Cinta dan Corona
Saya kurang begitu suka dengan tugas-tugas kuliah kebanyakan. Sarat hafalan, namun miskin koneksi dengan kehidupan. Apalagi kemarin karena disrupsi Covid-19, berjamaah para dosen memberi tugas resuman, atau kirim PPT untuk mahasiswa baca sambil rebahan.
Gegara itu, banyak yang curhat mengeluhkan perihal tugas yang seperti kerja rodi. Namun ya begitulah, mau protes mereka tidak berani. Mereka lebih takut nilainya disuntik mati.
Ketimbang menyampaikan aspirasi dan bersitegang dengan dosen lain, saya gunakan keluhan dan masukan mahasiswa untuk menyesuaikan pengajaran di kelas saya sendiri. Karenanya, saat ujian tengah semester kemarin, hal berbeda saya uji coba.
Alih-alih resume, saya minta mahasiswa membuat 2 halaman esai reflektif mengenai kehidupan mereka. Bahkan saya tekankan, silahkan curhat sesuka kalian. Curhat apapun. Boleh tentang mantan terindah yang selalu muncul dalam timeline, gebetan yang suka tiba-tiba lupa ingatan dan sensasi pedekatean antar kepulauan. Lah dalah. Ternyata hasilnya di luar dugaan.
Banyak loh karya mereka yang melampaui batas halaman. Ada yang jadinya seperti satu bab novel. Dalam beberapa kasus, saya sampai request supaya dilanjutkan. Lha ya gimana, ceritanya bagus dan bikin penasaran. Bolehlah sekarang saya bagikan satu cerita di i antara cerita-cerita itu untuk rahmania. Ya supaya Rahma.id makin santuy. Toh sesuai juga kan dengan tema warna serta gaya desainnya yang ngademin dan bikin orang-orang semangat kirim tulisan (yah ketahuan).
Jadi gini. Salah satu mahasiswa saya lagi jatuh cinta dengan teman sekelasnya. Aduhai, dia begitu dimabuk kepayang. Sampai di akhir esai dia minta saya bantu ngomong ke si doi, perempuan pujaan hatinya itu, bahwa dia ingin lebih dari sekedar F-R-I-E-N-D.
Masalahnya Gaes, si doi ternyata sebetulnya in relationship. Tapi, si Mukidi ini karena dibutakan oleh cintanya, lantas tetep ngepepet si doi. Ada alasan yang sahih untuk itu juga sih. Si doi katanya berada dalam hubungan yang toxic. Nah, Mukidi ingin menjadi Super Mario yang sekonyong-konyong menerobos singgasana BuayaKura (yang maen gamenya pasti paham) untuk kemudian menyelamatkan sang putri. Tapi apalah daya, Mukidi ini ga punya keberanian yang tinggi dan nyawa sebanyak Mario, jadi dia pakai gameshark (yang dulu suka Pe-Esan pasti tahu), yaitu DOSENNYA. Ya siapa lagi kalau bukan saya.
Sebagai dosen yang menjunjung tinggi Falasafah Pancasila dan Undang Undang Dasar Negara 1945, saya dengan terpaksa senang hati menerima permohonannya. Lagian saya luluh. Si Mukidi cerita kalau sudah sering kasih perhatian, pergi jalan, ngajakin nonton, tapi si doi masih deeply in love with si BuayaKura. Saya yang pernah ngalamin hal yang sama kan jadinya klepek-klepek. Aduh.
Tapi ya sebagai orang dewasa saya sangat berhati-hati. Dan orang yang berhati-hati biasanya lambat. Jadilah, baru sebulan kemudian saya kabulkan permohonannya. Buat yang protes kenapa lambat ya mohon maklum. Orang sudah beranak-pinak nggak bisa berakrobat seenak udel kayak dulu. Gitchu.
Nah, tapi Rahmania, sebagaimana etika universal dalam percintaan, sebetulnya pria harus berani menyatakan cintanya secara langsung. Tidak boleh lewat mediator, apalagi makelar. Yang pertama kayak seminar, terakhir kayak jualan. Jadilah, si putri protes ke saya.
“Pak, saya mau Mas Kidi cerita langsung. Enggak mau dari bapak.”
“Lah emang kamu mau nerima dia dan membuang yang lama? “
“Ya enggak lah Pak. Wong saya cinta sama cowok saya. “
“Yauda, saya bilang ke Mukidi. Biar dia langsung bilang ke kamu. “
Kampretnya, Mukidi bilang dia sudah enggak sayang.
Lha terus ngapain aja saya?

Alfi Syahr Nur Widenky
Sapa mas itu?
sanjaya
kek nya saya tau siapa mukidi iniii🤣🤣🤣
Mukidi
Mamah..aku terkenal
Zeeleden
Mukidinya lemahh gais😭 masa berhenti berjuang sih… gemeshh
alien jowo
mukidii teh sahaa??