f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
digital

Peran Strategis Perempuan di Era Digitalisasi

Era Digitalisasi di Indonesia berkembang dengan sangat signifikan beberapa tahun belakangan yang turut mendorong terciptanya ekosistem digital yang semakin baik. Pandemi yang melanda Indonesia sejak awal tahun 2020 lalu telah meningkatkan penggunaan internet dan mempercepat adopsi digital pada kegiatan sehari-hari; seperti kegiatan belajar mengajar di rumah, bekerja dari rumah, berbelanja hingga pemeriksaan kesehatan dilakukan melalui aplikasi digital. Dengan kemajuan teknologi yang cepat ini harus pula diiringi perkembangan kompetensi digital masyarakat yang perlu ditingkatkan; agar masyarakat semakin mampu beradaptasi menggunakan teknologi digital.

Berdasarkan Survei Literasi Digital di Indonesia 2021 oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) dan Katadata Insight Center (KIC), 56,6% responden adalah perempuan. Hal ini menunjukan bahwa dunia internet semakin banyak dijangkau oleh perempuan; yang mana artinya lebih banyak perempuan sebagai pengguna internet secara aktif daripada laki-laki. Tentu hal ini bukan hanya menjadi sebuah perkembangan yang baik dalam misi mewujudkan kesetaraan gender namun juga mengembangkan literasi digital yang baik di masyarakat Indonesia hari ini.

Oleh karena itu, sebagai pengguna aktif yang cukup dominan di internet; perempuan harus cakap dalam literasi digital sehingga mampu menciptakan ekosistem digital yang semakin baik. Ekosistem digital yang baik tentu akan membawa dampak yang beragam, menciptakan lingkungan internet yang positif, membawa positive vibes kepada pengguna internet lain; hingga turut memberdayakan pengguna internet lainnya dalam literasi digital yang baik. Tidak dipungkiri masyarakat hari ini semakin banyak yang menggunakan internet namun kecakapannya tidak turut berkembang pula; salah satunya yang sering kita temui adalah, bagaimana kabar palsu atau hoax masih banyak beredar di ekosistem media sosial, seperti whatsapp. Bukan hanya kabar palsu yang masih ramai bertebaran di ekosistem digital saja; namun masih banyak pula pengguna internet yang mengamini kabar-kabar yang belum pasti kebenarannya tetapi sudah turut mengonsumsi dan menyebar luaskan.

Baca Juga  Usai Idulfitri, Lalu Apa?
***

Di sini sebagai seorang perempuan yang kritis menjadi penting rasanya untuk melakukan verifikasi terhadap kabar atau informasi yang sampai pada kita sebelum kemudian kita turut menyebarluaskan pula. Ketika kabar atau informasi itu terbukti valid dan tidak merugikan; bukan hanya berdampak pada kita dalam mengkonsumsi informasi tersebut tetapi jauh lebih luas. Sebagai contoh ketika kita mampu memilah informasi dengan baik orang-orang disekitar seperti keluarga, teman; bahkan followers di media sosial akan terkena dampak yang baik yakni tidak mendapat informasi palsu. Kemudian bagaimana jika 56,6% perempuan yang turut dalam Survei Literasi Digital di Indonesia 2021 semua adalah perempuan kritis dan memahami literasi digital dengan baik? Tentu ekosistem media internet jauh mengalami peningkatan.

Sebagai perempuan yang sadar akan pentingnya kemampuan individu dalam bermedia, ini menjadi misi tersendiri untuk mewujudkan ekosistem digital yang baik. Tentu ekosistem digital yang baik tidak hanya memberi manfaat secara general kepada pengguna internet baik laki-laki maupun perempuan; baik remaja maupun manusia dewasa, namun ekosistem yang baik dan ramah akan lebih memberi dampak manfaat bagi kelompok-kelompok tertindas dan marjinal.

Dalam siaran pers peluncuran Program Digital Nasional “Makin Cakap Digital” oleh Kominfo Mei 2021 lalu, juru bicara Kominfo Dedy Permadi mengatakan ada 4 pilar utama dalam literasi digital; Etis Bermedia Digital; Aman Bermedia Digital; Cakap Bermedia Digital; dan Budaya Bermedia Digital. Sehingga bisa ditarik kesimpulan, 4 pilar ini adalah hal-hal yang harus dipahami dan diterapkan bagi pengguna internet dalam bermedia yang tak lain sebagai upaya literasi digital yang baik.

***

Aman bermedia digital, salah satu pilar utama dalam literasi digital yang hari ini belum terasa untuk seluruh elemen masyarakat Indonesia. Salah satu keresahan yang terjadi dalam media internet hari ini adalah masih maraknya Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) yang di mana ini sangat berlawanan dengan salah satu pilar utama literasi digital yakni Aman Bermedia Digital. Kekerasan ini tidak semata hanya berputar dalam pelecahan secara seksual saja yang difasilitasi oleh teknologi; namun segala yang merugikan individu seperti penyalahgunaan data pribadi sampai perdagangan perempuan secara online.

Baca Juga  Generasi Millenial dan Digitalisasi Zakat

Berdasarkan data dari Catatan Tahunan Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), terdapat setidaknya 1.385 kasus KBGO di Indonesia pada tahun 2018-2021, angka itu hanya laporan yang masuk dalam Komnas Perempuan saja; belum kasus-kasus KBGO lain yang tidak berhasil terjaring di Komnas Perempuan. Hal ini menunjukan bahwa media internet hari ini penggunanya belum banyak yang memiliki kesadaran terhadap literasi digital. Komnas Perempuan juga menyebutkan bahwa kasus KBGO terus meningkat setiap tahunnya, termasuk selama pandemi COVID-19.

Sejak pandemi lalu yang menyebabkan kegiatan sehari-hari beralih menjadi kegiatan dalam jaringan (daring) atau melalui internet; tentu membuka pelung besar untuk kasus KBGO terjadi. Apalagi untuk turut terlibat dan terdaftar sebagai user aplikasi sangatlah gampang; bahkan mampu membuat identitas user secara berulang dengan identitas berbeda. Hal ini lagi-lagi menjadi peluang mudah terjadinya kasus KBGO, seperti penghinaan dan pelecahan secara onlune hingga pencemaran nama baik.

***

Kemudian bagaimana peran kita sebagai perempuan kritis dalam menghadapi fenomena KBGO seperti ini? Tentu banyak sekali tersebar di media internet bagaimana agar terhindar dari KBGO, namun hanya melihat dari segi teknis saja. Lalu secara spesifik sebagai seorang perempuan, apa yang harus dilakukan. Tentu menjadi kesulitan tersendiri ketika mencoba memahami bagaimana agar terhindar dari KBGO; karena pintu utama terjadinya KBGO kendali penuhnya berasal dari pelaku sehingga meski kita sudah menyiapkan segala bentuk usaha preventif. Ketika pelaku memang memiliki niatan hal tersebut akan tetap terjadi namun dengan meminimalisir dampak buruk. Sehingga menjadi penting sekali pemahaman terhadap literasi digital secara tepat untuk seluruh elemen masyarakat.

Peran kita sebagai perempuan perlu dimulai dari hal-hal kecil di sekitar, diri sendiri, keluarga hingga pertemanan. Selain melakukan usaha-usaha preventif dalam hal teknis, seperti memilah password yang kuat, berhati-hati dengan URL yang dipendekan, hingga menjaga kerahasiaan data pribadi; perlu pula rasanya memperhatikan orang-orang di sekitar dalam bermedia sosial; bukan dalam artian membatasi untuk bermedia namun lebih dari sekedar itu. Sebagai orang terdekat menjadi elemen penting dalam mengingatkan bahkan mengarahkan untuk bijak bermedia.

Baca Juga  Peran Media dalam Menghadirkan Wacana Resistensi dalam Isu “Pernikahan Dini” di Masyarakat
***

Peran perempuan yang tak kalah memberikan pengaruh penting adalah bagaimana kecakapannya dalam bermedia melindungi generasi penerus bangsa sebagai seorang ibu atau seorang kakak. Salah satunya adalah karena hari ini hampir seluruh kegiatan sehari-hari beralih ke media internet salah satunya adalah kegiatan belajar. Hari ini anak-anak sekolah yang seharusnya belum layak usia maupun kecakapan untuk dibekali ponsel pintar, sudah lancar bermain benda pipih tersebut; tidak hanya bermain game namun juga sudah mahir menjelajah media internet untuk berinteraksi dengan masyarakat luas seperti whatsapp, Instagram, hingga tiktok. Di sinilah peran perempuan yang menjadi elemen terdekat dalam keluarga sebagai ibu, kakak maupun adik; untuk melindungi dan memantau anak-anak yang menggunakan media.

Oleh karena itu sebagai pengguna internet yang cukup banyak seharusnya perempuan mampu memberikan kontribusi yang cukup berdampak bagi perkembangan digitalisasi di Indonesia sehingga terciptanya ekosistem digital yang baik dan positif. Hal itu juga bukan hanya menjadi beban bagi perempuan saja; namun dengan fakta bahwa perempuan menjadi pengguna internet terbanyak hal ini menjadi misi untuk pemerintah agar terus memberdayakan perempuan dalam literasi digital yang baik.

Bagikan
Post a Comment