Tak Bernilai
Aku hanya seonggok daging
tak bernilai nan hina
bahkan cacing pun enggan
memakan jisim membusuk
yang terbelusuk di dalam tanah.
Body shamming: asupan.
Hidup seolah hilang arah
di lorong kegelapan pemakan
cahaya itu, leluri lestari
dalam sanubari, kian melemah.
Purba sangka:
Tepuk tangan takzim
apalagi sorak: Tabik!
Itu angan belaka
Bangun! Kembali!
Lagi, melintasi lorong itu.
Hanya Rembulan
Kusadari hanya rembulan
yang setia menyapa
aku, kadung terlelap
di dua per tiga malam
waktu, manusia enggan
yang seiya menyalami
aku, yang membaringkan
lelah badan dipermainkan malam
bermelodi drama kehidupan.
Tak Sanggup
Kasihani aku
yang ingin terus berada
di pangkuanmu memeluk,
tak membiarkan pergi
apalagi melepaskan
lihat sekarang
di mana tanah aku
berdiri, menunggu
yang pasti tak menandingi
hangat rumah kita.
Melawan arus takdir,
kusalahi saban detik
atas kutukan Tuhan
kepadaku, yang memisahkan
aku denganmu
berpulang, tak sanggup
kutahan pilu yang
biasa dihapuskan
olehmu, yang memenangkan
kini tenang, berpamit.
Selamat tinggal kepada
rupa yang terpotret buram
digantikan bayang-bayang
domba tersesat. Ah, ah.
I hate my feeling.
Insecure
Aku merasa
bodoh
jika berdiri
di sebelahmu
yang membelah
berbagai lintasan
tempat bayang berada.
Bukankah kita amsal
katak merindukan bulan?
Mataku Bisa Apa?
Mata tak mampu memandang
senyampang gelap enggan berpamit
dikalahkan matahari berkehendak menyapa
sejagat tanah, tempat padi tumbuh subur
menghamili beribu beras
melahirkan berkilo nasi
pengasih lapar badan.
Mata hanya mampu memandang
hitamnya malam, warna
alam semestaku berpijak
terpaksa, menjalani hidup
serba runyam.
Tangerang Selatan, 24 Oktober 2020
Mahasiswa teknik Fisika UGM berasal dari Tangerang Selatan. Saat ini, penulis tengah aktif di media massa Gebrak Gorontalo dan Banten Perspektif. Selain itu, penulis aktif menulis opini di sejumlah media massa, membuat puisi, dan artikel ringan.
