasiat saya ini.”

Pak Rosyid diam, ia tak mau memotong. Pak Rosyid menyimak dengan begitu saksama.

“Bapak sudah tahu kan bahwa tanah di dekat rumah bapak itu adalah tanah saya? Saya ingin membangun surau di sana. Bila nanti umur saya sudah habis, tolong bapak penuhi keinginan saya ini. Bapak tak perlu khawatir masalah biaya. Segalanya sudah saya persiapkan. Bapak nanti cukup menjadi koordinator pembangunan. Bagaimana, pak? Apakah bapak bersedia menjalankan wasiat dari saya ini?”, pak Haji Fahrur mengakhiri ucapannya.

Baca Juga  Yang Tak Terdefinisikan

Pak Rosyid masih terdiam. Ia masih belum yakin mau menjawab apa. Pak Rosyid kemudian teringat bahwa wasiat harus dipenuhi. Ia pun menjawab tanpa ragu, “Baik, Pak! Insyaallah saya akan memenuhi wasiat Bapak.”

“Alhamdulillah! Terima kasih banyak, Pak! Saya percaya sepenuhnya pada Bapak.”

Percakapan malam itu berlanjut pada hal-hal yang lebih detail. Pak Haji Fahrur juga telah menunjukkan detail dana kepada pak Rosyid. Gelas yang berisi teh manis pun akhirnya kosong. Jam telah menunjukkan pukul 9, percakapan perihal wasiat itu telah tuntas. Pak Rosyid kemudian pamit pulang.

*****

Esok harinya, pak Rosyid bertamu ke rumah pak Habib. Ia adalah imam sekaligus pemilik surau di daerah yang didiami pak Rosyid. Surau milik pak Habib sudah berdiri sejak lama, dan ia menjadi tempat sentral aktivitas keagamaan masyarakat di sana. Tanpa basa-basi yang panjang, pak Rosyid langsung menyampaikan maksud kedatangannya pada pak Habib.

“Begini, Pak! Saya tadi malam diberi wasiat oleh pak Haji Fahrur untuk membangun surau di tanahnya yang ada di dekat rumah saya itu. Bagaimana menurut Bapak?”, tanya pak Rosyid.

Pak Habib terdiam sejenak. Ia masih tak menyangka pak Fahrur memberi wasiat seperti itu pada pak Rosyid. “Bukan maksud saya tidak menyetujuinya, Pak! Tapi, bapak tahu sendiri bahwa jumlah masyarakat di sekitar sini masih sangat sedikit. Bahkan, surau kecil saya ini saja tak pernah penuh. Apa nanti pembangunan surau wasiat tersebut tak menimbulkan perpecahan bagi masyarakat?. Ditambah lagi, jarak surau saya dengan lokasi tanah pak Haji Fahrur yang hendak dibangun surau sangat dekat.”, pak Habib memberi pertimbangan dengan bijaksana.

“Tapi, Pak! Bukannya bapak sendiri tahu bahwa wasiat itu harus terpenuhi. Apalagi jika wasiat itu berupa hal baik”, pak Rosyid menyanggah.

“Iya, Pak! Saya juga paham bahwa membangun surau itu adalah hal yang baik. Tapi bila nanti ternyata memicu perpecahan masyarakat, apakah itu tetap menjadi hal yang baik?”, pak Habib masih bijaksana memberi pertimbangan.

Baca Juga  Ketika Suami Tercinta Tutup Usia

“Tapi wasiat itu harus terpenuhi, Pak! Apalagi Pak Haji Fahrur sudah mempersiapkan segalanya”, pak Rosyid membantah.

Merasa bahwa pak Rosyid tidak akan mau mengalah, akhirnya pak Habiblah yang mengalah. “Baiklah, Pak! Bila memang demikian, saya akan membantu bapak memenuhi wasiat tersebut semampu saya.”

*****

Lima tahun berselang, pak Haji Fahrur menemui ajalnya. Selepas satu bulan setelah kabar duka tersebut, pak Rosyid mulai melaksanakan wasiat dari pak Haji Fahrur. Batu pertama pun diletakkan, di bawah mentari yang masih belum terlalu tinggi. Esok hari, masyarakat diundang untuk kerja bakti membangun surau wasiat tersebut. Masyarakat sebenarnya kurang setuju dengan pembangunan surau itu. Alasannya persis dengan yang pak Habib sampaikan sebelumnya, karena memang itu realitanya.

Namun, sayangnya orang yang memberi wasiat sudah tidak ada. Akhirnya, mau-tidak mau masyarakat harus memenuhi undangan kerja bakti tersebut. Hanya satu orang yang teridentifikasi tidak datang dalam kerja bakti tersebut. Ia adalah pak Hasyim, adik dari pak Habib. Ia memang sangat tidak setuju dengan pembangunan tersebut. Bagaimana pun, didirikannya surau itu nanti akan memicu perpecahan di masyarakat.

Berbulan-bulan sudah pembangunan surau itu terjadi. Kini, surau itu berdiri megah di sebuah daerah yang begitu terpencil. Dan benar, sekarang masyarakat di daerah tersebut terpecah menjadi dua. Satu golongan adalah jamaah di surau yang sudah berdiri sejak lama, sementara golongan lain adalah jamaah di surau wasiat tersebut.

Kendati demikian, pak Rosyid tidak pernah merasa bersalah. Ia hanya merasa bahwa dirinya telah melaksanakan apa yang diwasiatkan oleh pak Haji Fahrur. Apa pun yang masyarakat sekitar katakan, pak Rosyid tetap merasa ia benar. Sekarang, pak Rosyid yang merupakan imam di surau wasiat tersebut bahkan memiliki niatan untuk mengubahnya menjadi masjid. Padahal, tidak jauh dari surau itu sudah ada masjid. Pak Rosyid sepertinya telah terlena dengan status yang ia sandang saat ini.

Bagikan
Post tags:
Post a Comment