f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
baju lebaran

Sejarah dan Syariat tentang Baju Lebaran

Bagi sebagian warga Indonesia, lebaran tanpa baju baru bagaikan makan tanpa minum. Ya, tak lengkap rasanya jika membahas lebaran, tetapi tidak menyinggung budaya baju baru di Indonesia.

Ketika menjelang lebaran tiba, orang beramai-ramai memburu baju baru. Maka dari itu, bukan hal yang aneh kalau di penghujung ramadan banyak pasar, marketplace, mall, ramai dikunjungi warga meskipun kala pandemi.

Tentang tradisi baju baru saat lebaran, mungkin selama ini kita menganggap hanya sebatas kebiasaan masyarakat saja. Padahal, terdapat sejarah yang menghiasinya. Berikut ini adalah penjelasan tentang sejarah tradisi baju baru lebaran yang mungkin belum pernah kita ketahui

Histori Baju Baru Lebaran

Melansir Historia.id, tradisi membeli pakaian baru jelang lebaran dan memakainya sewaktu perayaan hari raya, seyogyanya telah lama ada di Indonesia.

Snouck Hurgronje, penasihat urusan pribumi untuk pemerintah kolonial mencatat, kebiasaan ini bermula pada awal abad ke-20.

“Di mana-mana perayaan pesta ini disertai hidangan makan khusus, saling bertandang yang dilakukan oleh kaum kerabat dan kenalan, pembelian pakaian baru, serta berbagai bentuk hiburan yang menggembirakan,” tulis Snouck dalam suratnya kepada Direktur Pemerintahan Dalam Negeri, 20 April 1904.

Menurut Snouck, kebiasaan membeli pakaian baru untuk anak pada bulan 10 dalam kalender Islam, mirip dengan kebiasaan orang di Eropa

Tak berhenti di situ saja, mulai dari rakyat jelata sampai pejabat, juga memakai pakaian baru; meskipun kalangan bawah hanya mempunyai sedikit pilihan dalam membeli baju anyar.

Bagi para pejabat seperti: bupati atau kepala wilayah, melengkapi penampilannya dengan campuran mode setempat dan gaya muslim India serta Arab.

Kemudian tahun 1900, rakyat jelata mulai memiliki banyak pilihan untuk membeli pakaian baru. Harian De Locomotief, 30 Desember 1899; misalnya menggambarkan suasana orang-orang jelata yang mulai berpakaian Barat, mengikuti kegemaran para polisi, kecuali kain penutup kepala mereka.

Baca Juga  Tips Memilih Skincare Bagi Pemula

Mereka berlebaran tak lagi hanya dengan peci dan sarung baru, tetapi juga memakai sepatu, celana panjang, dan topi khas Eropa.

*

Kebebasan memilih mode pakaian ini berimbas pada pertumbuhan industri tekstil di Hindia Belanda, karena mode pakaian lebih beragam dan pasar penjualan melebar.

Masa-masa menjelang lebaran menjadi masa penjualan terbaik untuk mereka. Tapi, ketika masa resesi ekonomi pada 1930-an, penjualan turun drastis karena barang-barang tekstil melimpah ruah, sehingga menimbulkan harga turun dan jarang pembeli.

Dalam buku Sejarah Nasional Indonesia karya Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusantoloh; tradisi itu bermula di daerah kesultanan Banten untuk menyemarakkan datangnya hari raya Idul Fitri

Tidak jauh berbeda di kerajaan Mataram baru, Yogyakarta, yang juga demikian. Warga berbondong-bondong mencari baju baru. Untuk yang punya uang bisa beli di pasar. Namun untuk yang tidak punya duit, maka harus menjahit kain.

Oleh sebab tersebut, waktu itu banyak petani yang tiba-tiba alih profesi menjadi penjahit waktu menjelang lebaran datang hingga sekarang. Di berbagai wilayah Indonesia pun menganggap baju lebaran sangatlah penting.

Bagaimana Islam Memandangnya?

Sebenarnya, dalam Islam pun tidak ada hukum yang pasti tentang baju lebaran, namun ada riwayat yang menyunahkan memakai pakaian terbaik ketika lebaran.

Hal tersebut berdasarkan beberapa riwayat yang menceritakan bagaimana para sahabat mencontoh nabi Muhammad Saw saat mengenakan pakaian terbaik pada hari raya.

أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ، قَالَ: أَخَذَ عُمَرُ جُبَّةً مِنْ إِسْتَبْرَقٍ تُبَاعُ فِي السُّوقِ، فَأَخَذَهَا، فَأَتَى بِهَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، ابْتَعْ هَذِهِ تَجَمَّلْ بِهَا لِلْعِيدِ وَالوُفُودِ، فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّمَا هَذِهِ لِبَاسُ مَنْ لاَ خَلاَقَ لَهُ

Baca Juga  Memahami Perempuan Melalui Haid, Istihadhah dan Nifas

Sungguh Abdullah bin Umar, ia berkata: “Umar mengambil sebuah jubah sutra yang dijual di pasar, ia mengambilnya dan membawanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan berkata: “Wahai Rasulullah, belilah jubah ini serta berhiaslah dengan jubah ini di hari raya dan penyambutan. Rasulullah berkata kepada Umar: “Sesungguhnya jubah ini adalah pakaian orang yang tidak mendapat bagian.” (HR. Al-Bukhari)

Oleh karena itu, pada hari raya dianjurkan untuk mempercantik diri (berhias, memakai wangi-wangian) dan memakai baju yang terbaik. Jika tidak ada baju yang baru, boleh mengenakan baju lama (yang ada, yang kita punya) namun tetap pilihan yang terbaik.

Dalam berpakaian, kita juga tidak boleh berlebihan, karena bisa membuka pintu kesombongan dan masuknya sifat riya ke dalam diri. Nabi Muhammad Saw hanya menyunahkan kita memakai pakaian terbaik, bukannya pakaian baru.

*

Pakaian yang terbaik bisa saja pakaian lama yang nyaman dan masih bagus untuk dikenakan. Bagi yang mengikuti sunah ini, tentu akan mendapat pahala. Namun jangan sampai pakaian yang bagus atau baru jadi jalan masuk sifat riya atau kesombongan. Karena hal tersebut akan membuat pahala kita menguap begitu saja dan malah mendapat ganjaran dosa besar. Sebagaimana ayat suci Al-Qur’an berikut:

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ ۖ وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa darikamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al-Ahzab: 33)

Baca Juga  Postfeminisme: Harapan Baru Perjuangan Perempuan Indonesia

Hingga saat ini, tradisi membeli baju baru masih menjadi ritual rutin umat muslim Indonesia menjelang lebaran. Bahkan melihat banyaknya orang yang nekat berbelanja kala pandemi bisa saja menandakan bahwa tradisi ini semakin menguat dan mengakar. Seperti tradisi kita umumnya, membeli baju lebaran akhirnya terbawa sampai saat ini.

Pakai baju baru di hari fitri tentu tidak apa-apa, mengingat esensi lebaran tidak hanya sebatas itu. Harusnya tak hanya outfit kita yang baru tetapi hati kita juga.

Bagikan
Post a Comment