f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.

Mengapa Nabi Muhammad Pernah Bermuka Masam?

Pada masyarakat sadar berita, pasti telah membaca tentang merebaknya kabar tentang pemboikotan berbagai produk Prancis yang terjadi beberapa negara. Pemboikotan ini sebagai sikap jawaban umat muslim dunia, atas pernyataan Presiden Prancis Imanuel Marcon yang mendukung sekulerisme Prancis dan kritik terhadap islam radikal. Dengan dalih sebagai negara yang menjamin kebebasan berbicara, secara terbuka dia menyatakan sikapnya, mendukung sebuah terbitan majalah satire yang menampilkan komik Nabi Muhammad dan akhirnya mendapatkan kecaman oleh muslim di eropa dan muslim di negara Lainnya.

Bagaimana sebenarnya sosok fisik Nabi Muhammad SAW? Berdasarkan referensi ternyata penggambaran secara tertulis tentang postur tubuh, bentuk wajah, rambutnya, dan juga bagaimana ekspresi wajahnya ketika menyikapi suatu hal, ternyata sangat lengkap.

Nabi Muhammad Saw.

Quraish Shihab  seorang intelektual muslim memberikan penilaian bahwa sesungguhnya wajah Rasulullah saw. itu bisa dilukis dan digambar, tetapi itu dilarang.  Dalam tulisan yang disampaikan bahwa postur tubuh Nabi Muhammad SAW tidak pendek dan tidak juga tinggi. Kemudian, tidak kurus dan tidak juga gemuk.

Secara postur, Nabi Muhammad digambarkan ideal. Lalu ketika bicara tentang rambutnya, rambut beliau hitam, sedikit bergelombang, dan terurus rapi hingga ke ujung telinga beliau. Wajah beliau adalah dengan dahi yang sedikit lebar, bola mata yang jernih berkilau, bulu mata yang lentik, alis yang hitam dan tebal, kemudian di antara kedua alisnya terdapat urat yang terlihat dengan jelas saat dia sedang marah.

Sosok Nabi

Secara psikologis Rosulullah SAW adalah orang yang tenang dan sabar. Pada kondisi tertentu tetapi sangat jarang, pernah Beliau mengalami raut muka sedih, menangis, marah, dan bermuka masam.

Beliau menangis dan sedih ketika meninggalnya istri dan paman beliau yang hampir bersamaan. Marah ketika dalam peperangan kehilangan pasukan dalam jumlah banyak. Di mana pasukan itu adalah para shahabat yang mulia, alim dan ahli alqur’an.

Baca Juga  Mengompos, Cara Kita Menjaga Bumi !

Bicara raut muka nabi Muhammad SAW ketika menyikapi suatu keadaan terlihat sangat memiliki naluri yang sama dengan manusia pada umumnya.

Sikap lain ternyata Rosul pernah bermuka masam dan berpaling karena seorang buta telah datang kepada beliau. Hal ini tertulis dalam Kitab Al-Qur’an QS 80:1-10. Keadaan pada saat itu adalah ketika di hadapan beliau kedatangan tamu seorang yang memiliki keterbatasan dalam melihat atau buta. Tamu ini hadir pada saat rosulullah sedang menjamu para pemuka kafir Quraish. Kepada pembesar-pembesar Quraisy Rosul sangat memberikan perhatian.

Pernah Bermuka Masam

Sambutan beliau terhadap Abdullah Bin Ummi Maktum, mengekspresikan sesuatu yang dalam terjemahan tafsirnya diistilahkan dengan  bermuka masam, berpaling dan mengabaikannya. Tapi hal ini tidak sama sekali menunjukkan kekurangan beliau. Kadang dalam peristiwa yang serba mendadak prasangka bisa timbul dalam benak manusia.

Beruntung Rosul memiliki sifat ma’syum. Seketika itu langsung diturunkan petunjuk peringatan oleh Allah SWT, bahwa tidak boleh bersikap demikian karena barangkali dia (Abdullah Bin Ummi Maktum) ingin menyucikan diri dari dosa, atau ingin mendapat pengajaran yang bermanfaat dari rosul. Sebaliknya para pembesar itu belum tentu orang yang menyucikan diri (tidak beriman).

Bersikap Baik pada Penyandang Disabilitas

Perasaan alami pada diri manusia biasa, ketika berhadapan dengan orang lain yang berbeda dan memiliki keterbatasan sering memandang dengan sebelah mata dan mungkin under estimate. Sikap ini dapat diekspresikan dengan raut muka yang mungkin memiliki arti ikut bersedih, berempati, meremehkan, atau juga cuek. Sikap-sikap ini bisa sangat manusiawi, apalagi didukung oleh suatu keadaan yang tidak terduga sebelumnya.

Apakah sebagai ummatnya masih terus harus mengulang bermuka masam jika menemui sahabat-sahabat yang disabilitas? Stop sikap yang demikian karena sudah dicontohkan dan bagaimana cara sikap yang tepat ketika berdampingan dengan mereka.

Baca Juga  Mengembangkan Teologi Altruisme Piagam Madinah

Memang bagi seorang disabilitas terkadang tidak dapat melihat langsung bagaimana dia diperlakukan, bila memiliki keterbatasan dalam mengolah perasaannya. Misalnya pada pribadi yang memiliki keterbatasan penglihatan, down syndrome dan juga autis.

Terkadang juga perasaannya tidak sampai ke tahap kesedihan yang luar biasa ketika diperlakukan tidak tepat, hal ini memang disebabkan oleh keterbatasannya. Dikarenakan adanya defisit dalam timbal balik sosial emosional, keterbatasan dalam komunikasi, akibatnya tidak dapat berbagi minat, emosi dan perasaan dalam interaksi sosialnya.

Tetapi bagi para orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus atau berkatagori disabilitas, sering mungkin juga setiap hari merasakan bagaimana ketika anaknya direspon oleh orang lain. Kehadirannya sering tidak mendapatkan sambutan yang hangat. Ditambah jika anak ini melakukan aktivitas yang tidak sama dengan aktivitas orang pada umumnya. Atau juga melakukan kegiatan yang melawan tatanan adab pergaulan sosial.

Menjadi Orang Tua yang Bersyukur

Menyikapi hal ini maka sebagai orang tua, ataupun juga para pendamping insan dengan keterbatasan khusus, tidak perlu bersedih dan mungkin juga marah ketika anaknya dipandang dengan muka masam. Yang terpenting adalah tindak lanjut terhadap sikap tersebut. Dengan cara yang elok sampaikanlah bahwa stigma negatif terhadap sahabat disabilitas itu tidak boleh. Janganlah begitu? Apalagi kadang menggunkannya sebagai meme dan bahan ledekan.

Sebab apabila cara pandang terhadap orang lain hanya berdasarkan fisik dan duniawi saja, maka pada kalangan yang telah dianugerahi Allah dengan keterbatasan, hanya akan menjadi orang yang terabaikan. Supaya hal ini tidak terjadi maka perlu merubah cara pandangnya, sebaiknya didasarkan pada standar yang hakiki yang sebagaimana Allah yang telah mengajarkan kepada Nabi Muhammad Saw. Siapapun dia karena datang untuk mencari pelajaran yang bermanfaat dan ingin menyucikan diri dari dosa maka tidak pantas untuk diabaikan.

Baca Juga  Murid Istimewa dan Guru Mulia

Sebagai makluk sosial yang bertemu dengan segala tipikal manusia dengan keunikannya masing-masing, tetaplah saling menghormati dan menghargai dengan setinggi-tingginya termasuk sahabat yang dengan keterbatasan. Agar mereka memiliki persamaan dalam semua haknya, mendapatkan tempat yang sama dalam kehidupannya dan tidak serta merta menjadi beban dalam keluarganya dan juga dapat berperan luas di lingkungan dan di masyarakat.

Bagikan
Post a Comment