f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
anak yatim

Menolong Anak Yatim

Sehari setelah pengumuman kemenangan kepala desa yang baru, Paidi dan beberapa orang di desanya terlihat sibuk menyiapkan acara tasyakuran di rumah pak lurah. Tenda-tenda didirikan, karpet-karpet digelar, sound system disetting sedemikian rupa.

Sedangkan di dapur, ibu-ibu bergotong royong membuat makanan aneka rupa. Tak tanggung-tanggung, mereka memasak untuk tamu undangan yang jumlahnya bisa saja ratusan, bahkan ribuan. Maklum, lurah yang baru ini jaringannya luas, komunitasnya banyak, dan juga merupakan salah satu jamaah di pengajian salah satu ormas ternama. Wajar, jika nanti yang bakalan datang jumlahnya tak terkira.

Yang membuat acara tasyakuran itu istimewa adalah tamu spesialnya anak-anak yatim dari dua panti asuhan di Desa Karangsedeng. Pak lurah yang terpilih memang orangnya dermawan, suka sekali dengan kegiatan yang bernuansa sosial. Penduduk desapun jadi senang dibuatnya.

Semua warga desa mempersiapkan acara tasyakuran dengan penuh suka cita. Tapi, Mbah Rembuk, wanita lanjut usia yang dikenal sebagai orang gila pasar, tiba-tiba saja terlihat berdiri mematung tepat di depan pekarangan rumah Pak Lurah.

*****

“Selamat datang! Di Acara Tasyakuran Bersama Anak Yatim.” Suara Mbah Rembuk serak-serak basah saat membaca tulisan yang terpampang di spanduk acara.

Spanduk yang terpancang di antara pohon mangga dan jambu air itu dilempari kerikil-kerikil kecil oleh Mbah Rembuk. Tapi, hanya bergeming. Soalnya, tidak ada satupun lemparan kerikil yang sampai atas. Tangan sepuhnya membuat bebatuan kecil itu hanya terlempar lirih sampai atas kepala.

Warga desa membiarkan saja. Toh, tidak ada yang dianggap menganggu. Anak-anak kecil tertawa geli, beberapa berseloroh, “Mbah Rembuk kumat.” Tidak ada yang peduli saat wanita lanjut usia itu beritngkah aneh. Kecuali, Paidi, juru parkir pasar yang selama ini menganggap Mbah Rembuk adalah wanita tua yang istimewa.

Baca Juga  Asa Tanpa Batas
*****

“Lagi pengen jambu air ta, Mbah? Masih belum mateng, masih sepet.”

“Siapa yang bikin spanduk itu, Di?” tanya Mbah Rembuk dengan raut wajah sedikit kesal.

“Ya sohibul hajat to, Mbah. Pak lurah yang bikin.”

“Mana lurahmu itu? Suruh ke sini!”

“Wonten napa ta, Mbah? Beliaunya lagi repot. Nyiapin acara buat nanti malam.”

“Aku mau ngomong sama dia.”

“Wes, sama saya aja.

Nanti tak sampaikan.”

“Emoh,” bantah Mbak Rembuk yang semakin bersikap ketus.

“Beliaunya lagi repot, Mbah. Panjengan mau apa?”

“Yo wes, kalau gitu tak masuk ke rumah.”

“Eh, jangan, Mbah. Ampun. Sama saya aja ya, Mbah.”

“Emoh. Ini penting. Harus sama orangnya.”

*****

Saat percakapan semakin tidak menemukan titik terangnya, pak lurah kebetulan melintasi tempat mereka.

“Ada apa ini? Paidi, ini Mbah Rembuk kenapa? Kok melotot gitu.”

“Maaf, Pak, ini lho, katanya mau ketemu panjenengan.”

“Kenapa harus ada kalimat anak yatim di spandukmu, Mar.” Mbah Rembuk langsung memanggil nama lurah, Damar, tanpa ada embel-embel jabatan.

“Mereka undangan paling penting di acara saya nanti, Mbah. Ya, wajar kalau saya tulis begitu.”

“Kamu yakin mereka itu masih anak yatim?”

“Ya masih ta, Mbah. Mereka itu kan anak-anak yang tidak memiliki orang tua. Ditampung di panti asuhan.”

“Kamu keliru, Mar.”

“Keliru bagaimana, Mbah?”

“Seharusnya mereka jangan disebut anak yatim lagi. Soalnya sudah punya orang tua sosial. Bukankah, tujuan menampung mereka di panti asuhan adalah agar mereka tidak jadi yatim lagi. Bahkan melupakan keyatiman mereka.”

“Tapi, hakekatnya mereka ‘kan tetap yatim, Mbah?”

“Dan kamu, serta kebanyakan orang malah membuat mereka selalu ingat akan keyatimannya? Apa kamu ga mikir, tulisan dalam spandukmu itu bakalan menohok mata mereka, melemahkan semangat hidup mereka? Sudah di panti asuhan diingatkan keyatimannya lewat papan nama panti, eh, disini kamu ingatkan lagi pakai spandukmu.”

Baca Juga  IKAN ASAP SAMBAL TERASI

“Waduh, berarti saya salah, Mbah?”

“Aku ndak nyalahin kamu, Mar. Coba saja kamu baca tulisan itu, tapi pakai hati.”

“Yasudah, Mbah, itu soal teknis, saya bisa ganti tulisannya nanti. Yang penting niat saya ikhlas untuk berbagi kebahagiaan dengan menolong mereka.”

“Kamu kira, yang kamu lakukan itu adalah menolong mereka? Salah kamu, Mar.”

“Salah lagi ya, Mbah?”

“Bukan kamu yang menolong anak-anak panti asuhan itu, tapi merekalah yang sesungguhnya menolongmu. Memangnya, kamu ini siapa? Hartamu itu lho, yang punya gusti Allah. Termasuk kamu, yang punya juga gusti Allah.”

“Saya masih belum paham, Mbah.”

“Kamu yang sebetulnya butuh menolong mereka. Dan do’a merekalah yang kamu butuhkan agar selalu mendapat keberkahan. Jadi, siapa yang sesungguhnya ditolong?”

“Saya, Mbah.”

*****

Mbah Rembuk ngeluyur begitu saja setelah menyudahi pembicaraannya. Pak lurah hanya terdiam, merenungi tiap nasehat yang baru saja ia terima dari orang gila pasar. Sedangkan Paidi hanya terdiam. Tak berani menyela percakapan itu.

“Satu lagi, Mar.” Mbah Rembuk membalikkan badan.

“Ya, Mbah.”

“Memimpin itu, berarti beban. Banyakin prihatin, bukan malah menumpuk harta. Daripada tasyakuran, mending banyak istighfar.”

Deg. Hati pak lurah tertohok. Mbah Rembuk berlalu meninggalkan pekarangan rumahnya. Anak-anak kecil sontak tertawa geli, melihat Mbah Rembuk pergi sambil bernyanyi, “gundul-gundul pacul, cul, gembelengan ….”

Sore itu juga, Pak Lurah mengadakan rembukan dadakan. Acara dibuatnya bermanufer. Apa yang barusan dikatakan Mbah Rembuk benar-benar mencerahkan hatinya.

Yang semula tasyakuran berubah menjadi do’a bersama. Lalu, tulisan “anak yatim” di spanduk penyambutan, ditempeli dengan kertas hvs dengan tulisan “anak hebat.”

Bagikan
Post a Comment