f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.

Mak Mani Ingin Melihat (1)

Di ujung kursi berbahan bambu rakitan sendiri, Pak Sale melamun. Ia kini hanya memikirkan cara bertahan hidup dan mengumpulkan tabungan untuk pengobatan istrinya yang buta sejak melahirkan anak ke dua.

 “Apa hari ini kita bisa menambah tabungan, Pak? Aku ingin segera bisa melihat, segera bisa melihat dunia ini kembali, bisa melihatmu yang juga semakin tua sama sepertiku, bisa melihat lezatnya makanan sebelum merasakannya. Aku ingin segera bisa melihat, Pak.” Ucap Mak Mani.

“Do’akan saja, Buk, hari ini aku akan membuatkan kandang ayam milik Haji Tohir yang kaya raya itu. Bapak yakin, hasil dari upahnya bisa untuk bekal kita makan hari ini, dan mungkin juga menambah tabungan untuk operasi mata.” Jawab Pak Sale menyakinkan harapan Mak Mani.

***

Pak Sale hanyalah seorang pengrajin bambu dan kayu tingkat kampung yang tidak terlalu populer namanya. Sedangkan Mak Mani adalah perempuan buta sekaligus istri, maka menjadi perjuangannya untuk mengembalikan penglihatannya.

Hari itu Pak Sale berangkat dengan tersendat-sendat seperti biasa. Sebab kakinya sudah tidak berfungsi dengan baik karena penyakit dan luka yang dulu terlambat diobati. Membawa perkakas komplit di dalam tas sekolah bekas anaknya dulu, berwajah lesu dan pasrah sembari memikirkan hidupnya yang tak kunjung berubah.

“Assalamualaikum” Suaranya tak bertenaga mengucap salam di depan rumah calon kliennya. “Waalaikumsalam, oh Pak Sale, mari langsung ke belakang rumah Pak, bahan-bahannya sudah saya siapkan” sambut Pak Haji Tohir. Melihat bambu membentang begitu panjang, tak perlu pikir lama, Pak Sale langsung memainkan perkakas-perkakas andalannya untuk merakit kandang ayam pesanan Haji Tohir.

Matahari tepat berada di tengah langit, sudah setengah hari Pak Sale memainkan perkakas-perkakas andalannya dengan napas terengah-engah dan keringat yang tak terhitung  tetesannya. “Istirahat dulu Pak, mari makan siang.” Panggil Haji Tohir merasa iba. “iyaa pak Haji, ini lagi tanggung.” Dengan wajah mulai kehabisan tenaga, keringat yang mulai kering, Pak Sale menancapkan paku pada bambu sekali lagi sembari mengingat kembali tabungan pengobatan mata sang istri yang tinggal 200 ribu lagi menuju cukup sebagai motivasi.

Baca Juga  Bertemu Kakek Pincang
***

Makan siang disantap dengan lahap, tenaganya terkuras habis akibat merakit kandang ayam yang saat ini sudah setengah jadi. Pak Sale memang sudah tua, tapi untuk urusan merangkit bambu, Pak Sale masih dibilang unggul secara pengalaman. Pekerjaannya sangat efektif dan tidak membuang banyak waktu.

Di tengah khusyuknya menyantap makanan, Pak Sale teringat istri tercintanya Mak Mani yang belum makan. “Pak Haji Tohir, apa saya boleh membungkuskan makanan ini untuk diantarkan ke istri saya di rumah? Saya yakin dia belum makan, karena memang tidak ada bahan makanan untuk dimasak di rumah.” Pinta Pak Sale setelah selesai melahap setengah jatah makanan yang diberikan Pak Haji Tohir kepadanya.

“Oh, silakan saja Pak, itu punya sampean habiskan saja, saya ambilkan lagi di dalam untuk istri bapak.” Jawab Pak Haji Tohir dengan ramah.

Pak Sale tersenyum lega, lalu berpamitan sebentar pada Pak Haji Tohir untuk mengantarkan makanan kepada istrinya di rumah.

Sesampainya di rumah…

“Assalamualaikum, Buk, ini ada makanan untuk makan siang. Untuk makan malam, nanti aku belanja ke warung dengan uang hasil kerja dari Pak Haji Tohir hari ini.”

“Waalaikumsalam, alhamdulillah iyaa, Pak.” Dengan meraba-raba sekitar, Mak Mani berusaha menggapai sebungkus nasi yang dibawa Pak Sale. Kemudian Pak Sale pamit untuk kembali ke rumah Pak Haji Tohir melanjutkan pekerjaannya yang sudah setengah jadi.

“Pak, apakah kau tidak merindukan anak-anak kita?” Tanya Mak Mani menghambat Pak Sale yang hendak beranjak pergi.

“Tentu saja aku rindu, Buk, tapi aku khawatir mereka merasa terganggu”

“Apa kita tidak mau menghubungi mereka untuk sekadar menanyakan kabar, Pak?” Tanya Mak Mani memelas agar Pak Sale mau menghubungi anak-anaknya yang entah di mana saat ini.

Baca Juga  Asih

Sudah 12 tahun kiranya Mak Mani tidak mendengar kabar dan suara anak-anaknya. Hal itu karena anak-anaknya tak pernah ingin diganggu oleh kabar apapun dari orang tuanya.

Pak Sale terdiam dan mengingat kejadian saat ia terakhir kali menghubungi anaknya yang pertama. Anaknya menghardik dan membentak untuk tak menghubunginya lagi, sebab pikir para anak-anaknya bahwa Pak Sale dan Mak Mani ketika menelepon hanya meminta uang dan uang. Mereka merasa risih dengan hal itu, sebab mereka juga mempunyai kebutuhan masing-masing yang dianggap lebih penting.

“Kita tak perlu minta uang pada mereka, Pak. kita langsung sampaikan saja bahwa kita punya uang. Hanya saja kita ingin tau kabar dan meminta saran rumah sakit yang bisa menyembuhkan mataku. Sehingga aku bisa melihat kembali.” Ucap Mak Mani seakan mengerti atas apa yang sedang dipikirkan Pak Sale.

“Iya, Buk. nanti selepas aku dapat upah dari Pak Haji Tohir dan semoga tabungan kita sudah cukup untuk pengobatan mata, kita telepon anak-anak kita.” Kemudian Pak Sale mengecup kening Mak Mani lalu beranjak pergi menuju rumah Pak Haji Tohir.

Bagikan
Comments
Post a Comment