f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
pisah

Ketika Orang Tuaku Berpisah

Pisah, adalah kata yang seringkali ku dengar ketika berada di rumah. Hardikan, bentakan hingga cacian turut menghiasi romansa kehangatan di dalamnya. Ayah dan Ibu yang selama ini menghiasi rumah dengan perlakuan tersebut. Mereka berdua merupakan pemeran utamanya. Entah siapa yang menjadi peran antagonis maupun protagonis, bagiku mereka berdua sama. Sama-sama membesarkan egonya.

Hidup dalam lingkungan keluarga seperti ini membuat kesehatan mentalku mengikis; siapa gerangan yang akan tahan hidup dalam rumah dengan keadaan orang tua yang setiap hari berseteru, tidak mau akur, justru gampang sekali mengucapkan kata pisah.

“Toh aku ada atas hasil dari kerja keras mereka berdua, ” gumamku setiap kali melihat perseteruan Ayah dan ibu.

“Nak, setelah pulang sekolah langsung masuk kamar saja ya,”  perintah Ibu ketika aku hendak pergi ke sekolah.  

Seperti pada pagi-pagi sebelumnya, Tanganya  selalu membelai hangat punggungku. seolah memberikan dorongan agar selalu semangat untuk menjalani kehidupan. Lebih tepatnya kenyataan. Karena surat cerai  keduanya akan jatuh  dua minggu dari sekarang.

 *

Kabar perceraian keduanya baru-baru ini ku ketahui dari hasil menguping semalam. Tepat setelah drama perseteruan yang berjilid-jilid mereka usai. Aku berjalan perlahan, nyaris tanpa bunyi. Menjinjitkan kaki setapak demi setapak mendekati daun pintu kedua orangtuaku yang tertutup rapat. Dengan perasaan was-was ku dekatkan kupingku tepat dibalik pintu.

Dag – dig – dug suara jantungku berpacu. Rasa khawatir ketahuan perlahan menyelimuti. Aku mencoba mencari ketenangan dengan menarik nafas panjang. Kuperhatikan lamat-lamat suara mereka didalam.

“Jadi seperti ini maumu?” suara Ayah meninggi.

“Iya,” tukas Ibu lembut.

“Besok aku akan ke pengadilan, mengurus surat cerai kita. Dan aku ingin mendapatkan hak asuh anak secara penuh”  

“Kalau untuk surat cerai, sudah aku urus tempo hari. Tunggu dua minggu lagi. Kita akan resmi berpisah. Tapi untuk masalah hak asuh anak, aku juga bersikukuh untuk mendapatkannya secara penuh”.

Aku mendengarkan percakapan mereka berdua dengan seksama. Aku tak  habis pikir, ternyata selama perseteruan terjadi. Ibu sudah mengajukan surat gugatan cerai terlebih dahulu. Secara sepihak, ia ingin cepat-cepat pisah dari Ayah. Bukan karena Ayah yang seringkali berlaku kasar, justru Ibu yang sedang menggila dengan egonya.

Aku tahu sendiri kesibukan keduanya, Ayah sebagai guru di salah satu sekolah menengah  tetangga desa, sedangkan Ibu menjabat sebagai kepala sekolah dasar yang baru-baru ini naik jabatan. Setelah sepuluh tahun lebih mengabdi,  dari guru honorer sampai pegawai negeri, berikut mengikuti seleksi sertifikasi guru juga. Ia perempuan pengabdi hierarki. Menapaki jejak-setapak demi setapak.

Baca Juga  Pernikahan dan Penyatuan

Frekuensi pertemuan diantara keduanya terbilang sangat jarang, enam hari dalam satu minggu, keduanya sibuk dengan urusan masing-masing. Pagi berangkat mengajar. Petang baru pulang dan malamnya terlelap dalam ranjang. Seringkali Ayah tidur di sofa ruang tengah dengan tangan yang masih memegangi buku. Ia tertidur kelelahan akibat pekerjaannya yang tak kenal waktu. Sedangkan Ibu menarik selimut seorang diri dalam kamar, tanpa sempat peduli pada Ayah.

*

Minggu, adalah waktu keduanya saling bertemu. Duduk berdua sambil menikmati secangkir teh yang sengaja kubuatkan. Meski tidak banyak kata terlontar dari kedua mulut mereka. Setidaknya aku bisa merasakan kehadiran keduanya dalam waktu senggang. Duduk beriringan menikmati waktu luang.

Sebenarnya perseteruan di antara keduanya ini dimulai semenjak aku masuk sekolah menengah pertama. Tepat disaat aku tidak mengindahkan perintah ibu, yang menyuruhku untuk masuk ke sekolah favorit pilihannya. Justru aku termotivasi oleh pilihan Ayah. Untuk menentukan keputusan sesuai dengan kata hati, tanpa ada paksaan maupun tekanan orang lain temasuk ibu.

Sikap Ibumendadak berubah semenjak itu, ia seringkali marah-marah tidak jelas. Setiap kali aku melakukan kesalahan sepele, seperti salah menaruh piring di rak gelas. Mencampurkan pakaian bersih dengan kotor, menyisakan sedikit debu ketika selesai menyapu. Ia akan mengomel seharian tanpa henti. Terkadang mencaci, tidak sedikit pula menyesali mengapa aku teledor seperti Ayah.

Aku tidak mengerti mengapa sikap Ibumendadak berubah, tidak lagi menyiapkan sarapan dikala pagi. Tidak menggubris curahan yang setiap kali aku lontarkan. Bahkan sikapnya ini kemudian merembet kepada Ayah.  Sering kali ia mengutuk Ayah ketika baru saja sampai rumah, padahal kepulangan Ayah biasanya membawa hadiah. Berikut makanan kesukaanku seperti bakso. Justru Ibumalah mengomel tidak beraturan “Owh,, baru pulang yak?, Cuma ini yang engkau bawa untuk menyuapku membukakan pintu?”. Hardiknya ketika membukakan pintu.

Untungnya Ayah seorang yang sabar, ia tidak mudah marah dengan sikap dan perlakuan Ibu yang kian menjadi. Namun kesabarannya terus terkikis, bak batu  tetrapod  menahan gulungan ombak setiap waktu. Terus bertahan dan berakhir buyar. Begitu juga dengan kesabaran Ayah  setelah tiga tahun lebih Ibu tidak kunjung juga merubah sikapnya. Justru terus mencerca tiada henti, paling sering kulihat ketika Ayah baru saja pulang. Pasti ia akan menjadi bahan olokan. Entah itu sebab masalah lampau, ataupun permasalahan yang dihadapi Ibu ketika berada di sekolah.

Baca Juga  Bolehkan Anak Terpapar Screen Time?
*

Sampai suatu ketika, amarah Ayah bangkit. Ia balik memarahi Ibu ketika dirinya merasa terpojokan akibat pertanyaan menohok.

“Gara-gara anakmu dikasih bakso yang setiap kali kau bawa saat pulang, sifatnya seperti dirimu. Teledor dan tidak patuh,” seloroh Ibu sambil menyendok makanannya.

“Apa kamu bilang San?” Ayah mengeryitkan dahi. Seolah tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

“Perlukah aku mengulang kembali pertanyaanku? Hah?” Balas Ibu terus memancing.

Brak….

Suara meja dipukul keras. Seketika suasana makan malam menjadi hening. Sorot mata Ayah mendadak tajam ke arah ibu. Tidak seperti biasanya ia menanggapinya seperti itu. Ia berdiri kemudian mulai menudingkan telunjuk.

“Maumu apa Susanti, menghinaku saban waktu. Tidak lelahnya mulutmu berkata yang tidak-tidak. Memangnya apa salahku?” muka Ayah merah padam. Amarahnya meledak-ledak.

Ibu hanya diam terpaku di kursi tempat dirinya duduk. Tidak menyangka jua suaminya Hendra. Akan mengamuk akibat dari perbuatannya selama ini. ia tidak menjawab, melainkan pergi melenggang ke kamar. Menutup pintu dan menguncinya.

Aku yang melihat kejadian tersebut, mendadak tidak bernafsu untuk makan. Ku tinggalkan piring yang masih terisi penuh, dan pergi ikut melenggang ke kamarku sendiri.

*

Usai pelajaran sekolah, biasanya aku akan langsung segera pulang. Tidak lupa menyisihkan uang jajan, guna ongkos naik kendaraan. Akan tetapi, moment pulang kali ini  tidak seperti biasanya, ada seorang laki-laki tambun sedang berdiri dekat dengan gerbang sekolah. Seolah sedang menunggu seseorang. sekilas dari kejauhan seseorang itu melambaikan tangan. Dan mendadak reflek tanganku ikut membalas.

“Ayah, mengapa mendadak menjemputku? Tidak seperti biasanya saja aku pulang sendiri” Tanyaku membuka obrolan.

Ia membalasnya dengan senyum simpul. Tangannya meraih pundakku. Menggiring ke mobil yang terparkir di halaman luar sekolah.

Sudah separuh perjalanan Ayah hanya diam menatap kosong kedepan. Tanpa ada sepotong kata keluar dari mulutnya. Tidak seperti biasanya ia bersikap seperti itu. Padahal saban waktu, pasti ia selalu bertanya kepadaku, mengenai hal apapun. Termasuk pelajaran dan cita-cita ku nanti di masa depan.

Ayah mendadak menghentikan mobilnya di bahu jalan. Tidak lupa ia menyalakan lampu hazard guna keamanan. Bip ,, bip ,, bip.. bunyi lampu menghiasi keheningan.

Baca Juga  Pengalaman di Balik The World of Married Couple's

“Ayu, sebenarnya Ayah ingin mengobrol berdua denganmu” Suara Ayah mendadak serius.

Aku hanya mengangguk, siap mendengarkan perkataannya.

“Sebenarnya, Ayah masih mencintai ibumu, Susanti. Ia adalah perempuan yang pertama kali membuatku jatuh hati. tidak ada perempuan lain yang dapat mengambil hatiku” Tutur Ayah penuh kagum. Ia sedikit menghela nafas dan melanjutkan.

“Kamu pasti sudah tahu tentang kabar perpisahan kami, tapi apa mau dikata, Ibumu tetap bersikukuh untuk pisah dari Ayah. Ia tidak mau bersama orang teledor sepertiku” suaranya mulai parau, ia terisak menahan pilu.

 “Ayah, sebenarnya Ayu juga tidak bisa membayangkan hidup tanpa dampingan kalian berdua, rumah pasti akan terasa sangat sepi” jawabku ikut menimpali.

*

Mendadak dadaku seperti tertusuk paku, terasa sesak megap-megap. Tarikan nafasku menjadi berat. Hembusanya-pun tidak teratur. Tetapi kupaksakan untuk mengambil nafas panjang, guna mengambil kekuatan untuk mengucapkan apa yang selama ini ku pendam.

“Ayah masih ingat, kalian berdua pernah berujar  akan terus  sehidup semati. Tepat dihari ulang tahun pernikahan kalian tempo hari” Ucapku menenangkan.

Ayah masih larut dalam isak tangisnya. Seperti tidak mempedulikan perkataanku barusan.  Rona wajahnya masih basah, akibat peluh dan air matanya.

Tidak sadar, air mataku ikut merembes membasahi pipi. Aku terbawa suasana. Ku tahan suara tangisku agar tidak terdengar oleh Ayah. “Aku harus kuat, sekuat keinginanku agar kedua orang tuaku tetap bersatu,” gumamku penuh keyakinan.

Terjadi hening selama beberapa saat, ku lihat dari jendela mobil. Bayangan gumpalan hitam mendadak berkumpul menghiasi langit, suara guntur gelegar saling bersahutan. Kiranya langit-pun ikut terbawa suasana, melihat isakan tangis kami berdua.

Hujan turun secara perlahan, hawa dingin menyeruak masuk dari sela-sela kaca mobil yang separuh terbuka. Menghasilkan embun menutupi sebagian kaca.

“Mari kita pulang Yah, kita bicarakan ini baik-baik kepada Ibu” Aku mengakhiri obrolan dan menyuruhnya bergegas pulang.

Ayah menjalankan mobilnya, menyibak jalanan dengan perlahan. Di tengah hujan yang kian lebat, kepalaku terus berputar memikirkan bagaimana caranya agar Ibu menarik  Gugatan cerai. Karena dari lubuk hati terdalam berat rasanya berpisah dari salah satu maupun keduanya.

“Aku tidak ingin pisah, karena aku sayang kalian berdua.”

Bagikan
Post a Comment