f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
akhir waktu

Pendapat Imam Syafi’i Tentang Batasan Akhir Waktu Salat Maghrib

Menyangkut ritualitas ibadah, konsensus ulama telah merumuskan sebuah pedoman dasar, yaitu al-ashlu fil-‘ibaadaat al-tahriim (hukum asal seluruh ibadah adalah diharamkan). Artinya, setiap ritual ibadah tidak boleh dilakukan secara sembarangan, melainkan harus berdasarkan dalil dan sesuai dengan pedoman syariat. Termasuk halnya dalam penentuan waktu salat maktubah, sebagaimana firman Allah dipengujung ayat 103 dari Surah An-Nisa’;

اِنَّ الصَّلٰوةَ كَا نَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ كِتٰبًا مَّوْقُوْتًا

“… Sungguh, salat itu kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.”

Selain itu, Rasulullah SAW juga menjelaskan di dalam hadis riwayat Muslim No. Hadis 681;

لا يخرج وقت صلاة حتى يدخل وقت أخرى

Tidak akan keluar waktu salat yang satu, sampai masuk waktu salat yang lain (berikutnya).”

Adapun berkaitan dengan batasan akhir waktu salat magrib, Imam Syafi’i memiliki dua pendapat. Kedua pendapat Imam Syafi’i ini yang kemudian di dalam khazanah ilmu fikih akrab dikenal dengan istilah qaul qadiim dan qaul jadiid. Perbedaannya, jika qaul qadiim merupakan pendapat Imam Syafi’i ketika beliau masih tinggal di Baghdad, Irak (150-200 H). Sedangkan qaul jadiid ialah pendapatnya setelah pindah domisili ke Mesir (200-205 H).

Penentuan Qaul Qadiim

Menurut qaul qadiim, akhir waktu salat magrib ditentukan sampai mega/ awan berwarna merah (al-syafaq al-ahmar) di ufuk barat menghilang. Lebih lanjut, Syekh Zakariya al-Anshari dalam kitabnya yang berjudul Fathul Wahhaab bi Syarhi Manhajith Thullaab. Beliau memberikan pedoman tentang tata cara penentuan hilang tidaknya mega merah tersebut bagi daerah-daerah yang mengalami fenomena midnight sun.

Harus kita pahami bahwa midnight sun merupakan fenomena alamiah dengan komposisi siang dan malam yang tidak seimbang; waktu siangnya lebih panjang daripada waktu malamnya. Kondisi ini mengakibatkan malam hari yang lazimnya gelap, tampak begitu terang seperti halnya siang hari, sehingga mega-mega merah mustahil dapat terlihat. Hal ini lazim menimpa negara-negara yang secara geografis terletak di belahan bumi bagian utara, semisal Norwegia, Finlandia, dan Greenland.

Nah, bagi daerah-daerah tersebut, menurut Syekh al-Anshari penentuan hilangnya mega-mega merah sebagai pertanda berakhirnya waktu salat magrib mempunyai kriteria tersendiri. Dapat dilakukan dengan berpedoman pada hilangnya mega merah di daerah terdekat disekitarnya yang tidak mengalami fenomena midnight sun.

Batas Waktu Berdasarkan Qaul Jadiid

Sedangkan batasan akhir waktu salat magrib berdasarkan qaul jadiid adalah seukuran interval waktu yang dibutuhkan untuk melakukan serangkaian ibadah. Ibadah yang dilakukan antara lain mengumandangkan azan, berwudu atau tayamum, menutup aurat, dan melaksanakan lima rakaat salat. Lima rakaat salat yang dimaksudkan adalah dengan perincian tiga rakaat untuk salat magrib, ditambah dua rakaat untuk salat sunah setelahnya.

Sementara itu, setelah salat magrib terdapat salat sunah yang hukumnya sunah disebut dengan salat awabin. Dalam konteks ini salat awabin mestinya dilakukan dengan mengikuti pendapat ulama yang mengatakan bahwa salat awabin itu hanya terdiri atas dua rakaat. Teknisnya, bagi orang yang hendak melakukan salat bakdiah magrib dan salat awabin, dia dapat menggabung keduanya dalam satu salat dengan jatah dua rakaat tadi.

Berdasarkan kitab Fathul Mu’iin karangan Syekh Zainuddin ‘Abdul ‘Aziz bin Zainuddin al-Malibari lebih tepatnya tersurat pada halaman 33, di dalamnya membicarakan tentang jumlah rakaat salat awabin. Memang menyangkut bilangan rakaat salat awabin, ulama berselisih pendapat. Mulai dari yang mengatakan jumlah rakaatnya sebanyak dua puluh rakaat, enam rakaat, empat rakaat, hingga pendapat yang mengklaim salat awabin hanya boleh dilakukan dengan dua rakaat saja.

Perbedaan Mendasar Imam Syafi’i

Lantas, apa alasan di balik perbedaan qaul qadiim dan qaul jadiid-nya Imam Syafi’i ini? Alasannya karena hadis yang dijadikan sebagai dasar hukum bagi kedua qaul (pendapat) Imam Syafi’i tersebut berbeda. Adapun qaul qadiim berlandaskan pada hadis imaamatu jibriil yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas. Hadis imaamatu jibriil adalah hadis yang mengisahkan Rasulullah bermakmum kepada malaikat Jibril. Sedangkan qaul jadiid berpedoman pada hadis riwayat ‘Abdullah bin ‘Umar.

Di samping itu, batasan akhir waktu salat magrib versi qaul qadiim dianggap lebih sahih dibandingkan dengan yang versi qaul jadiid. Hal ini seperti termaktub dalam kitabnya Syekh Ibrahim al-Bajuri, Haasyiatul Baajuury. Syekh al-Bajuri pun mengategorikan qaul jadiid sebagai pendapat yang dho’iif  (lemah) sehingga kurang kuat untuk dijadikan pedoman hukum. Ditambah lagi, Imam Nawawi juga lebih mengunggulkan qaul qadiim daripada qaul jadiid.

Alhasil, versi qaul qadiim inilah yang hingga kini menjadi dasar penentuan waktu berakhirnya salat magrib. Kendati demikian, tak mengapa jikapun sekali waktu dalam kondisi-kondisi tertentu kita memedomani qaul jadiid. Sebab, setidaknya kedua pendapat tersebut sama-sama sebagai sebuah hasil ijtihadnya Imam Syafi’i. Hal ini sesuai dengan kaedah usul fiqh yang menyatakan bahwa suatu ijtihad tidak dapat dianulir oleh ijtihad yang lain (al-ijtihad laa yunqadhu bil ijtihad). Wallaahu a’lam bish-showaab. (Laeli)

Bagikan
Post a Comment