f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
rumah anak

Saat Rumah Tak Lagi Menjadi ‘Surga’ Bagi Anak

Saat ini, pandemi yang tak kunjung usai telah mengubah rumah menjadi pusat aktivitas umat manusia. Setelah berlakunya social distancing di mana-mana, masyarakat pun dipaksa ‘pulang’ ke rumah masing-masing. Rumah seakan menjadi benteng terakhir perlawanan masyarakat menghadapi keganasan virus Covid-19.

Saya, sebagai ibu rumah tangga yang memiliki anak usia sekolah sangat merasakan dampak seruan stay at home sejak bulan Maret lalu. Rumah yang dulu hanya berfungsi sebagai tempat anak bermain dan beristirahat sekarang menyandang status baru, sebagai sekolah.

Lha, siapa yang jadi gurunya? Secara resmi dan sesuai SK yang berlaku, jelas masih guru-guru mata pelajaran di sekolah. Namun, pada kenyataan di lapangan, saya ikut berperan besar mengawasi dan membimbing kegiatan belajar plus ‘mengajar’ secara daring itu. Tak sedikit terjadi ‘drama’ selama study at home berlangsung. Nada bicara saya yang kadang bablas naik sekian oktaf ditambah banjir air mata anak saat tiba di titik lelah dan susah dengan segunung tugas, sesekali mewarnai rumah kami.

Rumah Seharusnya menjadi Tempat yang Nyaman Bagi Anak

Sampai di sini, saya kadang khawatir telah melakukan kekerasan pada anak. Memaksa dia belajar sesuai jadwal, serta harus menuntaskan tugas sekolah. Memaksa dia  paham dengan pelajaran yang saya ‘ajar’ padahal saya pun harus buka-buka dulu buku materinya. Selain itu, saya pun tetap ‘tega’ membiarkan anak membantu pekerjaan rutin rumahan. Karena ingin anak punya rasa kebersamaan sebagai anggota keluarga.

Demikianlah gambaran umum bagaimana anak harus beradaptasi menerima rumah sebagai sekolah sementara. Selain itu, fungsi rumah yang dulu sebagai ‘shelter’ tempat bernaung, berlindung, dan beristirahat setelah berpayah-payah di luar sana, kini berubah jadi pusat kegiatan yang mendominasi keseharian keluarga.

Anak harus menerima kondisi lebih sering berbagi ruang bersama anggota keluarga lain. Yang sebelumnya, sosok-sosok itu banyak sibuk di luar rumah. Hal ini tentu bisa menciptakan relasi penuh gejolak dengan berbagai titik positif dan titik negatif di dalamnya. Maka, rumah seolah tak lagi sama seperti dulu, saat pandemi belum merajai bumi .

Dulu, ketika guru di kelas berkata, “Ya, sekarang waktunya pulang Anak-anak!” Maka, anak-anak akan bersorak sorai. Mereka bahagia karena akhirnya bisa istirahat, bersantai-santai, dan berkumpul kembali dengan keluarga. Demikian juga ketika anak mengalami kekerasan ketika berada di luar rumah.  Anak yang mengalami perundungan, ancaman, kejahatan, dan ketidakamanan lainnya pasti akan berlari pulang untuk mendapat perlindungan dan pembelaan di rumah.

Rumah memang sejatinya adalah tempat yang membuat anak merasa aman, nyaman dan bahagia di muka bumi. Bagaimana kemudian anak berada di posisi paling terdampak dengan kondisi rumah yang baru di masa pandemi ini, sangatlah bergantung pada keluarga masing-masing. Masihkah anak merasa aman, nyaman, dan bahagia berada di rumah?

Tragedi Anak Di Rumah

Pagi itu, saya mendapat kabar yang mengenaskan. Di salah satu grup WA para ortu, ada berita heboh dari kawan tentang kekerasan yang menimpa seorang anak di perumahan tempatnya tinggal. Anak laki-laki kelas 5 SD itu dihajar habis-habisan oleh bapaknya hingga masuk rumah sakit. Penyebabnya si anak malas belajar daring, lebih suka main game dan sepeda. Info tambahan yang beredar, si bapak ternyata sedang stres akibat PHK.

Sungguh beruntung anak itu tidak sampai meregang nyawa. Bisa saja nasibnya sama seperti berita viral belum lama ini. Yaitu, tentang seorang anak perempuan yang tewas di tangan sang ibu kandung. Penyebabnya mirip, konon si ibu kesal karena si korban susah belajar online. Anak yang masih duduk di kelas 1 SD itu pun mengalami penganiyaan keji hingga tewas. Tragisnya, dia dikubur begitu saja dengan pakaian lengkap oleh kedua orang tuanya di pemakaman umum Lebak, Banten.

Dua kasus tadi menunjukkan bagaimana ortu bisa hilang kesabaran terhadap anak karena terbebani peran baru sebagai ‘tangan kanan’ sekolah. Padahal, ada keluarga yang mengalami beban lain seperti masalah ekonomi yang berat. Sehingga, tugas baru itu kian menekan kondisi keuangan dan mental keluarga.

***

Sebagai orang tua sejatinya tidak mau dicap sebagai ortu yang masa bodoh dengan belajar online si anak. Apalagi guru sekolah terus memantau perkembangan belajar anak lewat orang tuanya. Kontrol terhadap anak kini tidak sebatas hal-hal urusan rumah, tetapi juga urusan sekolah.

Anak pun sungguh menderita. Dulu di rumah, si anak hanya sebatas mengerjakan PR sekolah. Itu pun tidak rutin setiap hari. Sekarang, anak dituntut terpontang-panting menuntaskan tugas pembelajaran yang full dari sekolah. Contohnya, anak saya. Dia bisa seharian menggarap tugas untuk dua sampai tiga mata pelajaran sekaligus. Sampai-sampai, kadang dia menangis karena sulitnya menghadapi pelajaran yang minim penjelasan.

Pengawasan ortu yang kerap lebih ‘galak’ dari guru sekolah ditambah beban tugas pelajaran yang tak kunjung henti, berpotensi besar membuat anak stres. Adanya kasus seorang siswa di DKI Jakarta sampai dilarikan ke IGD,  terjadi karena dia kelelahan dan stres saat menyelesaikan tugas sekolah yang sulit tapi berdurasi waktu singkat. Tidaklah salah bila ada anak yang lantas yang berkomentar bahwa belajar di rumah itu jauh lebih menyiksa daripada belajar di sekolah.

Kekerasan Seksual pada Anak

Tidak berhenti pada kasus belajar di rumah. Ternyata, berita soal kekerasan seksual pada anak ikut mengalami peningkatan. Berdasarkan rilis terbaru dari Komnas Perlindungan Anak Indonesia, pada masa pandemi ini, angka kekerasan terhadap anak di Indonesia tercatat ada 1.600 kasus. Sebanyak 52%-nya adalah kasus kejahatan seksual. Di mana 20% pelakunya adalah orang terdekat korban, entah itu keluarga, tetangga, atau teman dekat.

Bila diungkap alasannya sebenarnya klise. Kondisi pandemi ini menyebabkan munculnya orang-orang dewasa yang stres karena masalah ekonomi, depresi akibat menganggur, kecanduan narkoba, atau terpengaruh tontonan pornografi, sehingga melahirkan perilaku seks yang menyimpang.

Maka, anak-anak yang polos dan berada di posisi inferior di rumah akhirnya jadi mangsa empuk bagi kebejatan moral mereka. Anak-anak yang semestinya dilindungi dan disayangi malah dirisak dan dihancurkan masa depannya oleh orang-orang dewasa yang tak bertanggung jawab.

Tragedi di atas sungguh memilukan dan di luar akal sehat. Anak-anak yang tak berdosa justru jadi korban kekerasan di rumah sendiri. Masa pandemi bukanlah alasan anak-anak tak lagi menemukan ‘surga’ di rumah.

Dalam Islam, ‘surga’ itu tergambar dalam prinsip baiti jannati. Prinsip itu harus selalu diupayakan oleh setiap keluarga muslim di masa apa pun, sampai kapan pun. Baiti jannati adalah sebuah cita-cita yang bisa terwujud bila keluarga muslim selalu berpegang teguh pada Al Quran dan Ash Sunnah sebagai panduan melahirkan generasi Islam yang mulia. Generasi yang menjadi sebaik-baiknya umat manusia di muka bumi.

Bagikan
Comments
  • vita

    masyaAllah mb mantul

    Oktober 14, 2020
Post a Comment