f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
kesetaraan

Sebenarnya Mencintai Tuhan juga Mencintai Kesetaraan

Ada apa dengan kesetaraan? Kenapa masih saja terkesan liberal di mata penceramah masjid-masjid dan majelis taklim? Yang bahkan anehnya suara-suara itu didominasi berasal dari barisan perempuan itu sendiri. Kesetaraan digeming-gemingkan adalah produk barat dengan nilai-nilai yang tidak diajarkan oleh syariat Islam. Padahal, mencintai Tuhan mencintai kesetaraan, sebenarnya.  

Narasi Kelas Dua untuk Perempuan

Banyak sekali narasi yang dibangun hanya untuk meng-kelas-dua-kan perempuan. Pertama, penciptaan perempuan dari tulang rusuk yang bengkok; maka  sudah sejatinya kau diframing “makhluk lemah wahai perempuan”; pesona perempuan yang menjerumuskan laki-laki; perempuan sebagai penghuni mayoritas neraka; kewajiban mutlak taat pada suami, pelaknatan bagi perempuan yang enggan melayani suami, itu artinya para ukhtiiiiiiiii “jadi istri kui mesti kudu pinter dandan, pinter masak, lha iyo suamimu mau tak takoni maem opo, nduk ?” Kemudian, yang melanggeng sampai hari ini adalah ngapain sih kamu kuliah tinggi-tinggi, mesti kerjamu itu dapur, sumur, dan kasur toh?

Nah, itu hanya beberapa, masih banyak teks keagamaan lain yang diinterpretasi parsial dan tidak komprehensif, dan terkonstruksi oleh sosial dengan sangat amat menjunjung tinggi asumsi mereka sendiri. Menyedihkan? Lhadalah Gusti. Lebih menyedihkannya lagi adalah para Yang Mulia di mimbar dan kelompok pengajian ibuk-ibuk setiap minggu ini menjadikan agama sebagai dalih pembenaran atas berbagai klaim tersebut.

Sebagaimana kita pahami ceramah-ceramah agama ini merupakan satu seni penyampaian pesan, gagasan atau pikiran seseorang dengan teknik dan retorikanya masing-masing. Apa jadinya jika setiap hari semakin membumilah sebuah ideolgi yang mendiskreditkan perempuan? Maaf, saya tak ingin membayangkannya. Sebenarnya, apa yang salah dengan kesetaraan? Padahal mencintai Tuhan, mencintai kesetaraan, sebenarnya.  

Baca Juga  Indonesia Berduka, Saatnya Bermuhasabah
Penafsiran “arrijalu qawwamuna ‘alaan-nisa”

Kiyai Husein Muhammad menyayangkan hal ini, “Kita kehilangan nalar kritis terhadap peran dan esensi perempuan dalam perabadan kehidupan” katanya. Padahal perempuan merupakan subyek penting dan memiliki potensi besar dalam pengembangan berbagai bidang kehidupan, bahkan dalam cakupan yang lebih besar -negara, tambah Pak Yai. Gus Dur juga mengamini hal tersebut dengan menafsirkan kembali teks-teks keagamaan yang sangat umum diinterpretasi sinis, salah satunya ayat 34 surat an-Nisa “arrijalu qawwamuna ‘alaan-nisa” yang digandeng dengan hadis “..akan rusak suatu kaum jika urusannya diserahkan kepada perempuan”.

Menurut Gus Dur pemaknaan ayat dan hadis ini merujuk kepada kontekstual di mana ayat dan hadis tersebut hadir. Dikarenakan pada saat itu masyarakat Arab masih hidup secara nomaden, sering terjadi peperangan, fanatisme suku, dan sangat individualis. Kondisi seperti itu pula yang menggambarkan kekuatan fisik menjadi pertahanan, sehingga perempuan dinafikan kekuatannya.

Namun, ketika ditarik pada konteks hari ini tentu sangat berseberangan, kepemimpinan sudah dilembagakan. Abi Quraish Shihab juga memberi pandangan terhadap tafsir ini, “Mereka memahaminya secara umum, padahal penggalan ayat tersebut dan lanjutan ayat perlu dimaknai lebih lanjut (sebagaimana pandangan Nasarudin Umar, bahwa jika suatu ayat/hadis yang mempunyai historical background secara khusus tidak bisa serta merta langsung diterapkan), yaitu pada ranah kehidupan rumah tangga, yang itu artinya laki-laki (suami) berkewajiban menanggung biaya hidup istri/keluarga mereka masing-masing”.

Lagi pula, ayat tersebut memberikan pensyaratan khusus untuk menjadi pemimpin, yang memiliki keunggulan. Sedangkan, keunggulan sendiri bukanlah satu given yang selalu ada pada laki-laki, maka itu artinya, siapa yang mengatakan perempuan tidak bisa menjadi pemimpin?

Konsep Kesetaraan

Di sinilah terlihat sebuah konsep kesetaraan, sebenarnya. Kang Faqih dengan konseptual populernya Qiraah Mubadalah menyangsikan pernyataan atas kesangsian kapasitas dan kelayakan perempuan secara personal turut dalam pepolitikan (kepemimpinan;publik). Hadis yang menjadi penguatnya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari Muslim Nomor 5471 “…dari Rubayyi’ bin Mu’awwidz ra berkata: sungguh kami, para perempuan ikut berperang bersama Nabi Muhammad, memberi minum dan melayani kebutuhan pasukan, kami juga membawa pulang mereka yang terluka dan terbunuh di Madinah”.

Baca Juga  Seratus Hari Menuju Ramadan, Umat Bisa Apa Ya?

Hadis ini menjadi saksi historis bahwa perempuan juga sejak dulu telah mengambil andilnya. Hari ini? Profesor Alimatul Qibtiyah (yang juga salah seorang perempuan progresif telah membuktikan peran dan dampak besarnya pada dunia keilmuan) merekam jejak peran pemimpin perempuan di Nusantara, peran dan sinergis mereka juga tidak main-main,  mereka terlibat pada perlawanan penjajahan Belanda.

Beberapa di antaranya adalah, Sultanah Tajul Alam Safiatuddin Johan Berdaulat (Sultanah Aceh selama 34 tahun); Ratu Sinuhun (Palembang, yang memiliki karya monumental (undang-undang tertulis komparasi hukum adat dan hukum Islam). Dari Sulawesi Selatan ada Ratu Aisyah We Tenri Olle yang pernah berkuasa selama 55 tahun, kemudian dari Kepulauan Riau, Raja Aisyah binti Raja Sulaiman (cucu Raja Ali Haji) yang juga melahirkan tulisan-tulisan kritis atas ketidakadilan terhadap perempuan, dan masih banyak lagi.

Belum lagi ketika kita mengulas peran perempuan dan kepemimpinannya dalam berbagai sektor lain yang sudah sangat jelas memberi dampak yang bukan main-main bagi Indonesia secara umum.  Lalu, apa lagi dalih yang membatasi kepemimpinan perempuan? Membatasi gerak dan kontribusi kemanusiaan perempuan? Padahal, mencintai Tuhan mencintai kesetaraan, sebenarnya.  

Mencintai Kesetaraan

Padahal, mencintai Tuhan mencintai kesetaraan, sebenarnya. Islam agama yang ramah dan rahmah. Arti kata agama saja sudah menjelaskan dengan sangat gamblang, A: Tidak; Gama: Kacau. Artinya, jelas bahwa manusia yang beragama adalah yang tak mengenal kekacauan, kerusakan, apalagi menafikkan kemanusiaan. Tuhan saja memanusiakan manusia dengan menganugerahkan kesempurnaan dan kemuliaan untuk manusia (perempuan dan laki-laki), siapa kita dengan pemahaman mendiskreditkan manusia dengan jenis lainnya?

Sudah saatnya mengakhiri pertentangan dan membuat-buat ketegangan bahwa Islam tidak memanusiakan perempuan dari penafsiran yang tidak holistik, karena kita membutuhkan Islam yang ramah, bukan marah. Islam itu sendiri adalah agama yang menjiwai prinsip al-musawwa-nya. Semangat kesetaraan tersebut terbukti dari surat al- Ahzab ayat 35 yang berkisah tentang nilai kesetaraan laki-laki dan perempuan; sekitar 60 orang sahabiyah mendatangi Rasulullah dengan mengadukan kebiasaan buruk suaminya yang berbuat kasar pada istri-istri mereka, belum lagi hadis tentang keikutsertaan berperang yang sudah disinggung diawal.

Baca Juga  Tarawih Ramadan dan Praktik Moderasi

Sejatinya, ini bukan soal tubuh, tapi soal ruh. Sehingga spirit kesetaraannya dimaknai dengan kepasrahan dan ketundukan kepada Tuhan baik dalam sisi ke-illahian maupun kemanusiaan (habluminallah dan habbluminannas) bukan dengan otoritas tubuh; fisik yang sering dijadikan dalih para misoginis yang menafikan kesetaraan. Sekali lagi, mencintai Tuhan mencintai kesetaraan, sebenarnya.  

Bagikan
Post a Comment