Semangka Ama Rino
Duk!
“Aduh!” Suara benturan keras terdengar. Dilanjutkan dengan erangan Dito. Dia tersandung dan menabrak pagar. Vita dan Kali menoleh jengkel pada Dito.
“Sssst!” Vita melotot pada Dito.
“Aku tidak sengaja,” elak Dito.
Ketiga sahabat itu mengendap-endap
“Di sana!” Suara Kali melerai mereka. Vita dan Dito mengikuti telunjuk Kali. Tampak di depan mereka sebuah semangka bulat yang ranum. Warnanya kulit semangka itu mengkilat, dengan belang khas semangka yang sehat. Garis putih yang tebal. Langkah mereka cepat berjingkat di antara sulur-sulur semangka yang menjalar di tanah. Dito yang paling cepat sampai ke semangka itu. Cepat Dito memetiknya. Dia berhasil. Dengan bangga, diangkatnya semangka ranum itu tinggi-tinggi.
“Tunggu dulu, itu terlalu..” bisik Vita.
“Buk!” Belum selesai Vita berbicara, semangka itu jatuh berdebuk, menghantam tanah dan pecah.
“..berat,” Vita menyelesaikan kalimatnya dengan putus asa.
Daging buah semangka ranum itu terserak di depan mereka bertiga. Kali melotot jengkel, menoleh bergantian ke semangka dan Dito.
“Siapa itu?” terdengar pintu berderit membuka dan suara berat bertanya.
Vita, Kali dan Dito saling menatap seram. Tanpa banyak bicara mereka melesat lari menuju pintu keluar kebun semangka itu.
***
Sore, keesokan harinya, Dito dan Kali bertemu di surau untuk mengaji. Suara anak-anak bercampur aduk melafalkan huruf-huruf Al Quran dan Juz Amma. Ada beberapa dari mereka yang sudah mahir membaca, melagukan ayat-ayat dari Al Quran. Suara mereka riuh rendah membaur menjadi satu. Dito yang duduk agak jauh mendekati Kali yang sedang tekun mengeja Juz Amma.
“Kali,” bisik Dito.
Kali tak menoleh. Dia tetap tekun berkonsentrasi dengan bacaannya.
“Kali,” bisik Dito agak keras.
Kali menoleh jengkel karena merasa diganggu oleh Dito. Matanya melirik Haji Dole, guru ngaji mereka yang terkantuk-kantuk duduk di kursi besarnya.
“Kita akan kembali ke sana tidak nanti?” tanya Dito.
“Ke mana?” Kali balik bertanya.
“Kebun semangka.” Dito mengedipkan matanya.
“Nggak,” Kali menjawab tegas, “Kamu tak ingat kita hampir ketahuan kemarin? Kamu mau Ama Rino menunggu kita dengan parangnya?”
“Kita bisa lebih hati-hati nanti,” bujuk Dito.
Kali jengkel mendengar kata-kata Dito. Kemarin, Ditolah yang mengacaukan semuanya. Dia yang ceroboh menjatuhkan semangka besar itu sehingga terdengar oleh Ama Rino.
“Pokoknya aku tak mau kembali ke sana,” akhir Kali dengan tegas. Matanya melirik Haji Dole yang masih terkantuk-kantuk. Biasanya, bila ada murid yang kebanyakan mengobrol daripada mengaji, Haji Dole akan menegur atau memukul lembut kepala muridnya dengan sapu lidi pengusir lalatnya.
“Aku yakin, kalau kita berhati-hati…” Dito masih berusaha membujuk Kali.
“Ehem,” suara deheman Haji Dole membuat Dito urung menyelesaikan kalimatnya. Dia pun kembali menekuni Juz Amma di depannya.
***
Dito dan Kali melangkah ringan. Mengaji telah selesai. Sekarang adalah saat mereka bermain menunggu waktu maghrib. Mereka berniat ke tempat Vita. Mamanya Vita sangat baik. Bila Dito dan Kali datang, mereka selalu diberi cemilan dan jus jeruk yang segar. Menyenangkan sekali minum jus segar dan makan kue enak bersama dengan sahabat.
Rumah Vita seperti biasa terbuka untuk Dito dan Kali. Halamannya luas dengan banyak pohon buah. Jus yang biasa mereka minum adalah dari jeruk yang tumbuh di halaman rumah Vita.
Kali ini Dito kembali mengungkit rencana mereka untuk kembali ke kebun semangka Ama Rino. Kali tetap tidak setuju.
“Kamu tidak takut kembali ke sana? Bagaimana jika Ama Rino memergoki kita lagi? Bukannya kita harus meminta maaf karena sudah berniat buruk kemarin? Kita bahkan sudah memecahkan semangka besar itu,” Kali berucap pelan. Dia sangat tidak setuju dengan rencana Dito untuk kembali ke sana mengambil semangka.
“Kebun Ama Rino kan tidak terurus, dia tak pernah memanen semangka-semangka itu,” dalih Dito.
“Tapi kan tetap saja semangka-semangka itu bukan milik kita,” Kali tetap pada pendiriannya.
“Menurutku Kali benar,” Vita yang sedari tadi diam saja menengahi, “Kita sudah berbuat salah kemarin.”
“Lalu bagaimana, kita tak jadi ke sana?” Dito mengeluh. Dia masih membayangkan semangka segar yang dijatuhkannya kemarin.
“Tentu saja kalian harus kembali ke sana,” suara lembut mama Vita mengagetkan mereka. Mama Vita membawa nampan lengkap dengan cemilan dan tiga gelas es jeruk. Rupanya mama Vita sudah mendengarkan mereka sejak tadi tanpa mereka sadari.
“Tentu saja kalian harus kembali ke sana dan meminta maaf,” lanjut mama Vita.
Kali enggan. Dia takut bila Ama Rino yang terkenal galak memarahi mereka bila mereka pergi ke sana untuk meminta maaf. Dito pun tak mau kembali ke sana untuk meminta maaf. Vita terdiam tak berani membantah mamanya.
Kemudian, mama Vita bertanya kepada mereka bertiga, “Bagaimana jika yang mempunyai kebun semangka itu kalian? Kalian rela bila ada orang lain masuk dan mengambil semangka kalian tanpa ijin?”
***
Ketiga sahabat itu berjalan beriringan menuju rumah Ama Rino. Mereka melangkah lambat-lambat, enggan untuk segera tiba di tujuan. Mereka takut membayangkan Ama Rino menunggu mereka dan kemudian memarahi mereka satu persatu karena sudah memasuki kebunnya dan berniat mengambil semangkanya.
Sesekali mereka berdebat tentang siapa yang harus mengucap salam dan mengetuk pintu rumah Ama Rino. Mereka juga saling menunjuk siapa yang harus menjadi juru bicara saat mereka meminta maaf nanti. Kali dan Vita bersikeras kalau Dito harus berterus terang bahwa dialah yang memecahkan semangka itu. Dito menghindar dan mengatakan bahwa Kalilah yang menemukan semangka itu pertama kali.
***
Rumah Ama Rino terlihat sepi. Namun pintu rumahnya terbuka. Jantung Kali berdegup kencang. Dito melangkah pelan-pelan di belakang kedua sahabatnya. Langkah Vita gemetar menuju pintu halaman rumah itu.
Tanpa di sangka-sangka, Ama Dito keluar dari pintu dan muncul ke teras. Ia tersenyum lebar melihat tiga sahabat itu. Tangannya melambai memanggil mereka bertiga untuk mendekat. Seketika juga, hilang beban di hati Kali. Dito dan Vita tak takut-takut lagi. Mereka berjalan mendekati Ama Rino, siap melakukan kewajiban mereka yaitu meminta maaf.
Ely Pratiwi adalah seorang ibu yang tinggal di Gianyar, Bali. Pekerjaan sehari-harinya adalah mengurus anak dan rumah tangga. Sesekali, di sela-sela waktu luangnya, ia melakukan hobinya yaitu menulis cerita anak. Hal yang paling dia sukai adalah membacakan buku cerita untuk anak laki-lakinya, Banyu, yang berusia 4,5 tahun.
