f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
kekerasan berbasis gender

Kekerasan Berbasis Gender di Masa Darurat Kemanusiaan

Berbicara mengenai masa darurat kemanusiaan, pada tulisan sebelumnya penulis sudah bercerita mengenai kelompok rentan di dalam situasi darurat kemanusiaan; khususnya dalam situasi bencana. Di berbagai kajian akademis, selain anak-anak dan manula, perempuan masuk kedalam kategori kelompok rentan yang harus mendapatkan perhatian khusus; baik oleh relawan kemanusiaan maupun masyarakat.

Salah satu alasan mengapa perempuan masuk kedalam kategori kelompok rentan adalah tingginya risiko kekerasan berbasis gender yang dialami oleh perempuan. Lantas, langkah-langkah mitigasi apa yang harus dilakukan sebagai upaya perlindungan terhadap perempuan dalam masa darurat kemanusiaan ?

Mengenai Darurat Kemanusiaan

Darurat kemanusiaan sangat mungkin terjadi di berbagai negara di dunia. Tanpa memandang etnis, ras, suku, kebangsaan, kondisi ekonomi, dan lain sebagainya. Darurat kemanusiaan seperti yang didefinisikan oleh Humanitarian Coalition ialah “An event or series of events that represents a critical threat to the health, safety, security or wellbeing of a community or other large group of people, usually over a wide area”.

Berdasarkan definisi di atas, ancaman-ancaman terhadap manusia berupa ancaman terhadap kesehatan, keselamatan, keamanan, dan kesejahteraan pada skala dan area tertentu, masuk kedalam darurat kemanusiaan.

Penulis dapat menyimpulkan bahwa konflik bersenjata, epidemi, kelaparan, bencana alam, bencana ekologi, dan bencana sosial yang menimpa suatu masyarakat dalam skala dan wilayah tertentu merupakan bentuk-bentuk darurat kemanusiaan.

Berkaca pada sejarah terbentuknya republik ini, berbagai darurat kemanusiaan pernah terjadi di beberapa daerah. Seperti: Konflik Bersenjata di Aceh dan Papua; Karhutla di Kalimantan; Tsunami dan Likuifaksi di Sulawesi Tengah; Erupsi Gunung Berapi di Pulau Jawa; dan berbagai kejadian lainnya.

Mengenai darurat kemanusiaan, masih banyak negara-negara di dunia yang belum memetakan dan merencanakan rencana kontijensi secara komprehensif terhadap potensi-potensi kejadian darurat kemanusiaan yang akan terjadi.

Baca Juga  Sepenting Apa sih Guru BK ?

Disisi lain, masih terdapat negara-negara yang berusaha untuk melakukan ekspansi dan realisasi tujuan yang tidak mengindahkan prinsip-prinsip kemanusiaan. Sehingga banyak tragedi darurat kemanusiaan yang muncul disebabkan oleh pihak-pihak eksternal.

Potensi Kekerasan Berbasis Gender

Kekerasan berbasis gender sangat marak terjadi sejak dulu hingga sekarang, baik secara langsung maupun tidak. Menurut catatan Komnas Perempuan, pada tahun 2019 terjadi 431.471 kasus kekerasan berbasis gender, korbannya adalah perempuan. Sehingga, dari statistik tersebut, dapat kita simpulkan bahwa potensi kekerasan masih amat sangat tinggi.

Miris memang ketika melihat data-data yang menunjukan tingkat kekerasan berbasis gender yang tinggi. Padahal, seperti yang kita ketahui bahwa kekerasan berbasis gender merupakan pelanggaran hak asasi manusia universal yang dilindungi oleh berbagai peraturan dan konvensi internasional.

Pada masa darurat kemanusiaan, bentuk-bentuk kekerasan berbasis gender sangat mudah terjadi. Terbukti dari beberapa data yang penulis dapatkan. Di antaranya: 50.000 pengungsi perempuan di Sierra Leone mendapatkan kekerasan seksual dari pihak bersenjata; 250.000 perempuan Tutsi di Rwanda (1994) menjadi korban pemerkosaan; dan dalam beberapa kesempatan respon bencana yang penulis ikuti ditemukan beberapa aduan dan praktik kekerasan berbasis gender yang dialami oleh penyintas maupun relawan.

Fakta di atas menjadi sebuah keprihatinan bersama, di mana pada situasi-situasi darurat seharusnya mengedepankan prinsip-prinsip kemanusiaan dan menjunjung tinggi hak asasi manusia. Bukan kejadian yang tidak diinginkan penyintas yang notabenenya adalah kelompok rentan. Adapun kekerasan berbasis gender yang berpotensi terjadi pada masa darurat kemanusiaan di antaranya: eksploitasi/penganiayaan seksual; kekerasan dalam rumah tangga; human trafficking; nikah/cerai paksa; dan pelecehan seksual.

Upaya Mitigasi

Karenanya, ada beberapa upaya pengurangan risiko atau yang lebih dikenal dengan mitigasi terhadap kekerasan berbasis gender pada saat masa darurat kemanusiaan. Tindakan-tindakan preventif ini harus dilakukan, baik oleh unsur-unsur pemerintah, penegak hukum, relawan maupun masyarakat secara umum.

  1. Melibatkan perempuan dalam penyusunan rencana kontijensi.
  2. Memberikan edukasi kepada pemerintah, relawan, stakeholder, dan seluruh masyarakat terkait perlindungan terhadap perempuan.
  3. Menyiapkan sarana dan prasarana pendukung yang memadai sebagai upaya kesiap siagaan terhadap kejadian darurat kemanusiaan.
  4. Membentuk tim-tim yang siap diterjunkan ketika terjadi kejadian yang termasuk darurat kemanusiaan, Adapun tim yang dibentuk harus memenuhi kriteria balancing/keterseimbangan SDM berbasis jenis kelamin dan gender.
  5. Membuat ruang aduan yang bisa diakses publik seluas-luasnya, dan diisi oleh petugas yang memiliki integritas, sehingga ruang aduan ini terjaga keamanannya bagi pengadu maupun penyintas.
  6. Memberikan pelatihan-pelatihan kepada seluruh elemen mengenai masalah kesetaraan gender, prinsip-prinsip acuan dan aturan-aturan baik nasional maupun internasional mengenai kekerasan berbasis gender.
  7. Memperkecil risiko eksploitasi seksual dan penganiayaan (SEA) terhadap komunitas masyarakat yang dituju oleh pekerja kemanusiaan dan pasukan perdamaian.
  8. Merancang rencana pengadaan fasilitas tempat pengungsian khusus yang diperuntukan bagi korban kekerasan berbasis gender.
Baca Juga  Viennetta dan Keinginan-Keinginan Kita

Permasalahan darurat kemanusiaan sangat berpotensi terjadi di sekeliling kita. Pun demikian dengan kekerasan berbasis gender. Untuk itu, marilah kita mempelajari dan mempersiapkan diri sejak dini terhadap ancaman kejadian darurat kemanusiaan yang berpotensi terjadi disekitar kita. Dan, marilah kita tingkatkan pengetahuan serta kepekaan kita terhadap keadilan gender juga pentingya upaya perlindungan terhadap kelompok rentan. Paling tidak, ketika kita sudah melakukan dua hal di atas, kita tidak menjadi pelaku kekerasan pada masa darurat kemanusian. Salam Tangguh !!!

Bagikan
Post a Comment