f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
penerus

Dampak Pandemi Bagi Psikologis Penerus Bangsa

Dampak Covid-19 sangat terasa pada kehidupan masyarakat diseluruh dunia. Virus yang mulai merambak pada akhir tahun 2019 ini semakin menyebar diseluruh penjuru dunia, banyak pihak yang jelas sangat dirugikan dengan adanya Covid-19. Virus ini telah berhasil meluluh lantahkan kehidupan dunia, mulai dari perekonomian, perindustrian, pariwisata, dan tentunya pendidikan. Hampir seluruh perusahaan dan sekolah di Dunia ditutup akibat adanya Covid-19 dan seluruh pegawai maupun siswa melakukan sistem pembelajaran dari rumah (work from home). Lantas apakah hal tersebut cara yang efektif bagi seorang siswa?

Pengaruh PSBB

Indonesia mulai meberlakukan pembatas social berskala besar (PSBB) di sejumlah daerah-daerah, terutama pada daerah yang menjadi pusat keramaian. Sekolah yang ditutup akibat PSBB membuat siswa terpaksa untuk belajar dirumah. Namun kebanyakan siswa mengeluh dengan adanya kebijakan PSBB ini, mereka merasa suntuk jika harus seharian berada dalam rumah. Apalagi dengan waktu yang sangat lama dan tekanan dari luar (Covid-19), bahkan membuat sebagian orang merasa stress.

Stress paling besar bisa dialami oleh anak-anak, mereka merasa terbelenggu dan terkurung dalam rumah. Stress yang berlebihan juga dapat mengganggu tumbuh kembang anak, apalagi anak-anak masih dalam tahap pertumbuhan dan perkembangan yang masih sangat produktif. Stress bisa timbul akibat dari tekanan, raca cemas yang berlebih, gangguan sisiologis maupun psikologis. Dengan kata lain bahwa setiap orang yang mengalami gangguan kecemasan dan terlalu khawatir dengan suatu hal bisa jadi orang tersebut sedang mengalami stress.

Pengaruh Stress Terhadap Perkembangan Anak

Stress yang berlebih bisa mempengaruhi perkembangan anak. Stress pada anak-anak biasanya muncul dari orang terdekat, misalnya orang tua. Orang tua yang bekerja dari rumah memang benar menghabiskan waktu mereka hanya di rumah saja, tetapi mereka juga sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Mereka lebih banyak menghabiskan waktunya didepan layar komputer dan tak sekali-kali mereka membentak anak yang mengganggu mereka bekerja.

Baca Juga  Enam Cara Mengatasi Overthinking

Jika seorang anak sudah mengalami tekanan sampai terjadi stress hal itu akan berpengaruh pada pendidikannya. Anak yang stress dan tidak mendapatkan kasih sayang yang cukup dari orang tua cenderung untuk melakukan kesenangannya sendiri. Pelajaran yang membebaninya akan lambat laun ditinggalkan, anak akan lebih susah diatur, dan akan lebih tentramen.

Sebenarnya gurupun bisa ikut andil dalam masalah anak didiknya pada saat pandemi ini. Namun hal itu masih sangat jarang ditemukan, karena guru juga disibukkan dengan urusan mereka masing-masing. Dan mau tidak mau orang tualah yang harus turun tangan sendiri untuk megajari dan membimbing anak mereka setiap waktu.

Gambaran di atas merupakan dampak masa pandemic Covid-19 terhadap anak-anak. Lalu bagaimana dampak Covid-19 bagi anak-anak atau para remaja yang sudah terjangkit virus Covid-19? Mereka pastinya akan diisolasi dan dikarantina dengan orang-orang lain yang terjangkit Covid-19. Anak-anak yang terjangkit akan lebih mengalami stress dibandingkan dengan anak-anak yang terkena dampak dari Covid-19.

Stress pada anak lambat laun akan segera hilang dengan adanya penanganan yang tepat dari orang tua dan orang terdekat. Namun jika merasa diperlukan anak bisa dibawa ke psikolog anak, hal ini tentunya akan lebih efektif karena orang tua juga bisa mengetahui kondisi sang anak.

Pengaruh Covid-19 pada Mental Remaja

Masa remaja adalah masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa dan di fase ini remaja mulai untuk mencari jati diri mereka masing-masing. Akibatnya muncul kekhawatiran yang berlebihan dari diri remaja tersebut yang bisa membuat mereka stress. Kita dapat mengambil contohnya yaitu dalam mengerjakan tugas sekolah. Pastinya setiap pelajar ingin mengerjakan tugas sekolah dengan baik tanpa ada kesalahan, hal ini membuat pelajar sampai bergadang untuk mengerjakan tugas yang selama pandemi ini semakin menumpuk. Mereka memaksakan diri belajar siang dan malam tanpa ada batasan jam, padahal di samping itu ada kesehatan yang harus mereka jaga.

Baca Juga  Malik Fadjar : Guru Bangsa untuk Semua Generasi

Bukan hanya pelajar, sesaknya belajar di rumah juga dirasakan sekalangan mahasiswa, mahasiswa mengeluh dengan daring yang selama ini menjadi jalan untuk mereka mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh dosen. Bukan hanya mengeluh dengan tugas yang banyak namun mahasiswa juga menganggap materi yang disampaikan dosen saat kuliah daring lebih susah  untuk dipahami dibanding dengan perkuliahan tatap muka. Hal ini bisa difaktori dengan kesusahan yang dihadapi mahasiswa saat perkuliahan daring. Salah satunya jaringan yang susah. Mereka sampai mencari jaringan ke tempat-tempat yang jauh dan sulit. Jika hal ini terus berlanjut maka secara mental mahasiswa akan menurun bukan hanya mental namun juga kesehatan fisik. Karena banyak dari mereka yang harus bergadang sampai tak tidur demi menyelesaikan tugas yang banyak dan deadline yang menyiksa.

Mahasiswa akan lebih tersiksa dengan adanya pembatasan social berskala besar (PSBB) ini karena mahasiswa atau remaja fase akhir mengalami sebuah proses kematangan diri. Mereka lebih senang untuk bersosialisasi dengan teman sebayanya. Remaja dalam tahap ini lebih suka mengeksplor dunia luar dan tak tahan untuk berdiam diri di tempat dengan cakupan waktu yang lama. Namun dengan adanya kebijakan PSBB ini, mereka terpaksa untuk berdiam diri di rumah.

Mengatasi Gangguan Psikologi pada Saat Pandemi.

Banyak cara yang bisa dilakukan untuk menghilangkan stress pada saat pandemi ini, misalnya dengan saling memberi perhatian dan kasih sayang satu sama lain. Untuk seorang anak hal ini sangat diperlukan, karena anak akan lebih suka diperhatikan dan dimanja oleh orang tua. Dengan hal ini orang tua juga mengajarkan anaknya cara menjaga kebersihan diri dan lingkungan saat pandemi ini. Selain itu, pilihlah sumber-sumber berita yang terpercaya. Hal ini bisa membuat kita terhindar dari desas-desus berita Covid-19 yang belum tentu kebenarannya.

Baca Juga  Pentingnya Hormon Rasa Senang

Stress pada remaja bisa diatasi dengan menghendel dirinya sendiri. Mereka yang tau keadaan mereka jadi mereka yang tau apa yang dibutuhkan mereka, karena remaja hanya perlu pengawasan sudah tak lagi membutuhkan dorongan seperi anak-anak. Dan Jangan terlalu tertekan dengan tugas dan deadline yang menyiksa. Bawalah semua tugas itu dengan santai namun tetap fokus untuk mengerjakannya. Biasanya ada Sebagian anak yang lebih fokus mengerjakan tugas dengan menggunakan musik maka hal itu patut dicoba untuk menghilangkan rasa suntuk dalam belajar.

Jika masalah psikologis sudah sangat parah maka segera periksakan pada psikolog. Tapi alangkah baiknya jika kita mengatasinya terlebih dahulu sebelum masalah psikologis tersebut semakin menggerogoti tubuh kita. Anak-anak dan remaja adalah tonggak penerus bangsa. Jangan sampai akibat dari Covid-19 ini mereka jadi terpuruk, mereka harus mampu memberikan inovasi-inovasi baru untuk menaikkan perekonomian yang melemah akibat Covid-19. Dengan begitu mereka akan menjadi penerus bangsa yang maju dan sukses. (s)

Bagikan
Post a Comment