Siapa Bilang Santri Cuma Belajar Ngaji?
“Jangan masukin anak ke pondok, kalo mau nerusin kuliah kedokteran di Universitas X,” kata Bu Dini, rekan kerja saya. Pagi itu menjelang pergantian tahun ajaran, Bu Dini dan saya terlibat diskusi kecil. Kebetulan anak kami berdua seumuran. Jadi awalnya kami kompakan mendaftar di SMP yang berbasis pesantren. Alhamdulillah, anak-anak kami sudah tiga tahun menempuh pembelajaran di pesantren. Tapi saat anak-anak kami masuk jenjang SMA, Bu Dini memilih keluar pesantren dan mendaftarkan anaknya ke SMA negeri. Alasannya pesantren itu cuma ngajarin ngaji saja, tidak cukup memberi bekal kepada anak yang mau melanjutkan kuliah di universitas negeri yang bergengsi.
Sebenarnya, saya tidak mau membela pesantren atau menjelek-jelekkan SMA negeri. Tapi saya nggak habis pikir, kok masih ada ya orang yang menyangsikan anak pesantren masuk ke perguruan tinggi negeri? Apa dasarnya?.
Tahun lalu, melalui Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 31 tahun 2020, telah resmi diberlakukan program Pendidikan Diniyah Formal (PDF). PDF adalah paket all in one, menurut saya. Karena program ini membuat pesantren dapat menyelenggarakan pendidikan pada jalur formal tanpa meninggalkan ke-khas-an pendidikannya secara berjenjang dan terstruktur. Sehingga santri mendapatkan pendidikan agama, sekaligus pendidikan umum.
***
Mas Menteri Yaqut juga memberi kabar gembira menjelang Hari Santri tahun ini. Setelah melalui proses panjang, akhirnya pada Tanggal 22 September 2021, Pendidikan Diniyah Formal (PDF) telah mendapatkan muadalah (penyetaraan) ijazah Ma’had Buus Islamiyah Al-Azhar (sederajat SMA) dari Sidang Majelis Tinggi Al-Azhar Mesir.
Melalui program-program tersebut, santri mendapatkan kesempatan untuk berkarir dalam bidang yang lebih luas, tidak hanya seputar ngaji saja. Sebut saja dr. M. Afifi Romadhoni, penerima apresiasi Indonesia Awards 2019 bidang kesehatan dari Astra. Dia dokter, berlatar belakang santri, dan perintis Gerakan Pesantren Sehat (GPS) di daerahnya.
Kiprah para tokoh nasional seperti Abdurrahman Wahid, Din Syamsudin, Hasyim Muzadi, Hidayat Nur Wahid, atau Ma’ruf Amin, misalnya; tidak dapat dipungkiri dan menjadi contoh nyata “mantan” santri yang sukses berkarir di bidang politik.
“Maaf ya Mbak Ratna, bukannya aku membela Bu Dini,“ sela Bu Nurma, rekan kerja saya yang nimbrung diskusi kecil kami waktu itu. “Anakku dulu tuh juga nyantri. Sekarang sudah kuliah. Memang benar, dia santri dan bisa kuliah di perguruan tinggi negeri. Tapi kok anaknya jadi kuper dan pemalu ya. Nggak gaul gitu lho,” tambah Bu Nurma.
Mendengar pendapat Bu Nurma, ingatan saya langsung kembali ke lorong waktu di mana saya nyantri di salah satu pondok pesantren di Ngawi. Saya bolak balik nanya kepada diri saya sendiri. Apa iya pesantren membuat saya jadi anak yang kurang pergaulan dan pemalu? Sepertinya tidak!
***
“Masa sih, Bu?” Saya balik bertanya sambil mengernyitkan dahi. “Apa Mas Doni sebelum nyantri dulu lebih gaul dan banyak bicara?” Tanya saya kepada Bu Nurma. Karena saya tahu banget kecilnya Doni. Dia anak tunggal dan sering diajak ibunya ke tempat kerja. Manja, maunya gelendotan sama ibunya saja.
“Mmm…kalau gaul banget atau cerewet banget sih, nggak ya,” jawab Bu Nurma sambil garuk-garuk kepala. Sepertinya, dia mulai merasa kalau pendapatnya tidak sepenuhnya benar. “Cuma perasaan saya, dia jadi tambah pendiam dan pemalu setelah lulus pondok,” lanjutnya.
Dasar emak-emak. Anak pendiam dan pemalu, kok yang disalahin pondok. Padahal sebenarnya itu gawan bayi, kalo kata saya.
Lingkungan pondok pesantren itu lebih kompleks dari lingkungan SMA yang pada umumnya menerapkan sistem zonasi. Pondok pesantren dihuni oleh santri yang berasal dari berbagai daerah. Pendidikan multikultural tidak hanya teori bagi saya, tapi sudah menjadi makanan sehari-hari. Saya jadi tahu perbedaan bahasa, kesenian, makanan, dan karakter teman-teman saya. Aneka ragam bahasa dan seni, pondok akomodir melalui pertunjukan seni awal tahun. Ini menjadi ajang para santri menunjukkan bahasa, pakaian daerah dan kesenian khasnya masing-masing.
***
Untuk masalah makanan, tiap bulan santri mendapat paket makanan dan uang saku dari orang tuanya di rumah. Bagi para santri, tidak kamusnya paket makanan bisa disimpan oleh empunya dalam beberapa hari. Karena dalam hitungan menit, paket makanan itu sudah berpindah ke perut teman-teman sekamarnya. Katakanlah dalam 1 kamar ada 30 santri dari 10 daerah yang berbeda, maka ada 10 jenis makanan yang bisa dinikmati setiap bulannya. Jadi, pondok pesantren membuat santrinya mengenal, menghargai, dan hidup harmonis dengan keberagaman. Kayak gini masih dibilang santri itu kurang pergaulan?. Kurang jauh mainnya!
Pendidikan multikultural memang menjadi hidden curriculum di pondok pesantren. Sejalan dengan pendapat John W. Santrock, pondok pesantren mendidik santrinya untuk menghargai perbedaan (teaching diversity) dan mewadahi prespektif dari beragam kelompok kultural. Sehingga santri terbiasa untuk hidup secara harmonis, dinamis, dan menghargai perbedaan. Jadi seharusnya kalau ada tudingan bahwa santri itu tidak ber-“bhineka tunggal ika”, maka itu salah besar.
Bu Dini dan Bu Nurma yang sama sekali nggak pernah nyantri itu manggut-manggut. Entah apa yang mereka pikirkan. Kayaknya mereka sudah mulai punya pemahaman baru tentang pondok pesantren. Buat saya, wajar saja ketika orang yang tidak pernah mengenyam pendidikan di pondok pesantren atau tahu pondok pesantren dari pihak-pihak yang tidak tepat, kemudian memiliki persepsi yang salah atas pondok pesantren.
***
Saat kedua rekan kerja saya manggut-manggut, saya merasa itulah momen tepat saya mengisi ceruk pemahaman mereka. “Selain dapet pendidikan agama dan umum yang diperkaya dengan implementasi nilai-nilai multikultural dalam kehidupan sehari-hari, santri juga dapet latihan fisik lho,” kata saya berapi-api.
“Walah mbak, kalo cuma itu di SMA juga ada,” sela Bu Dini nggak mau kalah. “Apa istimewanya?”
“Wait..wait..,” kata saya. “Santri itu tambah kuat fisiknya karena untuk mendapatkan giliran mandi pertama, mereka harus lari sekencang-kencangnya dari masjid habis salat. Makan juga begitu, mereka harus kembali lomba lari dengan temannya untuk mendapatkan giliran terdepan yang dilayani Mbok Dapur,” kata saya.
Sebelum para tokoh keayahibuan menyerukan Adversity Quotient (AQ), pondok pesantren sudah lebih dulu menanamkannya kepada para santri. Mengapa mereka selalu berlari untuk sekedar mendapat giliran mandi dan makan?. AQ-lah jawabannya. Mereka tidak harus disuruh-suruh mandi. Mereka sudah tahu kapan harus mandi dan kapan harus melakukan kegiatan lainnya. Santri harus mandiri, mengatasi masalahnya sendiri, dan memperjuangkan apa yang ia inginkan.
Menurut saya, menjadi santri itu tidak hanya belajar ngaji tapi juga belajar hidup. Banyak bekal pengetahuan dan kecakapan hidup yang saya terapkan saat ini. Untuk “Bu Dini dan Bu Nurma” lain di luar sana, semoga coretan kecil ini dapat menggeser sedikit persepsi miring tentang santri.
