Apa kabar pembelajaran online? Jawaban dari pertanyaan ini tentu cukup beragam; dari segi fasilitas yang cukup banyak dikeluhkan pada awal diterapakannya pembelajaran online perlahan sudah mendapatkan solusi. Berbagai upaya dilakukan oleh banyak pihak baik pemerintah maupun stakeholder lain agar pemerataan fasilitas dan akses untuk pembelajaran online bisa merata diseluruh pelosok negeri. Namun kita juga tidak bisa menutup mata dengan berbagai fakta ironis yang terjadi dimasyarakat terkait fenomena pembelajaran online.
Pada Tanggal 16 September lalu seorang anak berusia 8 tahun harus kehilangan nyawa karena ketidaksabaran kedua orang tuanya; dengan alasan susah belajar online. Jagat media sosia; juga sempat viral ketika 2 orang guru yang mendoakan anak didiknya yang mengeluh belajar online segera dipanggil Yang Mahakuasa, dan hal ini mendapat kecaman dari berbagai pihak.
Kekurangan ekonomi atau keterbatasan fasilitas tidak lagi menjadai soal utama; tetapi masalah lainnya adalah kejenuhan dalam pembelajaran online baik dari pihak pengajar, pelajar serta orang tua sebagai pendamping anak di rumah.
Kejenuhan dalam pembelajaran online bisa dilihat dari 2 hal yakni kebosanan (boring) dan keletihan (fatigue). Kebosanan karena metode yang digunakan oleh guru monoton dan hanya sekedar memindahkan kelas; yang awalnya interaksi langsung kedalam kelas dengan interaksi virtual, yang membedakan hanya dari perpindahan tempat saja. Sedangkan keletihan disebabkan karena peserta didik harus menghabiskan waktu yang cukup lama menatap layar kecil dari laptop atau smartphone dan harus berfikir menyelesaikan tugas – tugas yang menumpuk dari berbagai pelajaran. Beberapa hal yang saya gambarkan di atas tentu bisa diantisipasi oleh para pengajar jika mereka memahamai pedagogi digital; dan berani untuk berkreasi dalam pembelajaran online dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi yang berkembang pesat hari ini.
Pentingnya Pedagogi Digital
Istilah pedagogi umumnya mengacu kepada strategi-strategi mengajar; dalam kaitannya dengan era digital berarti seorang pengajar wajib untuk memahami dan memanfaatkan perangkat digital dalam pelaksanaan pembelajaran online. Hal menjadi sesuatu yang sangat penting untuk dipahami oleh para pendidik dan juga peserta didik. Faktanya, tidak bisa dipungkiri bahwa teknologi juga memungkinkan dapat memberi pengaruh negatif dalam dunia pendidikan. Misalnya budaya copy paste yang biasa dilakukan ketika peserta didik mendapat tugas, hal ini tentu saja tidak mendidik mereka untuk mampu berfikir kritis.
Sejatinya, kesadaran terhadap penggunaan teknologi dalam pembelajaran adalah bagaimana memanfaatkan teknologi tersebut dalam perspektif pedagogi yang kritis dan berimbang. Lebih tepatnya pedagogi digital adalah kemapuan pengajar untuk menggunakan perangkat digital dengan bijaksana, bagaimana, kapan, berapa lama serta pemilihan aplikasi yang tepat tentu menjadi hal yang penting untuk dipertimbangkan.
Seni Mengajar Online
Seorang pengajar yang mampu menginspirasi peserta didiknya; tahu kapan harus memotivasi, kapan harus memberi konsekuensi, kapan harus membantu dan kapan untuk mundur (hanya memperhatikan dari jauh) adalah mereka yang paham bahwa mengajar adalah sebuah seni. Terhadap peserta didik, seorang pengajar dapat menganalogikan pembelajaran online sebagai sebuah petualangan dalam dunia digital. Dalam sebuah petualangan tentu kita bisa menggambarkan kepada peserta didik bahwa akan ada tantangan sekaligus keseruan di dalamnya. Cara seorang pengajar menyampaikan konsep pembelajaran di awal pertemuan akan sangat menentukan fokus dan ketertarikan peserta didik terhadap proses pembelajaran.
Hal yang tidak kalah penting yang harus dipahami oleh seorang pengajar adalah pemahaman terhadap syncronous dan asynchronous dalam mengajar online. Synchronous adalah interaksi secara online melalui video atau pesan teks dalam waktu yang sama antara peserta didik dan pengajar; sedangkan asynchronous adalah kondisi di mana peserta didik belajar secara mandiri melalui internet atau mengerjakan tugas dari guru tanpa harus beriteraksi langsung dalam waktu yang sama. Hal mendasar yang membedakan antara belajar online dan belajar langsung adalah menentukan pareto antara kedua komponen belajar online ini.
Sejatinya dalam desain kurikulum pembelajaran online untuk setiap mata pelajaran paretonya adalah 20% synchronous dan 80% asynchronous.Ironisnya banyak guru yang justru menerapkannya secara terbalik sehingga semenarik apapun akan tetap menyebabkan keletihan dan kebosanan. Biarkan peserta didik kita berpetualang menemukan hal – hal baru sesuai dengan petunjuk yang telah diberikan tentu tetap dengan kontrol dari orang tua dan pengajar secara tidak langsung. Hal ini bisa menjadikan mereka merasa tertantang dan semangat dalam belajar. Tanamkan kepada mereka bahwa belajar adalah untuk berlatih, berubah dan bersenang – senang.
