Malik Fadjar : Guru Bangsa untuk Semua Generasi
“Bapak, apa yang menjadi harapan Pak Malik kepada para guru-guru muda di hari guru tahun ini?” Kalimat itu adalah pertanyaan pertama yang saya lontarkan saat mengejar Prof H.A. Malik Fadjar M.Sc. saat peringatan Hari Guru tahun 2017 silam. Tidak pernah saya sangka bahwa pertanyaan itu dijawab oleh Pak Malik dengan memberhentikan langkahnya di depan Aula BAU Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Terhentinya langkah beliau membuat saya tertegun, saya hanya mahasiswa yang saat itu baru saja lari dari satu lokasi lain untuk mengejar beliau.
“Saya selalu berharap guru-guru di mana pun itu harus terus mau belajar,” kurang lebih itu adalah jawaban beliau. Saya tidak bisa mengingat dengan lengkap apa yang disampaikan oleh beliau.
Namun karena jawaban itu saya pun terdorong mencari tahu lebih jauh kiprah Pak Malik. Sebagai mahasiswa yang mengenyam pendidikan di kampus yang dibesarkan oleh beliau, rasanya saya sangat minim sekali pengetahuan tentang beliau. Walaupun demikian, tulisan ini pun bukan sebuah karangan semata. Mengenal beliau lewat buku-buku yang mengulas tentang beliau beserta pemikirannya semakin membuka cakrawala pengetahuan saya tentang pendidikan yang humanis. Pendidikan yang harusnya selalu memanusiakan manusia, bukan perkara ijazah yang akan kita dapat namun proses untuk meraih ijazah itu adalah hal terpenting.
Gagasan Tentang Pendidikan
Menuliskan tentang sosok Pak Malik terutama tentang gagasannya dalam dunia pendidikan kala itu diawali percakapan saya dengan seorang teman yang menyampaikan, “Justru bagus, kamu tidak mengenal Pak Malik secara fisik artinya kamu belum pernah bercakap-cakap dan berdiskusi secara langsung tapi kamu terdampak hanya melalui tulisannya” jelasnya pada saya. Ujaran itu membelalakan mata saya yang kemudian membuat saya berasumsi bahwa Pak Malik benar-benar bisa mengubah cara berpikir orang tanpa bersinggungan.
Gagasan beliau tentang pendidikan kala itu tidak pernah habis masanya hanya karena termakan waktu. Pemikiran-pemikiran bagaimana pendidikan akan selalu menjadi penanggungjawab atas akidah dan akhlak manusia tergambar hingga saat ini. Pak Malik pernah menyampaikan bahwa elaborasi isi pendidikan dengan tuntutan jaman adalah salah satu syarat praksis pembangunan bangsa. Saat menjadi pengajar, saya menjadi ingin seperti Pak Malik yang mengutamakan akidah dan akhlak. Pengetahuan hanya akan mengikuti akidah dan akhlak yang baik. Pun, ilmu yang bermanfaat bersumber dari akidah dan akhlak yang terpuji.
Hari ini, tindakan dan pemikiran Pak Malik tercermin pada kampus yang ia pimpin selama tujuh belas tahun itu. Kampus yang dulu bahkan tidak masuk pertimbangan orang-orang sebagai tempat untuk melanjutkan pendidikan tinggi kini berdiri gagah dengan segala komitmen dan prestasi di dalamnya. Banyak kisah yang telah saya dengar tentang kebaikan dan ketegasan Pak Malik dalam memimpin. Tak hanya itu, saya yakin Saudara yang pernah mengenyam pendidikan di pondok pesantren pun tidak akan pernah melupakan langkah besar yang pernah Pak Malik ambil. Ia memutuskan untuk menyetarakan ijazah lulusan pondok pesantren dengan lulusan sekolah umum.
Mencerdaskan Hati dan Otak Manusia
“Dalam sejarah pemerintahan Indonesia merdeka, hanyalah Malik Fadjar yang pernah menduduki posisi sebagai Menteri Agama dan Menteri Pendidikan Nasional, dua kementerian yang bertugas mencerdaskan hati dan otak manusia,“ adalah cuplikan tulisan Buya Maarif untuk Pak Malik yang menggugah saya.
Sebagai seorang yang lulus dari fakultas keguruan rasanya banyak hal yang harus ditambal-tambal ketika mengajar. Bukan perihal rencana pembelajaran atau silabus, namun soal keikhlasan saat berperan sebagai guru.
Belakangan, saya baru menyadari apa-apa yang disampaikan Pak Malik pada wawancara singkat saya di tahun 2017 itu merupakan warisan ayahnya, Fadjar Martodiharjo, yang memiliki perhatian lebih pada pendidikan lewat profesinya sebagai guru. Guru bisa mengangkat derajat manusia dan guru harus menjadi inspiratif.
Beberapa bulan ini, kami tengah mempersiapkan serangkaian acara untuk milad beliau ke 81 tahun. Sebagai generasi digital immigrant kami berusaha mengenalkan Pak Malik melalui Instagram @dawuhpakmalik hingga sebuah website yang berisi kiprah-kiprah beliau. Selama perjalanan menyiapkan ini semua, saya menjadi semakin mengenal Pak Malik yang bersahaja dan sangat tidak ingin dikultuskan.
Pesan-pesan beliau akan senantiasa terpatri dalam ingatan untuk menemani langkah melesat lebih maju. Beliau selalu berpesan untuk mahasiswa Kampus Putih, hari ini kita menjadi mahasiswa, tapi kelak esok nanti akan menjadi pemimpin.
Generasi Muda Harus Memperjuangkan Masa Depan Bangsa
Pak Malik pun terus mengingatkan kita generasi muda yang selalu menjadi harapan beliau untuk memperjuangkan masa depan bangsa. Banyak teladan yang beliau berikan pada kami, utamanya bagi saya yang cita-citanya menjadi guru sering tergoncang karena pusingnya menyusun administrasi sebelum mengajar. Salah satunya, jadilah generasi yang bermakna bagi zaman.
Pak Malik mengutip pernyataan UNESCO yang berbunyi, recovery begins with teacher. Maknanya, masa depan bangsa yang kini diampu oleh kaum muda ini harus memperhatikan kualitas pendidikannya. Kualitas Pendidikan ditentukan oleh guru, rasanya saat tulisan ini mulai diketik saya harus merefleksikan ke dalam diri “sudahkah saya menjadi air bagi anak didik saya?”
Bapak, Eyang, dan Guru untuk kami semua sugeng tindak. Semua buah pemikiranmu adalah bekal untuk kami generasi penerusmu yang selalu engkau percaya untuk menjadi penggerak arah pembangunan bangsa ini.
Staf Humas dan Protokoler UMM
