Ujian untuk Belajar Ikhlas
Mengulang-ulang pekerjaan itu memang melelahkan, namun hal tersebut kerap kali terjadi pada siapapun dan dalam banyak profesi pekerjaan lainnya. Yang jadi persoalan adalah kapan dan bagaimana kita bisa menanggulangi rasa jenuh yang akut; dan dalam beberapa hal mengalami perasaan sedih yang berlarut untuk melakukan aktivitas repetitif tersebut. Kondisi ini semakin menyakitkan apabila usaha yang telah kita lakukan terasa sia-sia, sehingga kita merasa dipermainkan kepada figur yang justru kita harapkan dapat membantu.
Namun, peristiwa itu memberikan pembelajaran kepada kita bahwa jangan pernah sekali-kali menyandarkan sepenuhnya harapan kepada manusia, karena kita tidak pernah tahu bagaimana isi hati mereka. Sebaliknya, kita harus menyandarkan sepenuh dan seluruhnya hanya kepada Sang Khalik; tempat kita berlindung dan berharap. Berlindung kepada-Nya membuat kita merasa aman, karena Ia tidak pernah ingkar terhadap janji yang Dia buat untuk umatnya. Meskipun satu pertanyaan yang perlu direnungkan adalah kita tidak tahu kapan permintaan kita dijawab oleh Allah dan apakah benar permintaan kita dikabulkan oleh-Nya
Ya, belum dikabulkan bukan berarti doa kita tidak diijabah oleh-Nya. Allah tahu kapan hadiah tersebut tepat diberikan kepada kita. Mungkin kita diminta untuk bersabar, dan mungkin diminta untuk belajar akan arti “ikhlas”; sebuah kata yang sangat sederhana untuk diucapkan tapi berat untuk dilaksanakannya. Dengan kata lain, bagi saya ikhlas itu sebuah gambaran mengenai hasil dari ujian yang tidak sesuai dengan ekspektasi–terlebih atas kerja keras, dedikasi, kesabaran, waktu, dan air mata yang sudah kita keluarkan.
***
Lebih jauh, kita boleh berencana mengenai banyak hal; lulus kuliah tepat waktu, punya anak kembar, atau punya mobil baru. Namun jika Sang Khalik tidak berkehendak untuk kita saat ini , maka, rencana tersebut tidak akan terwujud. Perihal belajar ikhlas yang saya alami akhir-akhir ini, yaitu ujian sebagai mahasiswa Ph.D. pada salah satu universitas terkemuka di Asia sama terkait dengan praktik berikhlas.
Masih terngiang di benak saya seminggu sebelum ujian kualifikasi, sahabat saya berkata, “Minggu depan Mas Dadang pulang kembali ke Samarinda dengan bangga karena akan lulus ujian kualifikasi.” Alih-alih menegakkan kepala, saya justru menudukkan kepala bahkan kepada istri dan anak saya karena merasa malu. Ujian kualifikasi saya tidak berhasil–dan rekomendasi dewan komite sidang meminta saya untuk ujian ulang mungkin di akhir bulan Juli 2022.
Banjir air mata mata saya karena antara percaya dan tidak percaya. Percaya karena memang dahulu setahun sebelum ujian, salah satu dosen saya sudah mewanti-wanti jika saya tidak melakukan perbaikan proposal dan menunjukan peningkatan. Maka saya tidak akan lulus ujian kualifikasi. Opsi mundur atau penurunan ke jenjang magister sebelum ujian kualifikasi adalah opsi yang ditawarkan. Saya berkonsultasi dengan istri dan berpikir–membentangkan bendera putih sebelum berperang (ujian kualifikasi) tidaklah elok. Saya pun akhirnya memutuskan untuk tetap maju.
Di saat bersamaan, saya pun juga pelan-pelan mempersiapkan diri jikalau memang waktu saya untuk kuliah di kampus ini hanya tinggal sebentar, maka saya harus bisa ikhlas menerima hasil apapun, termasuk tidak berhasil dalam ujian kualifikasi. Singkat kata, saya memutuskan untuk tetap melanjutkan ujian kualifikasi. Hari demi hari saya lalui dengan semangat dan belajar tiada henti. Setelah melalui berbagai revisi, proposal saya pun menunjukan peningkatan yang sangat berarti. Bahkan dosen-dosen saya berulang kali mengatakan bahwa proposal, terutama tinjauan pustaka menunjukan peningkatan yang sangat signifikan dan siap untuk diujikan.
***
Namun apa daya, ujian kualifikasi saya tidak berhasil. Komentar positif dari dosen-dosen saya di atas, di tambah dengan keyakinan yang diberikan oleh sahabat saya bahwa kelak akan lulus ujian kualifikasi membuat saya percaya diri berlebihan. Kala itu mungkin Allah tidak suka ketika saya percaya diri berlebihan. Angan-angan mau pulang kembali ke Samarinda dengan gagah dan menceritakan keberhasilan studi ke kolega dan keluarga justru berakhir pahit.
Setelah selesai ujian dan tahu saya tidak lolos ujian kualifikasi tahap awal, saya pun memutuskan untuk segera pulang. Istri dan anak serta orang tua saya menunggu di bandara Sepinggan Balikpapan. Tumpah air mata saya melihat istri dan anak saya. Saya merasa gagal dan kalah dalam berperang, saya merasa gagal menjadi suami dan ayah yang baik. Saya memeluk istri dan meminta maaf kepada dia karena belum berhasil dalam ujian. Tangisan saya menjadi-jadi ketika saya memeluk ibu saya yang juga menunggu. Saya pun meminta maaf karena merasa gagal menjadi anak yang dapat membanggakan orang tuanya.
Setibanya saya di rumah, saya sempat membantin, “Allah tidak adil. Apa sebenarnya yang Ia rencanakan kepada saya? Mengapa saya harus melalui ujian yang begitu berat dikala teman-teman seperjuangan di kampus dimudahkan dengan berbagai urusan. Namun, seketika saya menjadi malu. Apakah pantas ketika saya sudah menjadi dosen PNS termuda di Universitas Mulawarman di kala itu (waktu usia saya 23), dan menikah di usia 27 dan dikarunia anak satu tahun setelah menikah, serta mendapat kesempatan kuliah S3 dengan beasiswa riset dari kampus tersebut? Selain itu, banyak rezeki yang saya punya. Saya jauh lebih beruntung dari banyak orang. Dengan tidak berhasilnya ujian kualifikasi, saya belajar akan arti hidup. Saya belajar akan indahnya dan mulianya menjadi orang yang rendah hati dan selalu belajar untuk menutupi kekurangan saya. Yang terpenting, belajar untuk ikhlas dengan arti sebenarnya melalui praktik.
***
Ujian kualifikasi kedua saya di depan mata. Dan insyaAllah saya akan ujian ulang. Di saat sekarang, selain mempersiapkan ujian ulang, doa yang saya panjatkan kepada Allah agar diberi kekuatan untuk melanjutkan studi apabila diberi kesempatan kedua. Apabila rezeki saya selesai sampai disini, maka kuatkan saya untuk ikhlas. Cita-cita saya untuk memperoleh gelar S3 akan terus saya perjuangkan baik di kampus saya sekarang atau di kampus lain. InsyaAllah saya yakin apapun jalannya, itu yang terbaik bagi saya. Ini karena, hal yang baik menurut saya itu belum tentu baik menurut Allah. Allah tahu mana yang terbaik bagi saya dan Ia yang Maha membolak-balikan keadaan kepada orang-orang yang disayangi-Nya, termasuk saya.
