f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
tua

Menjadi Tua Tanpa Kecewa

Ketika Allah bersumpah dengan menggunakan ‘waktu’ sebagai obyeknya di dalam surah Al-Ashr, maka dapat dipastikan betapa tinggi posisi ‘waktu’ itu di sisi Allah. Namun, seringkali ketika membaca ayat ini, hati kita sama sekali tidak tersentuh. Kata orang, kita baru akan memahami sebuah makna apabila kita mengalaminya sendiri. Begitu juga dengan ayat Al-Qur’an, baru terasa indah dan dalam maknanya, saat kita mengalaminya sendiri.

“Demi Masa, sesungguhnya manusia berada di dalam kerugian,”

Potongan ayat ini saja seharusnya sudah cukup membuat kita bertaubat dan segera beramal shalih. Tapi tidak. Waktu terasa masih panjang. Longgar. Nanti saja. Pikiran-pikiran inilah yang muncul dalam benak kita di kala muncul bisikan hati untuk beribadah dan beramal.

Tetapi semua berbeda saat “tamu” yang tidak diundang tiba.

Tamu itu bernama “Tua”.

Saat usia menginjak 40 tahun, barulah terasa ternyata hidup itu begitu singkat. Waktu lewat begitu cepat. Kenangan yang tersisa dari umur yang telah berlalu hanya tersimpan kepingan-kepingannya saja. Barulah kita menyadari kita masih belum memiliki pencapaian apa-apa di dalam kehidupan.

Kerutan wajah perlahan muncul, tahu-tahu rambut memutih selembar demi selembar. Anak kesayangan yang dulu merupakan bayi mungil yang lucu, kini telah menjadi remaja yang sering menjawab kata-kata kita.

Ditambah dengan beban hidup mencari nafkah, mendidik anak, merawat orang tua yang sudah sakit-sakitan, atau malah kita sendiri yang menghadapi penyakit yang perlahan-lahan mulai menghinggap.

Di kala inilah, kita baru sadar bahwa memang benar kita telah menyia-nyiakan waktu dengan begitu ceroboh.

***

Ingat 5 perkara, sebelum 5 perkara.

Kita semua tentu sering mendengar ucapan ini. Kutipan dari hadis yang indah. Mungkin sejak kecil kita juga tentu sudah tahu apa 10 perkara itu.

Diriwayatkan oleh sahabat Abdullah Ibnu Abbas RA bahwa Rasulullah Saw bersabda:

اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَفِرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

Manfaatkanlah lima perkara sebelum kamu kedatangan lima perkara (demi untuk meraih keselamatan dunia akhirat). Yakni masa mudamu sebelum datang masa tuamu. Sehatmu  sebelum datang sakitmu. Masa kayamu sebelum datang faqirmu. Waktu luangmu sebelum waktu sibukmu. Masa hidupmu sebelum datang kematianmu”.

Sebuah pengingat yang syahdu.

Baca Juga  Menjadi Ibu dalam Sebuah Rumah bagi Sesama

Tetapi sebenarnya pengingat yang paling nyata adalah saat kita mengalaminya sendiri. Kita akan mengetahui nikmatnya sehat saat mengalami sakit. Akan mengetahui nikmatnya “nggak ngapa-ngapain” saat menghadapi pekerjaan yang menumpuk dan menggila.

Dan kita baru akan memahami indahnya usia muda, saat kita merasakan rapuhnya perlahan menjadi tua.

Baju-baju sudah mulai tidak cukup. Badan menjadi lebih mudah letih. Uban mulai memenuhi kepala.

Masa memasuki usia 40 tahunan ini adalah masa yang paling krusial. Masa ketika seseorang mengalami krisis mental yang begitu besar. Di masa inilah, midlife crisis (krisis paruh baya) itu hadir.

Apa itu Krisis Paruh Baya?

Krisis paruh baya adalah masa ketika seseorang berusia 40–50-an tahun merasa khawatir, bingung, atau takut pada kenyataan bahwa hidup mereka semakin mendekati masa tua, sementara di sisi lain mereka ingin tetap merasa muda kembali.

Orang memiliki sikap yang berbeda-beda dalam menghadapi midlife crisis. Bagi mereka yang mampu dan telah mapan, terkadang akan menghabiskan uangnya untuk kesenangan-kesenangan hobinya. Misal membeli sepeda mahal lalu lebih sering olahraga bersepeda. Ada yang tahu-tahu lebih suka dandan, bahkan ada pula yang lebih sering party dan hedon. Bagi mereka, usia tinggal separuh, ya sebaiknya dimanfaatkan untuk senang-senang.

Sebaliknya, ada juga mereka yang menjadi depresi saat menghadapi midlife crisis. Para wanita mengetahui bahwa tubuh mereka tidak mungkin akan kembali seperti dahulu lagi, maka kadang makan pun menjadi gila-gilaan. Rasa sedih karena kehilangan kecantikan, ketampanan, kekuatan usia muda, semua ini bisa membuat orang menjadi sedih. Maka ia akan kehilangan semangat kerja, bahkan bisa kehilangan tujuan hidupnya saat itu.

Belum lagi, sebagian orang akan mengalami kesedihan mendalam saat menyadari bahwa cita-cita mereka masih belum tercapai di usia 40 tahunan. Tingkat ekonomi mereka masih begitu rendah setelah lama bekerja. Belum mampu beli rumah, belum mampu beli mobil. Belum mampu menyenangkan orang tua di umur sendiri yang telah menua pula.

Baca Juga  Sampah Parasit bagi Manusia

Menurut penelitian Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit di Amerika, Wanita antara usia 40 dan 59 di Amerika Serikat memiliki tingkat depresi tertinggi (12,3%) dari kelompok manapun berdasarkan usia dan jenis kelamin.

Tingkat bunuh diri tertinggi terjadi pada usia paruh baya—khususnya di antara pria kulit putih. Orang-orang antara usia 45 dan 54 lebih mungkin untuk bunuh diri daripada kelompok usia lainnya.

Cukup menakutkan dan mengkhawatirkan.

Apa jawaban dan nasehat Islam untuk hal ini? Bagaimana kita sebagai muslim mampu melewati krisis ini dan kemudian menua tanpa kecewa sesuai dengan tuntutan agama kita?

***

Memasuki umur 40 tahun memang terkadang menakutkan bagi banyak orang. Tetapi kita tahu, Allah mengangkat Rasulullah Saw sebagai Rasul adalah ketika beliau berumur 40 tahun. Ketika Siti Khadijah RA menikah dengan Rasulullah Saw pun, beliau RA berusia 40 tahun.

Apa yang ingin Allah Swt tunjukan kepada kita?

Mungkin adalah bahwa usia 40 adalah usia terbaik.

Di usia ini, seorang telah memiliki pengalaman hidup yang cukup panjang, sehingga ia mampu mengambil keputusan yang tepat. Mampu berpikir dengan logika dewasa, telah mampu menjadi pemimpin di dalam keluarganya.

Apabila seseorang telah berhasil mencapai semua cita-cita dan keinginannya pada usia 40, maka keberkahanlah untuknya. Ia cukup melanjutkan lagi separuh hidupnya dengan dipenuhi rasa syukur serta memperbanyak amal ibadah. Ia pada akhirnya mengerti bahwa ia sudah tak perlu lagi mencari dunia, karena Allah sudah mencukupkannya. Yang perlu ia lakukan saat ini adalah memperbanyak ibadah dan berbuat kebaikan, banyak meminta ampun.

Maka, InsyaAllah, tenanglah dirinya menjalani usia yang menua.

Bagi mereka yang belum mencapai cita-citanya, belum dapat hidup dengan mapan karena setiap hari masih bergulat dengan pekerjaan mencari nafkah yang begitu berat, maka ia  sebaiknya mengingat betapa beratnya perjuangan Rasulullah Saw saat berada di usia 40 tahun itu.

Mengingat bahwa rejeki dan nafkah semuanya merupakan hak Allah untuk memberikan, sedangkan amal salih merupakan ‘hak’ kita sendiri. Hanya kitalah yang bisa meningkatkannya, menambahkannya, menumpukkannya, atau bahkan menguranginya dan meninggalkannya.

Baca Juga  Pernikahan Dini, Inspirasi di Tengah Pandemi

Inilah kekuatan dan harapan orang beriman yang belum dilapangkan Allah Swt rejekinya. Inilah senjata orang-orang yang lemah dalam mengarungi hidup. Di dalam kesabaran berbuat amal kebaikan sebanyak-banyaknya, meskipun itu adalah hal yang terkecil sekalipun.

Karena alangkah menakutkannya jika di dunia kita sudah payah, di akhirat pun payah juga. Rugi 2 kali.

Menjadi tua tak bisa dihindari

Rezeki pun sudah diatur Allah. Yang bisa kita lakukan, adalah tentu seperti yang “dianjurkan” Allah pada lanjutan Surah Al-Ashr.

“Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran.”

Inilah yang harus kita lakukan pada saat menghadapi midlife crisis.

Betapa indah perumpamaan waktu Ashar ini. Waktu di mana sore menjelang. Menyongsong gelap. Menjelma malam. Begitu cocok dengan perumpamaan usia 40 yang seperti usia Ashar. Usia sebelum gelap, sebelum kita mati.

Maka di waktu ‘Ashar’, di usia sore kita ini, Allah Swt mengingatkan kita untuk mengerjakan kebaikan, saling menasehati untuk kebenaran, dan kesabaran.

Allah Swt mengingatkan kita untuk tidak hanya melakukan amal salih, tetapi juga saling menasehati serta mengingatkan. Dan saling menasehati biasanya dilakukan antara teman, sahabat, saudara. Ini berarti, Allah menganjurkan kita untuk lebih sering berkumpul dengan sahabat dan keluarga. Saling curhat, saling menguatkan, saling berbagi cerita. Di situlah kita bisa saling menguatkan. Saling mengingatkan. Semuanya, di dalam kerangka sabar.

Indah bukan?

Jadi kesimpulannya?

Allah Swt telah memberitahukan kita lewat firmannya pada surah Al-Ashr, bahwa kita manusia, akan mengalami kesedihan dan kerugian yang diakibatkan oleh berlalunya waktu, oleh berkurangnya usia. Maka Tuhan kita yang Maha Bijaksana ini memperingatkan kita untuk selalu bersabar dalam beramal sholih, dan saling bersilaturahmi dengan sahabat-sahabat, berbagi cerita dan berbagi beban kehidupan. Untuk kemudian saling menguatkan, saling mengingatkan.

Banyak ibadah, banyak kumpul sahabat-sahabat. Dari sana akan muncul solusi, muncul jawaban-jawaban, muncul kesempatan. Muncul kebahagiaan pula.

Mungkin itu saja obatnya. Obat mujarab yang sudah disiapkan oleh Sang Maha Pencipta.

Bagikan
Post a Comment