Bertemu Kakek Pincang
Sebagai pria yang sudah terlalu lama sendiri, setiap pandangan kepada orang lain bagaikan duri, laksana lebah yang madunya dicuri. Melirik kesana kemari tuk mengobati rasa benci. Bagaimanapun juga Agung bermimpi agar selalu lahir di pikiran orang yang peduli akan dirinya.
Meskipun kadang ia merasa muak dengan kelakuan semua orang saat ini. Ya begitu menyedihkan hidupnya. Sehari-hari Agung hanya mengurung diri di kamar mendengarkan iringan musik klasik dari radio kesayangannya, yang merupakan satu-satunya hadiah dari mendiang Ibunya.
Dalam satu dekade terakhir, Agung tertimpa kemalangan yang bertubi-tubi. Ayahnya yang dulu menjadi sosok yang amat ia kagumi, ternyata berprofesi sebagai penjudi. Makan uang haram sana sini. Lantas, Ibunya yang tak cukup bersabar memutuskan pergi meninggalkan Agung yang baru saja melepas masa remajanya. Saat ini Agung merasa tinggal sendiri meski ayahnya menemani.
Namun Agung sadar, orang sepertinya bukan hanya dia seorang di muka bumi. Padahal dia hanya seorang manusia biasa yang ingin menanti momen tuk memberikan atensi akan eksistensinya, bukan seperti sebidang tanah becek yang diinjak-injak para pejalan kaki.
Mengenal Kehidupan Orang Lain
Di sudut kamarnya yang sepi yang hanya bisa ia lakukan hanyalah memperhatikan jarum jam berputar, sembari bernostalgia akan masa-masa kecilnya dulu yang penuh kebahagiaan dengan Ayah dan ibunya. Sesekali angan indah yang ia bayangkan serasa tenggelam dalam kegelapan. Sekilas berubah menjadi gambaran menyeramkan saat ibunya yang polos lagi anggun disiksa oleh Ayah iblisnya dulu.
Ggggrrrrrr.. Aaaahhhh.. Aungan keras secara spontan selalu Agung lontarkan, setiap kali teringat perlakuan hewani yang dilakukan Ayahnya.
“Agung dimakan dulu nak nasinya, kamu dari siang belum makan sama sekali kan?,” Rayu salah satu tetangganya, yang silih berganti memberikan makanan kepada Agung, untuk sekedar mengurangi ratapan pilu seorang anak kangguru.
“Iya tante makasih banyak sayur sama lauknya.” sahutnya, sambil membawa makanan tersebut ke dalam rumah.
Mentari mulai terlihat memerah tersipu malu, begitu mempesona apalagi senyumannya yang senantiasa menyilaukan teras rumah. Jika saja mentari tersebut tersenyum kepada selain Agung, pasti orang tersebut akan terangsang. Jatuh cinta dalam rona senja. Namun tidak untuk Agung, saat itulah menjadi waktu dimana rumah terasa seperti kebun Raflesia Arnoldi, yang membuat lalat pun terbang tak terkendali.
Saat dimana Ayahnya yang ia benci, kembali dari dunianya yang entah berantah. Layaknya itik kotor yang berenang-renang menyusuri rawa, lalu pulang dengan pakaian lusuh dan perut buncitnya.
“Gung, ini ayah bawakan sate angsa kesukaanmu, dimakan ya!” pinta Ayahnya, dengan nada lembut yang sesekali berusaha memanjakan anaknya.
“Sudahlah yah, gak perlu repot-repot seperti ini. Mana aku mau makan dari hasil batil yang kau lakukan!” keluh Agung sambil meninggikan suaranya.
Seketika itu plakk.. tamparan keras sang ayah mendarat di pipi kanan Agung. Tentu saja tamparan tersebut tak hanya menyakiti fisiknya, psikis Agung pun iya. Ayah syetan..! teriak Agung dalam lubuk hatinya. Seketika itu Agung meninggalkan rumah, menggenakan topi hitam kesayangannya guna menyamarkan wajah dan matanya yang berkunang nan memerah.
Kakek Tua Pincang
Menjelang terbenam, Agung sampai di warung kopi yang berlokasi cukup jauh dari kediamannya. Di warung tersebut ia duduk di samping jendela, tuk menadah angin sembari melihat jamaah yang berlalu lalang. Ketika cangkir kopi yang belum sepenuhnya dinikmati, tendengar kumandang adzan magrib. Hati dan raganya tak bergeming sedikit pun. Sebab maklum adanya, sudah lama ia tak menjalankan rutinitasnya tersebut. Agung telah terlanjur kecewa, tak peduli lagi dengan tuhannya apalagi orang disekitarnya.
Menjelang iqomah, seorang kakek tua dengan jalannya yang terpincang nan payah, menapaki trotoar. Selangkah demi selangkah sambil berpegangan pada ranting pohon. Berpeci lusuh dan berpakaian seadanya.
Dalam gumamnya Agung mencibir “Dengan kondisinya yang sudah begitu parah, mengapa dia masih begitu bergairah, emang apa untungnya?”. Hingga sholat magrib telah usai, satu persatu jamaah kembali keperantauannya namun tak untuk kakek tadi. Beliau masih membisu di dalam masjid, duduk menyila sambil komat-kamit bak membaca doa. Sehingga rasa penasaran yang berlipat ganda terlintas di benak Agung.
Adzan isya’ pun menyapa, ia tak mau semakin menderita dengan rasa penasaran yang ia derita. Agung memutuskan mendirikan sholat yang telah lama ia anggap hal yang sia-sia. Walau sebenarnya ia sangat malu karena penuh dosa, dan telah lama ia meninggalkannya. Sebab motivasinya untuk bertemu kakek tua tadi, akhirnya ia pun memberanikan dirinya.
Nasehat Kakek Pincang
Dengan bacaan sholat seadanya, ia merasa apa yang ia lakukan cukup menghiburnya, dari pada sekedar meneguk kopi di warung biasa. Sholat pun usai, ia ingin sekali segera menghampiri sang kakek. Namun tiba-tiba sang kakek justru memanggil Agung. Ia amat kaget, namun merasa lega karena tak perlu menghampiri, tuk meminta waktunya.
“Hmm anu kek..”
“Nak, kakek boleh bertanya?” sang kakek langsung memotong ucapan agung. Dan Agung pun hanya mengangguk mengiyakan.
“Kamu kok kelihatannya baru pertama sholat disini, bukan orang sini ya? Dan sepertinya kamu lagi banyak masalah, benar?”
Sudah kuduga dari awal, orang ini bukan orang biasa. Ucap Agung dalam hatinya. Lalu lagi-lagi Agung hanya mengangguk.
“Gini nak, pada dasarnya manusia pasti cenderung melakukan hal yang tercela, karena manusia diberikan hawa nafsu dalam dirinya. Akan tetapi, manusia pun dibekali dengan akal dan hati nurani sehingga bisa membedakan mana yang baik dan yang tidak. Karena apa nak? Sebab, segala hal yang kita usahakan sekarang dalam bentuk kebaikan, merupakan iktikad baik kita di hari esok. Kita tak pernah tahu kelak akan seperti apa, dan tak mungkin selalu berjalan sesuai ekspektasi kita. Maka teruslah berusaha. Contoh kecil, kamu sebagai anak, maka tugasmu berbakti kepada orang tuamu, mematuhinya selama dalam koridor kebaikan. Mengapa? Karena kelak kamu juga akan menjadi orang tua, dan yang pasti kamu tak mungkin mau jika anakmu durhaka kepadamu. Dan cukuplah kamu bersabar jika orangtuamu bermaksiat. Bencilah perbuatan mereka, namun tidak untuk orangnya,” kata kakek.
Hening sejenak, dan kakek pun melanjutkan “Engkau doakan mereka agar kembali ke jalannya. Sebab kebencian, kemarahan, dan emosi hanya akan menyakitimu, meninggalkan bekas hitam yang semakin lama akan menjauhkanmu dari sifat manusiawi. Nak, nampak jelas kebencian di matamu, namun aku menatap kedalam lagi sebenarnya kesedihan menyelimutimu. Menangislah tumpahkanlah semua kesedihan-kesedihanmu itu, agar hatimu tak keras bak batu dan terpancar senyuman di matamu.”
Kesedihan yang Terpendam
Seketika itu Agung tak kuat lagi menahan air matanya, ia menangis menjadi-jadi, deras air matanya tak bisa ia bendung meski kedua tangannya menutupi. Akhirnya kebencian, kesedihan, amarah dan emosi sirna begitu saja saat Agung meresapi kata-demi kata yang kakek pincang itu katakan. Kini Agung merasa lega. Dengan segera ia mengusap bekas air mata yang berkilau di pipinya. Agung tak cukup banyak bicara, bagaikan kaktus yang kedinginan meski terpapar mentari.
“Kek, dengan kondisi kakek yang seperti ini, mengapa kakek repot-repot jalan kaki hanya untuk sholat di masjid?” tanya Agung.
“Karena aku sangat bersyukur. Sebab kesempatan untuk beramal sholeh tak semua orang bisa mendapatkannya. Kedekatan kita dengan Tuhan yang maha kuasa tak akan ternilai harganya. Ketenangan hati dan kehidupan yang haqiqi akan diperoleh jika kita mau menjadi hambanya yang taat. Nak, memang semua itu sulit tuk didapati kecuali orang yang senantiasa memperoleh hidayah, maka cobalah untuk menjemputnya. Lelah..? Itu pasti, cobaan pun akan silih berganti,” jelas kakek sembari menepuk-nepuk bahuku.
Kakek berkata maka cobalah belajar tuk terbang, jangan belajar layaknya kupu-kupu yang mudah terhempas oleh angin di kala meramu. Jadilah elang, yang tak gentar diterpa badai, menerobos awan penuh kebanggaan. Belajarlah menjadi kuat layaknya pohon. Jangan seperti pohon bambu yang hanya mengikuti angin melulu, terhempas ke utara dan keselatan. Jadilah pohon oak yang tak gentar dan penuh kekuatan.
Kebencian yang Mengakibatkan Rasa Sakit
Malam pun mulai dihiasi oleh gelap, sungguh pertemuan yang luar biasa, seorang kakek pincang yang mampu menginterfensi pemikiran bocah badung, menjadi sosok anak yang beruntung. Agung pun pulang berpamitan dan mencium mesra tangan sang kakek. Kalimat-demi kalimat terus terngiang di gendang telinga, menerobos masuk hingga mengalir di urat nadi, hingga menggetarkan sendi. Agung akhirnya sadar, semua rasa sakit yang ia rasakan ternyata disebabkan oleh kebencian serta dirinya yang jauh dari tuhan.
Sampailah Agung di sebelah rumahnya, terlihat jelas sang ayah yang terlihat cemas menanti anaknya yang pergi entah kemana. Melihat wajah sang Ayah, mata Agung mulai berkaca-kaca. Ia tak menyangka, ternyata sang ayah yang sebelumnya menjadi musuh bebuyutannya begitu mengkhawatirkannya. Agung berlari sekuat tenaga memeluk mencengkram dada ayahnya, laksana rumput teki yang ditinggal fajar, lalu bertemu dengan embun yang membasahinya.
“Ayah Agung minta maaf.. Agung minta maaf.. sekali lagi minta maaf.” Maaf dan maaf terlontar dari mulut yang sebelumnya membisu.
“Tidak nak, ayah lah yang seharusnya minta maaf, gara-gara ayah ibumu pergi, gara-gara ayah hidupmu lusuh seperti karung goni, maafkan ayah ya nak..!” tangis sang ayah.
Keesokan harinya, akhirnya ayah dan anak tersebut mampu merasakan kehangatan sang surya bersama. Melompat jauh ke depan, menguarai kembali benang-benang patah, menyatukan kembali pecahan kaca yang pecah. Meski terasa runyam tuk seperti sedia kala, namun keduanya saling berjanji tuk menjaga dalam ikatan anak dan orang tua yang sebenar-benarnya. (s)
Mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra UIN Malang
