f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.

Kisah Para Pria Bersarung (2)

Ini kisah para pria bersarung. Kisah ini diawali dari cerita senja.  

“Hei tua bangka, jangan kau sok mendalili kami, kami muak dengan semua ucapanmu,” pria bersarung tadi menimpali.

Dan Sungguh akan kami berikan cobaan kepadanya dengan sedikit ketakukan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang orang yang sabar,” ( Al Baqoroh 155)

“Bangsat si tua bangka ini, melawan tuduhan kita dengan dalil dalilnya,” kata pria bersarung.

“Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri,”

“Kamu benar benar melawan, atau kamu minta kami habisi saat ini juga, Hah?” hardik mereka.

Dan Siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah sedang diapun mengerjakan kebaikan,”

Para pria bersarung itu pergi. Ada setitik darah di sarung mereka.

*****

Aku bangun di tengah kesunyian. Senyap. Tanpa suara. Semua makhluk diam. Mereka sedang mengheningkan cipta. Tak ada kata. Pekat. Waktu berhenti. Aku terduduk. Dipaksa duduk. Dan aku menangis. Kakekku sudah tersungkur di sana. Bersimbah darah.

“Kakek, kakek, kakek, Bangun kek, Bangun, kakek, siapa yang melakukan ini? Kenapa mereka melakukan ini pada kakek, apa salah kakek? kalau bukan dengan engkau, lalu siapa lagi aku akan mengarungi hidup ini kek, ayo bangun kek, tak ada orang yang aku kenal di dunia ini selain kakek, apakah setelah aku ditinggal orang tuaku, aku juga akan engkau tinggal kek,” malam sedang menangis. Nadinya terhenti, aku pasrah.

Aku hanya bisa tertunduk lesu dan mendengar celoteh para serigala. Tiba tiba aku bangkit dan menuju ke jembatan dan brakkkk…..aku terjatuh ke tepian sungai. Aku tak melihat jembatanku. Jembatanku sudah tidak ada. Tali tali itu terpotong.

“Ya Allah, cobaan apa lagi ini Ya Allah. Kenapa kakekku engkau ambil Ya Allah? Kenapa di saat aku belum siap kehilangan engkau tega merenggut nyawanya dari hadapanku? Kenapa di saat aku membutuhkan petuah petuahnya, engkau malah menghapus jejak kakinya dariku? Kenapa engkau harus memotong tali jembatan ini sehingga aku tak bisa membantu menyelamatkan kakekku? Apa aku harus menyerah dengan ini Ya Allah? Atau mungkin Engkau menginginkan aku mati di samping kakekku Ya Allah, Allahuakbar”

****

Hujan turun dengan perlahan. Aku hisap pekatnya malam menjadi butiran butiran gerimis dalam kelopakku. Aku sedang mengumpulkan noktah-noktah dendam dalam tubuhku. Aku ingin malam lahir bersama dendamku. Aku ingin pekat mengalir dalam nadiku menjadi dewa-dewa durjana di tubuhku. Dendam itu sudah mengalir di darahku.

Aku merintih di sudut sungai itu, “Ya Allah, aku tak pernah lalai dalam menjalankan perintahMu, aku tak pernah lupa dalam menyebut namaMu, sekian lama aku hidup terlunta lunta tanpa ada orang yang menyayangiku, aku jalani Ya Allah, aku ikhlas dengan semua ini, apakah aku pernah mengeluh dalam setiap setiap sujudMu. Aku hanya ingin merasakan rasa sayang itu dari kakekku, tak lebih, dan kini engkau tega merenggut nyawanya dariku?”.

 “Hai Rahmad, silahkan bersenandung mesra dengan kakekmu, kakekmu sudah mati, sudah kami babat habis, hahahaha,” suara parau di seberang sungai menyalak.

Aku melihat banyak lilinlilin menyala diseberang sana, para pria bersarung itu.

****

“Hei Rahmad, sana tinggal sendiri dengan masjidmu, engkau tak akan bisa menyebrang sungai ini dengan tubuh kecil dan lemah sepertimu, hahaha, jembatanmu sudah kami robohkan, sana makan sendiri mayat kakekmu,” gelak tawa mereka menembus cakrawala.

“Hei Rahmad, si cucu kyai sesat, kami sudah memperingatkan kepada kakekmu agar tak berbeda dengan kami, kakekmu malah mendalili kami dengan ayat ayat Allah. Selamat bersenang senang dengan tubuh ringkihmu, kami tau dia bukan kakekmu, hahahaahaha,” tawa parau mereka memecah telinga, menusuk ke dada dan membentuk partikel partikel kecil berupa dendam di telinga.

Setelah puas dengan celotehan itu, mereka pergi meninggalkanku sendiri. Dan gerimis tak lagi turun, ia berubah menjadi hujan darah. Ia deras.

Aku segera naik, cepat cepat kubawa jenazah kakek ke teras masjid. Dendamku kian menyala. Nyalanya menerangi malam sehingga menjadi siang. Apinya mengalahkan gerimis sehingga menjadi gersang. Dendamnya menyurutkan air sungai.

Bersambung…

Bagikan
Post a Comment