Gelar S.Pd. Bukanlah Singkatan dari Sarjana Penuh Derita
Oleh : Esty Cahyaningsih*
Saya teringat momentum sembilan tahun yang lalu, saat saya masih menjadi mahasiswa, saat sedang rajin-rajinnya mengikuti kuliah di fakultas kejuruan dan ilmu pendidikan, fakultas favorit ibu saya. Ibu saya memang mengharapkan saya menjadi guru. Maka tidak heran kalau akhirnya saya diminta untuk masuk jurusan pendidikan.
“Ekonomi boleh nggak bu?”
“Engak boleh, lulusan ekonomi sudah banyak, nanti lulus mau jadi apa kamu? dunia sudah penuh sama orang lulusan ekonomi.” Kata Ibu Saya. “Itu Mas Arif anaknya Budhe Sumirah, lulusan ekonomi, anaknya Pakdhe Sagimin, Mbak Nana itu juga sedang kuliah ekonomi. Kamu lagi mau ikutan milih jurusan ekonomi.”
Singkat cerita, menginjak semester akhir, di tengah-tengah perkuliahan mata kuliah microteaching, dosen favorit saya, Pak Kasdi namanya. Ia tiba-tiba memberikan pertanyaan yang mudah dijawab oleh mahasiswa-nya.
“Kalian ini sekarang sudah hampir lulus, hampir jadi guru, coba gelar apa yang akan kalian dapat jika lulus dari kampus ini?”
Ya ampuun itu kan pertanyaan gampang banget, nggak ada kaitannya dengan materi perkuliahan microteaching sedikitpun. Anak SMA yang baru mau daftar kuliah juga pasti sudah tahu.
“S.Pd Pak.” Sahut riuh 30 mahasiswa di kelas kecil tersebut.
“Right very good (reinforcement anadalan dosen saya), lalu kalian tahu nggak apa itu kepanjangan dari S.Pd ?.” Imbuh pak Kasdi.
“Sarjana pendidikan, Pak.” Jawab mahasiswa dengan mantap dan kompak.
“Kurang tepat. Wah, mbok jangan malu-maluin kalian ini. Sini bapak kasih tahu. S.Pd itu kepanjangan dari sarjana penuh derita.” Pak Kasdi melanjutkan sambil setengah ketawa.
“Hahahaha” kelas menjadi riuh dan ramai, penuh kelakar mahasiswa.
”Lalu jika lulus nanti janganlah kalian melanjutkan kuliah pascasarjana, sebab setelah itu kalian akan mendapat gelar M.Pd. Makin penuh derita.”
“Hahahahaha,” kelas menjadi lebih ramai dari sebelumnya.
Jenis becandaan lawasan ini saya yakin pernah didengar oleh mantan mahasiswa FKIP. 99,99 % pasti mereka pernah dengar. Hambok yaqiin.
S.Pd, sarjana penuh derita. MPd, makin penuh derita. Entah kenapa strata gelar perkuliahan seringkali dikaitkan dengan materi, jabatan, pekerjaan hingga strata sosial. PNS dan bukan PNS misalnya. Padahal maknanya tidak sesempit itu. Sudah banyak kita tahu bahwa lulusan FKIP yang mendapat gelar S.Pd itu idealnya akan menjadi guru. Tapi, tidak ada jaminan mereka jadi guru atau tidak.
Pada kenyataanya, lulusan FKIP tidak sertamerta mau menjadi guru. Mereka akan njepat untuk memilih pekerjaan lain yang setidaknya mendapat gaji yang sesuai dengan biaya kuliah mereka. Mereka yang bertahan menjadi guru, adalah mereka yang sabar dan tawakal, dengan gaji minimalis. Eh kok gaji, upah ding.
Mengingat gaji guru, apalagi guru honorer. Bagi mereka yang beruntung, mereka akan mendapat gaji 350 ribu per bulan. Itupun kalau tidak di hutang. Kok dihutang? Iya, dalam suatu kondisi tertentu gaji mereka akan dirapel 3 bulan kedepan dan dibayarkan di akhir bulan. Mungkin ini kali ya, yang menjadi rujukan bahwa S.Pd adalah kepanjangan dari sarjana penuh derita. Lha tapi kok mereka bisa hidup?. Itulah uniknya kehidupan jika kalian mau melihat.
Ketahuilah kalian semua. Menjadi guru tidaklah semenderita yang kalian bayangkan kok. Jika kalian sudah bercita-cita mengabdikan diri pada dunia pendidikan dengan menjadi seorang guru meskipun tidak kaya raya, lanjutkanlah. Itu adalah sebuah cita-cita yang mulia. Namun jika kalian ingin menjadi kaya, jangan sampai kalian bercita-cita menjadi guru. Apalagi guru honorer. Remuk sampeyan.
Jika ingin kaya jangan jadi guru, jadilah pengusaha, jadilah pedagang, jadilah dokter, jadilah penulis. Ya macam Mas Iqbal Aji Daryono itu, esais dari mBantul. Pesan tersebut mungkin benar bin tepat. Menjadi guru tidak akan menjadikan kalian kaya raya. Tapi, akan menjadikan kalian mulia. Ea ea ea. Makan itu mulia. Sudah nggak usah nyinyir.
Tapi tenang, lulusan S.Pd yang menjadi guru honorer dengan bayaran 300ribuan itu saya yakin nggak menderita-menderita amat kok. Cobalah kalian lihat di sekeliling. Adakah guru sekarang yang nggak punya smartphone android?. Guru-guru ini nggak penah telat membeli kuota internet. Selain itu, mereka juga masih bisa makan nasi enak kayak kalian, bukan njuk makan nasi jagung kayak jaman penjajahan. Masih bisa belanja onlen-onlen sana sini ngikutin tren.
Kemudian, setiap ke sekolah apa mereka jalan kaki? melaju dengan sepeda kumbang di jalan berlubang kayak Oemar Bakri? saking ga punya diutnya? Kan nggak. Minimal mereka berangkat mengendarai sepeda motor. Motor yang mereka kendarai-pun bukan motor butut. Untuk guru-guru honorer biasa. Ini yang biasa lo, ya minimal bawa honda beat, scoopy, atau vario 150 cc keluaran terbaru, yang nyalainnya sudah nggak pakai kunci jadul macam motor- motor kalian, tapi pakai remote, yang kalau dipencet bunyinya “klik klik”, seperti remot mobil itu.
Kalau yang PNS macam mana?. Jangan tanya lagi kalau soal guru PNS. Alih-alih menderita, kebanyakan dari mereka justru sering menunjukkan hartanya. Untuk soal tunggangan saja, kita bisa lihat dengan mata telanjang. Mereka ini biasa memakai motor-motor gedhe seperti PCX, NMAX, pun LEXI dan kawan – kawannya. Eh hoop hoop. Kok malah Jadi ngomongin merk motor.
Selain itu, jadi guru itu menyenangkan lho. Setiap hari hati kalian bisa berbunga-bunga ketemu murid-murid yang lucu dan gemesin. Ngajarin materi dari salah seorang murid yang tadinya nggak paham jadi paham. Sudah dapat bayaran di dunia masih dapat pahala di akhirat lagi. Murid-murid kalian ini nanti akan mengamalkan ilmu yang diserap dari gurunya lalu ditularkan ke anak cucunya, jadi ilmu yang bermanfaat juga kan!. Tugas paling berat hanyalah saat lemburan “bikin” nilai raport. Itupun bisa kalian kerjakan dengan SKS, sistem kejar semalam. Hahaha.
Nah, dari sini kalian sudah paham kan jika S.Pd itu bukan sebenar-benarnya sarjana penuh derita. Perkara menderita atau tidak menderita itu sebenarnya kuncinya hanya satu, yakni syukur. Syukur dan menerima dalam menjalani takdir. Bersyukur punya suami pengusaha meubel yang lancar jaya, duitnya tumpah-tumpah, menerima sepenuh hati menjadi istri dosen yang bertugas di perguruan tinggi negeri, atau barangkali kalian adalah guru honorer yang memiliki usaha kuliner ramai yang omsetnya puluhan juta dan karyawannya sampai nolak-nolak.
Jadi, kalau kalian yang kebetulan alumni S.Pd dan hidupnya masih menderita, kalian tahu kan harus berbuat apa?
*) Penulis adalah guru honorer, hobi memasak bercita-cita menjadi ibu yang profesional

Monica
Mbak, kurang satu lagi tantangan menjadi guru. Yakni menghadapi wali murid yang saban hari “komplain” terus soal guru 😀 *curhat