Dongeng Lingkungan : Pepi Penyu Sabuk Merah
Hari itu laut begitu jernih. Sinar matahari pagi menembus sampai jauh ke kedalaman laut sampai 200 meter di bawah permukaan laut. Kalau di daratan, kira-kira itu setinggi 2 kali tinggi Monas di Jakarta, loh!
Di permukaan laut juga terlihat tenang. Tidak ada ombak besar hari itu. Angin laut berembus pelan menciptakan riak-riak kecil di air.
Cuaca yang bersahabat membuat makhluk laut sangat bergembira hari itu. Ikan-ikan dan makhluk laut yang hidup di laut dangkal lainnya seperti udang, bintang laut, kuda laut, cumi-cumi, kepiting, ikan pari, sampai penyu berkegiatan dengan riang gembira. Ada yang beristirahat setelah tadi malam sibuk berburu, ada juga yang baru keluar untuk mencari makan.
“Wah, hari ini terang sekali ya. Sinar matahari membuatku bisa melihat sekeliling lebih jelas. Hari ini aku pasti bisa mendapat banyak sekali ubur-ubur untuk dimakan,” ujar Pepi si Penyu Sabuk Merah kepada teman-temannya di Sekolah Koral.
“Tapi pastikan ya kalau yang kamu tangkap ubur-ubur beneran ya! Nanti kamu salah makan lagi seperti waktu itu. Plastik kamu kira ubur-ubur!” jawab Kudi si kuda laut mengingatkan Pepi pada kejadian beberapa tahun lalu.
“Iya iya! Waktu itu kan air laut sedang keruh. Aku tidak bisa melihat jelas. Ada yang berenang mengambang, bentuknya dari jauh mirip seperti ubur-ubur tau! Makanya aku dekati untuk kumakan, tahunya itu plastik bekas yang hanyut di laut” jelas Pepi bersedih mengingat kejadian waktu itu.
***
Kejadian 5 tahun lalu itu memang tidak bisa dilupakan oleh Pepi dan penghuni Sekolah Koral lainnya. Sebab sejak saat itu Pepi memiliki nama panggilan baru, yaitu Pepi si Penyu Sabuk Merah.
Sebutan itu bukan karena Pepi jago karate sehingga mendapat sabuk merah loh! Tapi itu karena plastik merah yang dia kira ubur-ubur itu justru jadi membelit tubuhnya.
Saat menyadari itu bukan ubur-ubur, Pepi kecil saat itu sempat menghindar pergi. Tapi ombak besar tiba-tiba menggulung tubuh Pepi dan plastik itu bersamaan. Akhirnya tubuh Pepi pun terlilit plastik itu.
Pepi berusaha melepaskan ikatan plastik itu. Tapi dia tidak bisa. Lalu Pepi pergi mengadu dan meminta tolong pada Tuan Pari gurunya di Sekolah Koral. Sayang, Tuan Pari dan seluruh penghuni Sekolah Koral tidak ada yang bisa melepaskan plastik itu dari tubuh Pepi.
Sejak saat itulah, Pepi harus hidup menggunakan sabuk plastik merah di tubuhnya. Karena tubuhnya terus membesar dari hari ke hari, tapi plastik itu tidak juga bisa lepas dari tubuhnya, Pepi akhirnya mengalami kesulitan. Tubuhnya yang terlilit plastik tidak bisa ikut membesar seperti bagian tubuh lainnya. Kalau diperhatikan baik-baik, tubuh Pepi berbentuk seperti angka 8! Padahal penyu lain memiliki bentuk tubuh yang bulat sedikit lonjong.
Meski memiliki tubuh yang tidak sempurna, Pepi tidak menjadi Penyu yang pemurung. Pepi tetap ceria dan senang bermain bersama teman-temannya. Permainan kegemaran Pepi adalah permainan balap renang.
***
Hari itu seusai jam pelajaran sekolah, Pepi dan kawan-kawannya bermain balap renang. Siapa yang paling cepat sampai di tepi pantai lalu kembali lagi ke Desa Koral dialah pemenangnya.
“Teman-teman, tunggu akuuu!” pinta Pepi yang sedikit tertinggal dari teman-temannya.
Pepi memang berenang agak lambat dibanding penyu lainnya. Dia tidak bisa melaju cepat karena tubuhnya sulit bergerak akibat terlilit plastik merah itu. Tapi Pepi tidak pernah kehilangan semangat, dia tetap senang ikut bermain balap renang.
Saat teman-temannya sudah sampai pinggir laut dan sedang berputar balik, Pepi baru sampai ke tepian pantai. Perbatasan antara laut dan daratan.
Tiba-tiba saja angin bertiup sangat kencang hingga menciptakan ombak besar. Tubuh Pepi pun tergulung-gulung hingga ke pantai. Pasir pantai memenuhi tubuhnya. Huft, untung saja Pepi bisa bernapas di daratan!
Ketika hendak kembali ke laut, Pepi terkejut. Di hadapannya ada sepasang kaki manusia! Saat melihat ke atas, Pepi melihat sosok yang membuatnya ketakutan. Wajahnya hitam dengan rambut merah panjang yang kusut menutupi sebagian mukanya.
Rasanya Pepi ingin cepat lari kembali ke lautan. Tapi dia tidak bisa! Orang itu justru mengangkat tubuh Pepi.
“Aaaaah, tidaaak! Jangan makan akuuuu!” teriak Pepi ketakutan sambil memejamkan mata dan terus meronta-ronta ingin melepaskan diri.
***
Pepi makin benci manusia! Karena manusia membuang sampah sembarangan, tubuhnya jadi terlilit plastik seperti ini. Dan kali ini manusia juga menangkapnya. Pepi ketakutan sekali kalau dia akan menjadi makanan manusia. “Hiks. Harusnya aku dengar kata Ibu untuk tidak main jauh-jauh,” sesal Pepi dalam hati.
Tapi tiba-tiba Pepi merasakan nafasnya menjadi ringan. Rasanya tidak sesak lagi. Pepi bisa bernapas lega.
Pepi memberanikan diri membuka matanya. Ternyata, manusia itu tidak memakannya. Di tangan manusia itu terdapat sabuk merah yang biasa Pepi pakai. Ternyata manusia itu melepaskan plastik yang selama ini melilit tubuh Pepi!
Pepi bahagia sekali. Pantas saja napasnya terasa ringan. Ternyata plastik itu sudah lepas dari tubuhnya. Rasanya Pepi ingin sekali berterima kasih kepada manusia itu sekaligus Pepi ingin meminta maaf karena sudah berburuk sangka.
“Terima kasih, Manusia. Maafkan aku sudah berburuk sangka padamu. Ternyata tidak semua manusia jahat,” ujar Pepi.
Tapi sayang, suara Pepi tidak bisa didengar manusia. Suara Pepi menghilang bersama ombak yang membawanya kembali ke laut.
Nilai Moral dan Edukasi :
Mengenal keanekaragaman jenis makhluk laut
Mengenal topografi laut
Mengajarkan anak untuk peduli lingkungan, tidak membuang sampah sembarangan sehingga mencemari laut dan merusak ekosistem laut
Mengajarkan anak untuk tidak mudah berburuk sangka dengan hanya melihat tampilan fisik

siti khodijah
Assalamualaikum izin menggunakan cerita untuk diadaptasi menjadi operet sekolah apakah diizinkan?
Yusti
Waalaikumussalam. Silakan, Mba.
Siti Khodijah
Terimakasih 🙂