f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.

Kisah Para Pria Bersarung (1)

Inilah kisah para pria bersarung. Cerita ini dimulai dari senja.

Senja ini masih membekas di ufuk langit. Bau anyir hujan masih menelisik melalui celah celah hidung. Sebentar lagi adzan maghrib menggema. Mendatangkan rintik rintik tasbih di peraduan cinta-Nya. Sajadah biru ini masih menggelayut mesra dibahunya. Tak ada yang berubah diatas jembatan ini. Jembatan yang masih tegak menopang langkah langkah suci. Jembatan yang masih berdiskusi kapan mereka akan diperbaiki. Inilah jembatan para peraih cinta ilahi.

Masjid desa terletak diseberang sana. Di seberang jembatan itu. Di bawahnya mengalir sungai yang deras. Kalau ingin ke masjid, harus wudhu dulu di rumah, di masjid tak ada tempat wudhu, tak ada kamar mandi. Hanya jendela jendela Allah yang terbuka di sana. Pintu pintunya terbuat dari kayu dan berderit memanggil wajah wajah para pecinta.

****

Setiap senja, anak anak kecil ramai berbondong bondong mengaji dan bermain. Setiap musim Ramadhan tiba mereka bercanda mesra menanti waktu berbuka. “Canda canda itu yang masih terbayang saat ini. Hanya bayangan, mereka tak nyata. Mereka bertopeng, tidak. Mereka pakai kopyah, tidak. Penat aku memikirkan tentang sesuatu yang tak nyata,” rintihnya.  

Hari pertama puasa. Tak ada buka bersama. Masjid sepi. Hanya mereka berdua. Seorang kakek dan cucunya. Yang lain tak mau datang. Tak tahu alasannya kenapa? 

Kebetulan di depan masjid, ada mata air. Jernih sekali. Ketika kemarau, mata air ini dimanfaatkan penduduk setempat untuk memenuhi kebutuhan. Mereka berdua meminum seteguk airnya. Nikmat sekali. Sementara Mbah Dul, kakek tua pemilik masjid itu tetap diam dan menikmati waktu berbukanya.

Mbah Dul adalah pemilik satu satunya masjid yang ada dikampungnya. Ia  tinggal bersama cucunya. Rahmad namanya. Sampai umurnya belasan tahun, Rahmad tak tahu menahu tentang keberadaan orang tuanya. Pernah sempat ia berfikir, mungkin ia adalah anak yang  dibuang di hutan dan ditemukan oleh warga kemudian dirawat oleh Mbahnya ini. Atau mungkin orang tua Rahmad membuangnya ke selokan dan terbawa arus sampai ditemukan Mbah Dul di bawah jembatan masjid ini. Tapi sudahlah, ia tak terlalu memperkarakan itu. Toh , intinya ia masih bisa hidup sampai sekarang .

Baca Juga  Si Capung Belang (2)

Ia sedang mengumandangkan iqomah. Sambil terus menengok ke belakang. Barangkali ada jamaah lain yang datang. Hasilnya nihil. Tak ada satu pun yang datang, hanya mereka berdua.

“Tak ada yang berubah sampai sekarang cucuku,” mbah dul membuka percakapan setelah mereka shalat. Rahmad hanya diam. Karena akhir akhir ini, kata kata yang menurutnya aneh itu berulang kali terucap dari bibir kakeknya. Rahmad menganggapnya biasa. Tak ada yang istimewa.

****

“Mbah, kenapa tidak ada yang datang ke masjid hari ini?” tanya Rahmad. Mbah dul tak menjawab. Diam. Ia hanya menatap cucunya itu dengan senyuman dan tak menjawab apa apa. Sampai mereka berdua memustuskan  untuk menyendiri dalam dzikirnya. Rahmad memutuskan untuk pergi ke teras masjid dan melihat kunang kunang di sana. Melihat kunang kunang di teras masjid adalah rutinitas Rahmad setelah selesai dzikir. Ia tenang saja melihat kunang-kunang itu. Kesimpulannya, mereka indah. Salah satu warna dari ribuan kehidupan yang bercorak.

Pada langit ia bertanya, “kenapa harus ada engkau wahai langit? ada bintang? hutan? ada air? dan harus ada aku?” langit tak suka ditanya. Ia buang muka dan tak menjawab pertanyaannya. Ia turun dan mencari terompahnya.

Ia berjalan beberapa langkah. Menemui bunga bunga yang tampak gelap dimakan malam. Lalu ia bertanya, “wahai bunga, kenapa engkau harus ada? tanah? bumi? matahari? air? kenapa engkau punya tangkai tapi aku tidak?” bunga berpaling mengikuti arah angin dan pergi meninggalkan pertanyaannya.

Ia mulai berjalan, ia berada di tepian jembatan dan bertanya, “wahai jembatan, adakah kau tau kenapa engkau diciptakan? adakah kau tahu kenapa talimu  diciptakan? adakah kau tau kenapa kayumu itu diadakan? kenapa di bawahmu harus ada sungai yang deras? Jadi daratan saja, biar tak ada engkau jembatan”. Jembatan hanya berderit, tak ada jawaban. Pasrah. Rahmad diam memandangi langit. Ia berjalan berbalik, kembali ke masjid. Setelah tak ada jawaban yang bisa ia dapat.

Baca Juga  Perjalananku Meraih Pendidikan Tinggi (1)
****

Sesampainya di teras masjid, tiba tiba ia dikejutkan dengan kedatangan tiga orang dari seberang. Wajah mereka tak terlihat. Tertutup kain sarung. Mereka berhenti di tengah jembatan. Melemparkan petasan ke angkasa berkali kali dan pergi.

Secepatnya ia menghadap ke Mbah Dul dan menceritakan kejadian yang baru saja ia lihat. Mbah dul  diam dan tak menjawab pertanyaannya, tetap melanjutkan dzikirnya. Rahmad mulai gusar bercampur kecewa, apakah semua akan diam seperti ini?

Rahmad mengumandangkan adzan isya. Setelah menunggu sekian lama. Tak ada yang datang. Mereka berdua melaksanakan sholat isya’ dan tarawih. Dalam hati ia bertanya “ Ke mana para pria bersarung tadi?”

Mbah Dul mengajaknya untuk berdiam diri di masjid dan menyuruhnya untuk tak pulang ke seberang. Menunjukkan secarik kain dibawah mimbar. Melafadzkan ayat ayat Allah diatas pusaran malam. Dan Rahmad pun tertidur dengan lelapnya. Berkelana dalam diam dan tanya.  

****

“Aku peringatkan sekali lagi, kalau kamu masih bersikukuh dengan prinsipmu dul, maka kami tidak akan segan segan melakukan tindakan yang tegas kepadamu,” ucap pria bersarung itu

“Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” ( At Taghabun 11)

Bersambung…..

Bagikan
Post a Comment