f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
ampuni hamba

Tak Bernilai

Aku hanya seonggok daging
tak bernilai nan hina
bahkan cacing pun enggan
memakan jisim membusuk
yang terbelusuk di dalam tanah.
Body shamming: asupan.

Hidup seolah hilang arah
di lorong kegelapan pemakan
cahaya itu, leluri lestari
dalam sanubari, kian melemah.


Purba sangka:
Tepuk tangan takzim
apalagi sorak: Tabik!
Itu angan belaka
Bangun! Kembali!
Lagi, melintasi lorong itu.

 

Hanya Rembulan

Kusadari hanya rembulan
yang setia menyapa
aku, kadung terlelap
di dua per tiga malam

waktu, manusia enggan
yang seiya menyalami
aku, yang membaringkan
lelah badan dipermainkan malam
bermelodi drama kehidupan.

Tak Sanggup

Kasihani aku
yang ingin terus berada
di pangkuanmu memeluk,
tak membiarkan pergi
apalagi melepaskan

lihat sekarang
di mana tanah aku
berdiri, menunggu
yang pasti tak menandingi
hangat rumah kita.

Melawan arus takdir,
kusalahi saban detik
atas kutukan Tuhan
kepadaku, yang memisahkan
aku denganmu

berpulang, tak sanggup
kutahan pilu yang
biasa dihapuskan
olehmu, yang memenangkan
kini tenang, berpamit.

Selamat tinggal kepada
rupa yang terpotret buram
digantikan bayang-bayang
domba tersesat. Ah, ah.
I hate my feeling.

Insecure

Aku merasa
bodoh
jika berdiri
            di sebelahmu
yang membelah
            berbagai lintasan
tempat bayang berada.

Bukankah kita amsal
katak merindukan bulan?

Mataku Bisa Apa?

Mata tak mampu memandang
senyampang gelap enggan berpamit
dikalahkan matahari berkehendak menyapa
sejagat tanah, tempat padi tumbuh subur
menghamili beribu beras
melahirkan berkilo nasi
pengasih lapar badan.

Mata hanya mampu memandang
hitamnya malam, warna
alam semestaku berpijak
terpaksa, menjalani hidup
serba runyam.

Tangerang Selatan, 24 Oktober 2020

Bagikan
Baca Juga  Rinduku pada Ibu
Post a Comment