Lalai
Tahajudmu satu malampun tidak pernah henti.
Panjang doa dan dzikirmu tidak mengenal durasi.
Senin Kamis hari terindah untukmu berlapar diri.
Kaupun berharap menjadi insan suci dan kekhusyukanmu membuatku iri.
Tapi mengapa kau lupa diri?
Dari rahim siapa kau hadir dan berjaya hingga hari ini?
Dengan sisa-sisa kekuatan di raganya ada ribuan baris doa kebaikan untukmu.
Yang terucap tanpa jeda,
yang keampuhan bisik lirihnya
tidak diragukan alam semesta.
Dialah wanita renta yang kau sebut sebagai ibu, simbok, emak, mama, mami, ummi atau bunda.
Dia tidak pernah memintamu untuk merasakan seperti yang dia rasa.
Dia hanya ingin kau menghormati, menghargai dan menyayanginya.
Suratan
Langit sangat cerah diawali hadirnya sang rembulan malam ini.
Secerah harapanku dalam menantimu seperti sekian purnama yang telah lalu.
Kutatap lesu langit biru yang perlahan kelabu.
Beberapa titik mega menghalangi daya pandangku untuk kembali menikmati keindahan ciptaanNya.
Kau tak harus tahu, sudah beribu kali kulangitkan permohonan.
Sambil berbisik lembut kuberharap hidupmu berselimut kebahagiaan.
Kau seharusnya tahu, seribu kabar tentangku telah kukirimkan lewat jasa angin lalu.
Namun tak satupun hembusan angin yang membawa penawar sebagai pelipur laraku.
Tak perlu lagi kukirimkan suratku dan tak perlu lagi kutunggu suratmu.
Karena aku harus yakin dan ihlas bahwa semua ini sudah menjadi suratanku.
Asmara yang Tersisa
Langkahmu segagah derap kaki kuda sembrani
Dengan satu hentakan kau membawaku lari
Menerjang rimbunnya rimba kekolotan
Menerobos pekatnya belantara keangkuhan
Bulat rembulan di angkasa tak sebulat tekadmu
Dalam meramu cintamu dan cintaku meski terlihat wagu
Melompati bersama palang-palang rintangan
Agar bahagia bukan sekedar angan
Sembari mengulum sesudut senyum di bibir, kubangkit dari kursi dengan lesu
Dalam lamunan masih kurindu wajah teduhmu nan lugu
Seutas asmara yang tersisa membelit dada, membuatku lupa
Kau bukanlah kuda dan aku bukan siapa siapa…

Seorang ibu rumah tangga dengan 3 anak, masih aktif di ‘Aisyiyah Donorojo Jepara.

Bu Guru Wiendy
Mantapppp….