f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
idulfitri

Usai Idulfitri, Lalu Apa?

Idulfitri telah kita lewati. Momen setahun sekali ini umumnya dirayakan dengan istimewa. Bertemu keluarga, sanak saudara, dan seringnya disambung dengan liburan ke tempat-tempat wisata, biasanya menjadi salah satu kegiatan yang dilakukan selama merayakannya.

Setelah melalui perasaan senang dan bahagia melewati hari spesial ini, lalu apa? Sebelum kembali ke rutinitas masing-masing, adakah perayaan kemarin meninggalkan hal istimewa yang terekam di benak kalian, atau adakah sesuatu yang membekas di hati?

Apa yang kemudian tertinggal di sana, yang menjadi “alasan” untuk mengenang dan merindukan Idulfitri selanjutnya? Ketika Idulfitri menjadi sebuah harapan untuk bisa “lahir” kembali sebagai seorang manusia yang suci setelah sebulan berpuasa. Hal ini saja seharusnya sudah membuat kita bertanya-tanya.

Apakah Allah Swt. menerima ibadah puasa kita? Apakah Allah Swt. berkenan mensucikan diri kita saat 1 Syawal lalu? Dan apakah kita benar-benar telah mencapai kemenangan itu? Sudahkah kalian terpikirkan akan hal-hal ini?

Jika pertanyaan-pertanyaan tersebut yang mengganggu benak kita, saya rasa hal itu bisa menjadi “modal” untuk menyambut Ramadhan dan Idulfitri selanjutnya. Pertanyaan-pertanyaan itu bisa jadi pemicu untuk beribadah dan menjadi manusia yang lebih baik lagi.

Jika saya meyakini bahwa pada Idulfitri kemarin saya merasa terlahir kembali, saya justru takut bahwa tanpa sadar saya akan menjadi manusia yang sombong. Sisi ‘manusia’ saya akan merasa menjadi orang yang paling baik dan suci, merasa polos tidak berdosa dari sejak bangun tidur.

Kondisi ini justru membuat saya malu karena terlalu percaya diri bahwa ibadah Ramadan saya sudah sangat sempurna. Padahal, ‘sifat manusia’ saya bisa saja telah merusak makna “kelahiran kembali” itu, tanpa saya sadari. Contohnya seperti ini.

Baca Juga  Learning Loss Tidak Dalam Pendidikan Karakter

Ketika mau berangkat shalat Ied saja, saya sudah cemberut dan mengomeli Si Mbak karena sandal yang akan saya pakai terselip entah dimana. Dan ketika di lapangan, ternyata saya malah cekikikan sama Ibu, ngerasani jamaah lain yang berdandan heboh. Lalu, bagaimana mungkin saya merasa suci saat itu?

Tapi, jika saya merasa cemas bahwa belum tentu ibadah puasa saya diterima Allah Swt, mungkin saya justru akan berusaha tetap menjaga lisan, berusaha untuk tidak mudah emosi, tidak menunda-nunda shalat, atau berusaha memaklumi saja melihat jamaah yang berdandan heboh itu.

Di bulan Ramadan saja, bulan penuh rahmat dan pengampunan itu, ibadah saya belum tentu diterima. Bagaimana dengan ibadah saya di bulan-bulan lainnya? Tidakkah saya akan merasa bersalah jika setelah meninggalkan Ramadan perilaku saya justru tidak lebih baik dari sebelumnya?

Alih-alih introspeksi dan memperbaiki diri, selepas Idulfitri biasanya kita malah stres memikirkan hal-hal duniawi seperti sudah harus masuk kerja, atau melihat saldo tabungan yang menipis. Kita kecewa bukan karena perayaan hari suci ini usai, tapi karena liburan telah berakhir.

Terkait perkara ini, dari laman alodokter saya mengetahui adanya kondisi post holiday blues, mengacu pada perasaan sedih ketika liburan berakhir. Orang yang mengalami post holiday blues bisa saja mengalami depresi, stres, cemas, dan tidak bersemangat saat kembali menjalani aktivitas selepas liburan.

Padahal, liburan sejatinya dilakukan untuk membuat rileks, menyegarkan pikiran, memaksa kita istirahat sejenak dari rutinitas. Liburan justru seharusnya bisa menjadi amunisi penyemangat ketika harus memulai kembali aktivitas sehari-hari.  

Lalu, apakah momen perayaan Idulfitri bisa disamakan dengan momen liburan? Bisa ya, bisa juga tidak. Ya, Idulfitri bisa disamakan dengan momen liburan lainnya karena, untungnya, saat ini kita tinggal di negara yang memberikan kebijakan libur menjelang Idulfitri, dan tambahan beberapa hari setelahnya.

Baca Juga  Ritual Haji di Tengah Pandemi

Tapi, perayaan Idulfitri juga tidak bisa disamakan dengan liburan biasa, karena Idulfitri merupakan momen puncak ketakwaan, bukan puncak hura-hura. Liburan biasa memaksa kita mengeluarkan banyak uang, sementara Idulfitri sejatinya ‘hanya’ mewajibkan kita untuk mengeluarkan zakat fitrah.

Memang, perayaan Idulfitri ini tak jarang justru “mewajibkan” kita memiliki kemampuan finansial yang mumpuni. Namun, hal itu terkait pada tradisi-tradisi yang menyertai perayaan ini di negara kita. Pilihan kita lah untuk mengikutinya, menguranginya, atau mengabaikannya.

Jika seusai liburan kita bisa saja menderita post holiday blues seperti yang saya jelaskan sebelumnya, apakah seusai Idulfitri kita bisa merasakan sindrom yang sama? Kalau Idulfitri saya yakini sebagai sebuah momen kebebasan –bebas dari puasa, bebas dari iktikaf- bisa jadi saya sudah terkena sindrom ini.

Bagaimana jika seusai Idulfitri saya malah menunda-nunda shalat, abai dengan orang yang kesusahan, atau malas membaca Al-Quran? Bukankah saya sebenarnya sama saja dengan orang yang malas bekerja setelah liburannya usai?

Dan ketika sudah diliputi rasa malas itu, akan sulit sekali melawannya jika tidak punya motivasi yang kuat. Motivasi ini seharusnya bisa saya dapatkan dengan mengingat-ingat seberapa “benar” saya berpuasa, serta seberapa “baik” saya sudah memperbaiki diri saat Ramadan.

Idulfitri, harusnya bisa menjadi puncak pencapaian itu; puncak “evaluasi” itu. Dengan demikian, setelah Idulfitri kita justru semakin terpacu untuk meningkatkan ketakwaan, serta berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Setelah Idulfitri, saya ingin lebih sering bederma, ingin bisa lebih khusyu’ shalat, atau sekadar ingin bisa lebih menahan diri ketika mobil saya disalip motor ugal-ugalan misalnya. Itu, resolusiku usai Idulfitri ini. Bagaimana dengan kalian? Apa resolusimu?

Bagikan
Post tags:
Comments
  • Heru

    Tulisan yang cukup menginspirasi. Terima kasih Mbak Desi. Luar Biasa.

    April 27, 2023
  • Dessy

    Terima kasih mas Heru. Alhamdulillah jika bisa bermanfaat 🙏

    April 27, 2023
Post a Comment