Belajar dari Akhlak Kiai
Hari masih siang ketika Fajar mengendap-endap keluar dari kebun salak milik pak kiai. Ia berjalan perlahan tanpa mengenakan alas kaki agar lebih senyap, sandalnya ia masukkan kedalam kantong plastik bersama salak hasil curiannya. Namun ia harus sangat berhati hati, karena kebun salak dipenuhi duri dari batang daun pohon salak yang sangat rimbun.
Kebun salak itu tidak terlalu besar, hanya terdapat sekitar dua ratusan pohon salak pondoh yang ditanam. Kebun itu terletak di sebelah selatan pesantren, di area persawahan yang seperti lembah, agak menjorok ke bawah seperti sebuah delta. Di samping kanan dan kirinya terdapat sungai kecil yang sumbernya berasal dari gunung Merapi, dan di bagian ujungnya, kedua sungai kecil itu bertemu, membentuk badan sungai yang lebih besar dan deras dan ditandai dengan sebatang pohong Gayam yang sangat besar.
Di sebelah atas kebun salak terdapat sebuah mata air kecil yang airnya sangat jernih. Mata air itu biasa digunakan untuk mandi para santri. Sebenarnya di dalam lingkungan pesantren juga ada fasilitas MCK, namun sebagian santri memilih untuk mandi di mata air. Selain untuk menghindari antri yang cukup panjang, biasanya mereka juga sekalian mencari sayur mayur yang tumbuh di sawah milik kiai.
Letak mata air itu agak tersembunyi dari pandangan, karena terhalang oleh rimbunan pohon Lompong besar di sekelilingnya, dan kebun singkong yang berada di sebelahnya. Jadi meskipun mata air itu berada di alam terbuka, namun santri yang mandi di situ tidak terlihat dari jalan setapak yang ada di sampingnya.
Fajar menghela nafas lega setelah berhasil keluar dari kebun salak tersebut, ia memastikan sekali lagi bahwa keadaan sekitar sudah aman. Ia segera mengeluarkan sandal dari kantong plastik yang sejak tadi ia pegang dengan erat. Beberapa salak ikut terjatuh menggelinding di rerumputan ketika ia mengeluarkan sandal, ia memungut kembali salak salak tersebut dengan agak tergesa.
“Fajar..!!”
Terdengar suara memanggilnya, pelan namun berat dan berwibawa.
Seketika Fajar kaget luar biasa, wajahnya pucat, dan ia tidak berani mendongakkan wajahnya. Ia paham betul siapa yang memanggilnya, karena sangat mengenal suara tersebut, suara pak Kiai!
“Sedang apa kamu disitu ?” tanya pak Kiai, intonasi suara pak Kiai tetap datar, tidak berubah dan tanpa ada nada kemarahan sedikitpun.
Fajar masih diam membisu, ia bingung harus menjawab apa, hatinya berkecamuk antara menjawab jujur bahwa ia baru saja mengambil salak tanpa izin atau diam saja.
Belum sempat Fajar membuat keputusan, pak Kiai melanjutkan kata katanya.
“Salaknya ditaruh dulu aja, ayo kamu ikut saya…”
Deg…!! Pak Yai ternyata sudah tahu bahwa dirinya sudah mengambil salak, batin fajar dalam hatinya.
“Nggeh (Iya) yai..” Fajar menjawab singkat sambal menundukkan wajah semakin dalam.
Segera Fajar menaruh salaknya di bawah pohon Sengon yang ada di dekatnya, dan beringsut kearah pak Kiai.
“Nanti sore mau ada tamu dari Krapyak, Ibu (bu Nyai) mau masak sayur kacang sama kubis, nah mumpung ketemu kamu, sekalian kamu petikkan kelapa muda ya, kacang sama kubisnya biar saya yang metik.”
“Biar saya saja sekalian yang ambil kacang sama kubisnya yai.” Jawab Fajar.
“Gak usah, nanti malah lama, ayo cepet, kamu ambil kelapa muda yang deket blumbang (kolam ikan) saja, airnya lebih manis.” Kata pak Yai.
“Nggeh Yai.” Jawab Fajar.
Ya Allah…pak kiai ini rendah hati sekali, padahal banyak santri yang bisa beliau perintah, tapi beliau memilih untuk mengerjakan sendiri, fajar bergumam dalam hati.
Fajar segera menaiki pohon kelapa yang tidak begitu tinggi itu, dan mengambil satu tandan kelapa yang masih muda. Ringan saja badannya naik dan turun dari pohon kelapa, karena ia meskipun ia bukan berasal dari desa. Namun selama nyantri di pesantren ini ia sudah banyak belajar menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar, termasuk belajar mengambil kelapa muda. Tentu saja tanpa izin dari kiai alias mencuri, dasar Santri Tambeng…
Setelah ia menyelesaikan tugasnya memetik kelapa muda, Fajar segera menyusul pak kiai yang saat itu masih memetik kacang panjang yang tumbuh dan ditanam di atas “galengan” sawah. Di dekatnya nampak tiga butir Kubis yang baru dipetik oleh pak Kiai.
“Maaf pak Yai, itu saya metik kelapanya satu tandan, isinya ada delapan butir, sudah cukup atau belum? Kalau belum saya ambil lagi dari pohon yang lain, soalnya pohon yang dekat blumbang kelapa mudanya sudah habis” tanya Fajar.
“Cukup, udah gak usah ambil lagi, ini juga saya sudah selesai, kamu bantu bawa kelapanya ya..” jawab pak Yai.
“Nggeh Yai..” jawab Fajar.
“Jangan lupa salaknya dibawa, tapi jangan kamu makan sendiri, nanti teman teman kamu di bagi juga ya, lain kali kalau pengen salak, atau kelapa muda, atau yang lainnya bialang aja, biar bisa sekalian buat yang lainnya.”
“Nggeh Yai”, jawab Fajar sambal menunduk malu.
Fajar sadar, bahwa sikap dan akhlak pak Kiai yang sangat sabar dan rendah hati itulah, merupakan salah satu pelajaran paling berharga yang bisa ia petik darinya.
Padahal bisa saja Pak Yai memarahi dan menghukum Fajar karena telah mencuri salak, mengambil sesuatu yang bukan haknya. Namun dengan sikap rendah hati yang pak Yai miliki, pak Yai tidak hanya mampu bersikap sabar menghadapi tingkah polah para santri yang bermacam macam. Beliau juga memaafkan kesalahan santrinya, juga tidak mempermalukannya. Bahkan memberikan pelajaran berupa sikap dermawan, ikhlas, dan memaafkan atas kesalahan kesalahan kecil yang dilakukan oleh santri santrinya.
Hari sudah semakin teduh Ketika pak Kiai dan Fajar berjalan pulang. Sayup-sayup terdengar suara adzan ashar berkumandang, Fajar berjalan di belakang, sambal memandangi punggung gurunya yang sudah semakin sepuh. Fajar berdo’a dalam hatinya, semoga Allah merahmati dan memberkahi kehidupan pak Kiai sekeluarga. Dan semoga kelak di akhirat ia bisa dipertemukan dan dikumpulkan kembali bersama guru dan kiainya, Aamiin.
Guru TPA di Bekasi. FB; Usamah Zahid.

Beno
Joss