f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
bola galang

Bola Kesayangan Galang

Huma masih terengah-engah ketika ia sampai di puncak bukit kecil itu. Peluhnya bercucuran membasahi dahi dan punggungnya. Titik-titik keringat kecil tampak di kedua lengannya. Matahari masih terik siang itu, seakan enggan tenggelam menyerahkan hari pada malam. Puncak bukit itu kering. Terdapat beberapa tanaman semak bergerombol di beberapa bagian bukit. Ada juga beberapa pohon kecil seperti bidara dan asam, tak cukup menaungi bukit dan memberi kesejukan di sore hari yang gerah itu.

Huma mulai mencari-cari. Tangannya menyibak beberapa rumpun semak-semak. Sesekali ia mengorek-ngorek gundukan yang ia curigai. Namun, yang ia cari tak kunjung ketemu. Badannya sudah mulai lelah. Tenggorokannya juga sudah mulai kering. Menyesal ia tak membawa botol airnya. Matahari mulai condong, langit di ufuk barat mulai kuning. Huma merasa terburu-buru untuk mencari sebelum hari mulai bertambah sore.

Akhirnya Huma menyerah. Warna merah mulai tampak di langit di ufuk barat. Dia harus segera pulang sebelum Emak ribut mencarinya kesana kemari. Huma menghela nafas. Dia harus bersabar untuk melanjutkan pencariannya pada esok hari.

Malam itu Huma tak langsung tidur. Ia memikirkan jam berapa ia harus memulai pencariannya esok. Ia berpikir mungkin bisa memulai pencariannya lebih siang. Kemudian ia teringat janjinya pada Bapak untuk membantu mencari rumput untuk sapi-sapinya. Huma berbalik lagi, gelisah. “Duk!” Lututnya menghantam dinding papan kamar tidurnya. Ia meringis kesakitan. Perlahan ia tertidur. Malam itu ia bermimpi tersesat di bukit kecil itu.

***

Keesokan harinya, selepas membantu Bapak mencari rumput, Huma bergegas berangkat menuju bukit kecil itu. Tak lupa ia membawa ransel kumalnya berisi botol air. Ia tak ingin kehausan seperti hari sebelumnya. Tekadnya bulat. Hari ini dia harus menemukan yang ia cari.

Baca Juga  Bertemu Kakek Pincang

Bukit kecil itu seperti kemarin. Berdiri tegak di pinggir desa, berbatu dan tak terlalu tinggi. Pohon-pohon jarang tumbuh di sana. Hanya ada pohon-pohon kecil yang bagi Huma tak pernah bertambah besar. Pohon asam, bidara atau pohon jarak, pohon-pohon khas daerah itu. Rumput-rumput tinggi tampak lebat di beberapa bagian bukit. Ada juga rumpun semak-semak yang tumbuh, lebih banyak dari pohon. Saat kemarau tiba, bukit itu terlihat coklat kemerah-merahan dari kejauhan. Rumput-rumput dan semak-semaknya terlihat kuning kecoklatan, meranggas.

Huma mulai mendaki bukit itu. Dalam perjalanannya ke puncak, tak lupa Huma menyibak semak-semak di beberapa bagian. Ia melewati ranting bidara yang tampak menggiurkan. Buah-buah bulat yang sudah ranum seperti melambai ke Huma untuk dipetik. Huma menggeleng, ia harus fokus pada tujuannya: mencari.

Huma mulai lelah ketika ia melihat sesuatu berwarna putih di balik batu, di antara rumpun tanaman jarak dan paria yang merambat. Matanya mengerut, mencoba melihat jelas ke kejauhan. “Mungkinkah itu?” Pikir Huma. Perlahan dia berjalan ke arah rumpun jarak itu. Dadanya berdegup kencang, dia berharap cemas.

“Yihaaaaa!” Teriakan Huma terdengar keras di seantero bukit. Dengan sadar dia menari kegirangan. Apa yang sudah dua hari ini ia cari sudah ketemu. Bola milik Galang. Dia mencium bola itu berkali-kali. Huma mengambil ranselnya dan memasukkan bola itu ke ransel. Langkahnya ringan menuruni bukit. Senyumnya lebar. Ia tak sabar untuk segera menemui Galang.

***

Huma mengingat-ingat. Dua hari yang lalu ia bermain bola dengan Galang di puncak bukit itu.

“Lihat, bola ini bagus kan?” Pamer Galang pada Huma.

Huma mengangguk kagum. Bola sepak berwarna putih yang ada di tangan Galang memang bagus. Bola itu mirip dengan bola sepak yang mereka lihat di pertandingan di tv. Bahannya tebal. Tampaknya terbuat dari kulit.

Baca Juga  Kisah Persahabatan Dua Bunga

“Bola ini oleh-oleh dari Ayah,” kata Galang bangga, “Ia tahu kalau aku suka bermain sepak bola.”

Ayahnya Galang adalah TKI yang bekerja di Taiwan. Baru-baru ini ia pulang. Galang bahagia sekali karena sudah 2 tahun ia tak bertemu ayahnya, apalagi dioleh-olehi bola sepak yang bagus.

“Kapan ya aku bisa punya bola seperti ini,” gumam Huma. Ia berpikir bapaknya tak akan sanggup membelikannya bola sepak sebagus itu.

“Kau tak perlu beli, kan kita bisa selalu main bersama,” Galang berkata riang.

Kedua sahabat itu bermain dengan gembira di atas bukit itu, di bagian puncaknya yang datar. Sesekali Galang menyundul bola dengan kepalanya dan mengoper ke Huma. Huma menerima bola dengan tangkas. Mereka bermain sampai lupa waktu sampai suatu ketika Huma menendang bola dengan sangat kuat. Bola melambung dan menghilang. Mereka sempat mencari, tetapi bola itu tak ketemu. Kemudian, hari beranjak gelap.

“Kau menendang terlalu kuat, bolaku hilang!” Galang berseru keras dan hampir menangis.

“Aku tak sengaja,” Huma berkelit.

“Awas saja kalau bolaku benar-benar hilang,” kata Galang geram dan berlari pulang.

Keesokan harinya, Galang tak masuk sekolah. Kata Ibunya dia sakit flu. Huma merasa bersalah. Ia khawatir kalau bola itu benar-benar hilang. Ia memutuskan untuk mencari sendiri.

***

Huma melangkah sambil bersenandung kecil. Ranselnya terayun-ayun dengan benda bulat besar di dalamnya, bolanya Galang. Ia tak sabar segera sampai ke rumah Galang dan menengok Galang yang sakit.

“Ketika Galang sembuh, kami bisa bermain bersama lagi,” gumam Huma gembira. Huma tersenyum lebar, bergegas menuju rumah Galang.

Bagikan
Post a Comment