Abrakadabra Serabi Perempatan Desa
I
Suatu subuh yang sunyi, lantunan ayat suci masih bergema. Sekesiap mungkin, selekas tunaikan sujud dan merawat doa, seorang ibu bergegas menggendong bakul dan tampah. Dengan bungah, menyusuri jalanan terjal menuju perempatan; tempat mampir orang-orang selepas dari masigit. Di sana, ia akan menggelar beberapa tungku dan wajan kecil pencetak serabi.
II
Sekarung kayu bakar dipanggul anak kecil tiba menyusul. Anak itu membawanya dari pawon belakang rumah. Kayu-kayu yang sudah dicacah kecil-kecil itu merupakan kayu pilihan yang bakal digunakan ibunya memasak serabi dan goreng dage. Ya, sebab itulah bau asapnya khas. Rasa serabinya khas pula. Berbeda dengan serabi di kota yang dimasak dengan kompor gas.
III
Perempatan yang tadi sunyi segera menjadi ramai. Berdatangan orang-orang memburu sarapan. Serabi yang dijajakan selagi hangat selalu menjadi pilihan. Selain harganya murah, rasanya begitu nikmat. Apalagi, disantap saat pagi dingin dikaribi kopi hitam, teh manis, atau air rebusan jahe. Dan jangan salah, goreng dage yang masih hangat tak kalah mantapnya. Tak lengkap tanpa kehadirannya. Bila semua telah tersaji di meja, lengkap sudah tumaninah kita mengawali hari.
IV
Belum genap pukul enam pagi. Matahari pun masih malu-malu. Ia telah siap beranjak pulang. Dagangan habis, kayu bakar habis, tapi semangatnya tampak tiada habis. Ya, semangatnya kini menjalar ke seantero desa, lewat serabi yang jadi santapan warga. Serabi dan goreng dage itu, tentu saja menjadi energi. Serupa sihir yang mengabrakadabra seisi desa.
V
Si bujang tiba, mencium tangannya. “Angkat sakola heula mak,” katanya. Sekolah penting, bantu ibu jualan juga rupanya penting baginya. Sang ibu memberinya bekal; dua tangkup serabi, dua potong goreng dage, dan sebotol air minum dalam satu kresek hitam. “Tong poho maca bismillah,” pesannya.
VI
Selepas pulang, tak kehabisan tenaga, ia masih mengurusi kebun dan beberapa hewan ternaknya. Keuntungan hari itu (meski tak bikin tajir) bukan cuma dipakai untuk makan dan segala tetek bengek kebutuhan hidup, tapi tak lupa ia sedekahkan. “Mugi berkah, Gusti,” ujarnya sambil memberikan sekantong beras, minyak, dan gula kepada nenek tua (sebatangkara) tetangganya.
*
Kamus kecil
Angkat: Berangkat
Heula: Dulu (lebih dahulu)
Bungah: Senang hati
Goreng dage: Oncom goreng
Masigit: Masjid
Maca: Membaca (melafazkan)
Mugi: Semoga
Pawon: Dapur
Poho: Lupa
Sakola: Sekolah
Tong (Entong): Jangan
Ahmad Soleh. Menulis cerpen, puisi, dan esai di berbagai media. Pendiri Penerbit Irfani, penerbit buku indie di Kota Depok. Mahasiswa S2 Uhamka ini juga merupakan awardee beasiswa MPK-SDI PP Muhammadiyah tahun 2024. Selain aktif sebagai sekretaris MPI PDM Kota Depok, ia juga aktif sebagai anggota APEBSKID Komisariat Jakarta. Aktif di Instagram ahm_soleh
