Indonesia adalah negara dengan umat Islam terbesar di dunia; tentu Nabi Muhammad bukan lagi sosok asing bagi siapapun yang mendengar ataupun membacanya. Ditambah dukungan umat Islam di Indonesia yang sebagian besar setia pada tradisi hukum Syaafi’ii.
Mengenai hukum konsep ortodoksi, para ahli hukum Syafi’i telah menunjukkan keluwesan mereka dalam masalah inovasi (bid’ah); yang didefiniskan sebagai setiap perubahan atau tambahan yang dimasukkan ke dalam kepercayaan atau praktik Islam. Menurut Imam Syaafi’ii—tokoh yang menjadi nama bagi madzab tersebut—ada dua bentuk persoalan pembaruan (muhdatsaat). Pertama, yang bertentangan dengan nas al-Qur’an, sunnah atau riwayat kaum muslim generasi pertama (aatsaar), atau konsensus (ijmaa’) kaum muslim. Kedua, adalah yang sesungguhnya baik dan tidak menimbulkan pertentangan dengan semua sumber hukum tersebut di atas.
Maka akan banyak kita jumpai ragam tradisi seperti tahlilan, ziarah kubur, maulid Nabi, termasuk shalawatan yang biasanya digunakan untuk membuka atau menutup suatu acara di kalangan umat Islam di Indonesia. Belum lagi mengenai kasus pelecehan agama oleh Charlie Hebdo, lewat penerbitan ulang karikatur Nabi Muhamad beberapa waktu lalu. Dengan demikian, rasanya akan jarang sekali—untuk tidak mengatakan nihil—warga negara Indonesia khususnya, yang asing dengan sosok Nabi Muhammad Saw.
Nabi Muhammad Saw. dalam Sejarah
Dalam bukunya yang berjudul “100 A Ranking Of The Most Influential Person In History”, Michael H. Heart menempatkan Nabi Muhammad sebagai sosok manusia paling berpengaruh dalam sejarah. Bagaimana tidak, Nabi Muhammad lahir di suatu tempat yang waktu itu merupakan daerah paling terbelakang di dunia, jauh dari pusat perdagangan, seni mapun ilmu pengetahuan, yakni Mekah, pada tahun 570 M.
Menjadi yatim-piatu di umur enam tahun, dibesarkan dalam situasi sekitar yang sederhana. Tidak seperti sebagian besar dari tokoh-tokoh berpengaruh lain yang lahir dan dibesarkan di pusat-pusat peradaban manusia, berkultur tinggi dan tempat berputaran politik bangsa-bangsa.
Meski demikian, dalam tempo secuil abad pertempuran, orang-orang Baduwi—dijiwai dengan ucapan-ucapan Nabi Muhammad—telah mendirikan sebuah imperium terbesar dalam sejarah yang membentang dari perbatasan India hingga pasir putih pantai Samudera Atlantik. Dan di mana pun penaklukan dilakukan oleh pasukan muslim, selalu disusul dengan berbondong-bondongnya pemeluk masuk agama Islam. Bahkan dari satu abad ke abad lain, agama Islam menyebar jauh melangkah dari daerah taklukan. Umumnya jutaan penganut Islam bertebaran di Afrika, Asia Tengah, lebih-lebih Pakistan dan India sebelah utara serta Indonesia.
***
Lebih jauh Michael H. Heart mengatakan bahwasanya andaikata Guglielmo Marconi tidak menemukan radio, beberapa orang dalam tahun-tahun yang tak begitu berjauhan akan menemukannya. Begitu juga halnya dalam perkara Mexico. Andaikata Hernando Cortes tak pernah dilahirkan ibunya ke dunia, toh Mexico ditaklukan juga oleh Spanyol. Akan tetapi, misal ini tidak berlaku pada gerak penaklukan yang dilakukan bangsa Arab. Tak ada kejadian serupa sebelum Nabi Muhammad dan tak ada alasan untuk menyangkal bahwa penaklukan bisa terjadi dan berhasil karena Nabi Muhammad Saw.
Nabi Muhammad pada akhirnya menjadi sosok yang sangat dikagumi, dicintai dan dirindui oleh banyak orang; baik yang pernah bertatap langsung dengan beliau ataupun tidak. Hingga sedikit saja aksi-aksi provokatif yang menyinggung beliau; telah mampu melukai perasaan lebih dari satu miliar umat Islam di seluruh dunia. Penghormatan terhadap Nabi biasanya dimanifestasikan dalam berbagai macam bentuk, salah satunya musik. Suatu hal yang ingin penulis kaitkan dengan konsekuensi-konsekuensi yang harus ditanggung bagi orang-orang yang mengaku mencintai beliau.
“Aku Mencintai Nabi” Sudah Cukupkah?
Di Indonesia musik religi semakin hari semakin diminati. Apalagi dengan kepopuleran Sabyan Gambus, tepatnya pada tahun 2017, di mana melalui YouTube channelnya, ia mengunggah video cover lagu shalawat dan lagu-lagu religi lainnya. Ditambah munculnya Alfina Nindiyani, seorang penyanyi cantik, muda dan berbakat.
Tak hanya merdu saja, dalam menyanyikan lagu-lagu sholawat, tajwidnya pun juga terdengar sangat jelas. Nama Alfina Nindiyani sendiri mulai banyak dikenali oleh masyarakat Indonesia saat salah satu lagu yang dinyanyikannya berjudul “Law Kana Bainanal Habib”; berhasil mendapat sambutan baik dari para peikmat musik tanah air. Banyak akan kita dapati bertebaran kalimat semisal, “Ya Nabi, kami merindukanmu” atau “Ya Nabi, kami ingin berjumpa denganmu” di kolom komentar, di mana lagu-lagu tersebut diunggah.
Seperti kebanyakan pecinta, ia tentu ingin mencintai objek yang dicintainya dengan cara terbaik bukan? Pertanyaannya kemudian adalah bagaimana kita mengukur bahwasanya kita benar-benar serius mencintai Nabi?
***
Tepat di atas pintu masuk makam Nabi di Madinah, terdapat sebuah kaligrafi yang berisi sebait syair yang menyatakan datangnya seorang “Nabi besar, dengan budi pekerti yang diagungkan oleh Allah Maha Pengasih dalam Kitab paling utama”. Itulah tulisan yang dipilih umat Islam bagi tokoh pendirinya: penghormatan kepada beliau bukanlah karena kemenangan-kemenangannya dalam medan perang, ilmu makrifatnya atau keunggulan eskatologinya, melainkan karena akhlaknya.
Sudah barang tentu menjadi sebuah keharusan, bagi para pecinta Nabi yang serius dengan perasaannya untuk memperindah budi pekertinya. Di samping itu, senantiasa mengingat beliau dengan bershalawat. Bukankah objek yang dicinta biasanya memenuhi ruang hati dan pikiran?
Cinta senantiasa membawa konsekuensi-konsekuensi yang harus ditanggung oleh orang-orang yang mengaku memiliki dan merasakannya. Oleh karena itu kecintaan kita terhadap Nabi perlu dipertanyakan ulang, jika kita masih bersikap tidak baik pada sesama. Enggan memberi barang secuil roti, untuk saudara-saudara kita yang kelaparan, apalagi hingga membuat orang lain sengsara hanya untuk membuat diri kita bahagia.
Bukankah Nabi pernah berkata bahwa orang dikatakan beriman ketika ia telah mampu mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri? Lebih dari semua itu, keseriusan kita dalam mencintai Nabi juga bisa diukur dari bagaimana kita disibukkan dengan al-Qur’an, warisan ilmu yang diwahyukan Allah kepada beliau.
Walau cinta kita saat ini belum sempurna, semoga Allah kelak suatu saat nanti berkenan untuk menyempurnakannya.
