f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
pisah

Maling Kualat: Senjata Makan Tuan (2)

Lima menit waktu berjalan dengan cepat. Selama itu pula Jefri dan Mail mencari tempat persembunyian kunci lemari milik Supri.

“Sepertinya, ia membawa kuncinya.” Mail memandang pasrah kepada Jefri.

“Sebentar, jangan dulu menyerah. Aku yakin dia menyembunyikan kuncinya sekitar sini. Tempo hari aku melihatnya. Bersabarlah sedikit lagi.” Jefri membalas dengan penuh ambisius. Meskipun pencariannya belum membuahkan hasil, ia bersikeras akan menemukannya.

Ketika tangan Jefri menggapai belakang lemari, tidak sengaja ia menyenggol sesuatu dan bunyi gemericik jatuh. Keduanya tercekar dan saling pandang. Bergumam dalam hati masing-masing “Ya ini yang kita cari-cari dari tadi.”

Lemari Harta Karun

Keduanya terpana, saat melihat isi lemari Supri. Banyak sekali makanan tertimbun di dalamnya. Dari mie instan, susu krimer, biskuit dan roti yang mulai tumbuh bintik jamur. Mereka berdua, mengeluarkan semua isi dalam lemari dan mulai menyeleksi mana saja yang akan dijarah.

Kepulangan Supri membawa kesenangan tehadap Jufri dan teman-temannya. Malam itu mereka berpesta pora menghabiskan seluruh makanan dalam lemarinya. Tidak menyisakannya sedikitpun, kecuali roti yang telah tumbuh benih jamur tadi.

Karena sebenarnya Supri terkenal seorang yang sangat pelit. Jarang sekali ia membagikan makanannya ketika selesai kiriman. Niat Jufri bersama teman-temannya sebenarnya hanya untuk memberikan pelajaran kepadanya. Bahwa maling pun akan dimalingi.

Maling pun akan Dimalingi

Sepulang Supri dari rumah, ia terkejut melihat keadaan  lemarinya dengan kondisi terbuka lebar. Memperlihatkan isi yang semrawut seperti telah diacak-acak oleh seseorang. Semua barang di rak ketiganya habis tanpa sisa. Makanan yang selama ini ia simpan mendadak raib. Kecuali roti dengan bintik jamur yang sudah satu minggu lebih expired.

Supri sempat menangisi kehilangan barang-barangnya. Ia meraung keras di dalam kamar. Teman-temannya satu kamar kebetulan sedang di luar. Sehingga ia bisa dengan puas meraung sejadi-jadinya. Sedangkan sang ayah yang ikut menghantarkannya hanya bisa melihat geram. Siapa gerangangan yang telah menjarah lemari anaknya.

Baca Juga  Dea, Anakku

Ia mengadukan kejadian ini bersana ayahnya  kepada penjaga kamar, yaitu Kang Adnan. Yang tempo hari memergoki dirinya membuka lemari orang.

Malam Interogasi

Malamnya, kang Adnan berinisitif melakukan interogasi. Ia menyuruh kepada seluruh anggota kamar Supri untuk berkumpul.

“Baiklah semua anak kamar C 2 berkumpul, semuanya harus hadir!” Perintah Kang Adnan, kepada Supri.  

Terkumpulllah semua anggota kamar termasuk Supri yang menjadi korban. Seluruh anggota berdiri satu saf seperti hendak sholat. Dan menghadap ke arah Kang Adnan.

“Salah satu teman kita Supri telah dijebol lemarinya. Dan raib semua barang-barang miliknya seperti makanan dan lain-lain”. Kang Adnan membuka interogasi degan sedikit basa-basi.

“Dikumpulkannya kalian disini, untuk mengetahui siapa gerangan yang telah mengambil hak Supri secara paksa. Dengan menjebol lemari beserta menjarah sebagian barang-barangnya. Langsung saja siapakah yang mencuri!” Lantang suara Kang Adnan, menggema di relung telinga seluruh anggota kamarnya. Atmosfir udara didalam kamar sedikit naik. Menimbulkan rasa takut pada setiap jiwa yang bersalah.

Dengan serentak, semua anggota kamar menjawab. “Kami yang mencurinya secara bersamaan.” Kang Adnan tersentak kaget. Tidak habis pikir teman satu kamar yang mencuri barang-barang Supri.

Eksekusi

Supri hanya melongo separuh tak percaya. Air mukanya tiba-tiba masam. Dahinya berkerut membuat banyak lipatan. Wajahnya perlahan berubah menjadi merah padam. Ia  nampak kesal dan marah.

“Baiklah, karena sudah jelas siapa pencurinya. Maka malam ini akan diadili semuanya.” Suara kang Adnan terdengar bijak.

“Supri, silahkan lakukan sesuka hatimu untuk melampiaskan kesal dan amarah yang sedang menyelimutimu”. Kang Adnan mempersilahkah Supri yang mengeksekusi pencurinya sendiri.

Tanpa perintah kedua kalinya, Supri langsung membabi buta mengamuk ke arah teman-temannya. Tangannya melayang menghantam setiap pipi dari keseluruhan anggota kamarnya. PLAAK!!!. Suara tangan beradu dengan pipi. Sebagian temannya meringis kesakitan.

Baca Juga  Mitos Makanan yang Merugikan Perempuan

Usai sudah eksekusi yang telah dilakukakn Supri, ia merasa sedikit lega telah melampiaskan separuh rasa kesal dan amarahnya. Kang Adnan kembali masuk dan mengajak keseluruhan anggota kamar untuk pergi bersamannya kecuali Supri.

Drama Kang Adnan

“Baiklah semuanya terima kasih telah membantu dalam kegiatan drama kecil ini”. Kang Adnan membuka obrolan. Semua anggota kamar saling menatap bingung kecuali Jefri. Ia tersenyum geli seperti menyembunyikan sesuatu.

“Walaupun sebagian dari kalian masih meringis kesakitan akibat ulah tangan Supri, saya meminta maaf sebesar-besarnya.  Rasa sakit ini hanya sementara setelah mendengar cerita ini, mungkin kalian akan tertawa terpingkal-pingkal”. Kang Adnan kembali melanjutkan kalimatnya dan pandangannya menoleh kepada Jefri, memberikan isyarat kepadanya agar menceritakan yang sebenarnya.

“Baiklah kawan-kawan. Sebenarnya kemarin lusa aku memprovokasi  kalian untuk menjebol lemari Supri, yakni berdasarkan perintah dari kang Adnan langsung”.

“Beliau juga tahu seberapa seringnya Supri masuk ke kamar orang lain dan mengambil yang bukan miliknya. Dan tepat dua minggu yang lalu, lemari kang Adnan yang menjadi target sasaran Supri. Akibat geram, ia merencanakan sesuatu untuk membuatnya kapok. Dan tersusunlah rencana drama kecil ini”.

Amir, Anto, Mail, dan keseluruhan anggota kamar tertawa riuh. Mereka baru mengetahui fakta yang sebenarnya. Mereka semua menertawai drama kecil terselubung ini. Mereka tidak sadar telah dikerjai oleh kang Adnan. Tapi tak mengapa ini semua demi Supri. Dan mempertegas bahwa maling pun pasti akan dimalingin.

Bagikan
Post a Comment