f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
Hukum

Melawan Ketertindasan Kaum Perempuan; Perspektif Maqashid Syariah

Eksistensi Kaum Perempuan dalam Optik Historis

Sejarah merekam dinamika kehadiran gender perempuan dalam kehidupan umat manusia dengan bermacam aspek, seperti agama, pendidikan, sosial, dan lain sebagainya. Dalam aspek agama secara khusus menyebutkan bahwa Islam hadir sebagai agama yang menghargai dan melindungi perempuan (kaum Hawa). Ketentuan itu terdapat dalam Q.S Ali-Imran ayat 14; “Dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan pada yang mereka ingini yakni wanita, anak-anak, harta, dan seterusnya”.

Kecintaan Islam kepada kaum hawa ini ditandai dengan semangat yang dihadirkan Islam. Yaitu dengan menggagas teori pembebasan terhadap segala bentuk penindasan kepadanya, seperti adanya syari`at batasan aurat yang patut dan beradab, bagian warisan yang proporsional, dan asas perkawinan yang monogami.

Sebagaimana terdapat dalam Q.S an-Nisa ayat 3 “Dan jika kamu tidak dapat berlaku adil, maka kawinilah satu saja”. Tentu saja, hal ini sangat berbeda dengan kultur masyarakat sebelum Islam yang menjadikan perempuan sebagai makhluk yang hina dan termarginalkan dalam pandangan sosial kala itu.

***

Semangat pembebasan dalam ajaran Islam terhadap kaum perempuan ditemukan dalam syari`at perkawinan Islam itu sendiri. Ketika ingin melaksanakan perkawinan, seorang perempuan wajib dihantarkan oleh wali nikah yang sah. Maksudnya, kegiatan ini melambangkan bahwa perempuan itu dilepaskan dengan tata cara tertentu dan oleh orang tertentu.

Sehingga, dengan adanya syarat wali nikah ini, memunculkan kewajiban oleh seorang laki-laki yang ingin menikahinya untuk turut menautkan hatinya kepada keluarga perempuan yang akan dinikahinya. Bahkan, syari`at Islam menetapkan tidak ada perkawinan bilamana seorang perempuan tidak dinikahkan oleh wali yang sah.

Begitu diagungkannya kaum hawa oleh syari`at Islam, salah satu kisah inspiratif yang terdapat dalam Q.S Ali-Imran ayat 42; “hai Maryam, sesungguhnya Allah SWT telah memilh kamu, menyucikanmu, dan melebihkanmu atas wanita lainnya di dunia”. Ayat ini memberikan isyarat kepada setiap perempuan untuk menjaga kesuciannya, karena hanya Maryam satu-satunya perempuan yang dapat memiliki anak tanpa kehadiran seorang laki-laki. Peristiwa Maryam adalah kuasa dari Allah SWT.

Baca Juga  Cinta itu Eksistensial, Tidak Gampang Diraih Secara Sembarangan
Islam dan Perempuan

Dalam menjalani kehidupan, hubungan antara laki-laki dan perempuan itu hanya berhak disalurkan dengan menikah. Sebagaimana Firman Allah dalam Q.S an-Nisa ayat 24; “dihalalkan bagi laki-laki untuk menikahi (kawin) dengan perempuan, bukan untuk dizinai”.

Ayat ini dapat bermakna bentuk perlindungan ajaran Islam kepada perempuan. Karena, bilamana hubungan antara seorang lelaki dan perempuan yang tidak berorientasi pada terwujudnya sebuah pernikahan, hubungan semacam ini sebenarnya tidaklah benar secara idealis.

Di samping itu, dalam pandangan sosial hubungan yang tidak punya orientasi menikah tersebut juga bertentangan dalam pandangan epistimologi dan aksiologi. Tentu saja perbuatan semacam ini hanya perbuatan yang sia-sia, serta berpotensi pada perzinaan. Hal ini sesuai dengan Q.S an-Nisa ayat 34; “perempuan yang shalehah telah disucikan oleh Allah SWT dengan syariat menikah, kemudian menjadi kewajiban bagi setiap perempuan shalehah untuk menjaga kesuciannya itu dihadapan Allah SWT”.

Hubungan yang erat antara ajaran Islam dengan upaya pembebasan untuk kaum perempuan ini dikisahkan dalam Q.S Yusuf ayat 23-24. Kisah Zulaikha dengan Yusuf memberikan isyarat bahwa kedurhakaan perempuan kepada syariat Islam, akan membawa perempuan semakin tertindas dan jauh dari kejayaan sebuah peradaban.

Dengan semangat ajaran Islam yang memuliakan kaum perempuan itu, erat kaitannya bahwa Islam menginginkan peradaban yang rahmah (penuh kasih sayang). Sehingga, bilamana perilaku perempuan yang tidak sholehah (tidak sesuai dengan syari`at Islam) ini masih saja tidak bisa diatasi; maka peradaban yang dicita-citakan Islam itu semakin sulit dicapai. Gagasan ini, kemudian melahirkan pandangan feminisme.

Perempuan dalam Maqashid Syariah

Maqashid Syariah adalah suatu pendekatan yang berupaya mengartikan syari`at Islam kepada tujuan-tujuan tertentu, seperti akumulasi pada tujuan (hifz) ad-Din, an-Nafs, an-Nasab, al-Aklu, dan al-mal. Secara khusus bila dihubungkan dengan perempuan, pendekatan ini relevan dengan tujuan syari`at Islam sebagai penjaga keturunan (hifz an-Nasab).

Baca Juga  Perempuan, Masa depan dan Loyalitas Pribadi

Bentuk perlindungan ajaran Islam terhadap perempuan dalam menjaga keturunan diawali dari ketetapan Allah SWT bahwa hanya perempuan, dengan segala infrastruktur yang dianugerahkan padanya dapat melahirkan keturunan manusia hingga berkembang biak. Sebagaimana dalam Q.S ali-Imran ayat 8 “Allah SWT yang membentuk manusia dalam rahim sebagaimana dikehendakinya”.

Dengan begitu potensialnya, seorang perempuan mesti paham betul segala hal tentang dirinya. Secara khusus dalam hal ini sikap pencegahan (sadd adz-Dzari`ah) sangat tepat diambil oleh setiap perempuan agar terhindar dari upaya (penghancuran) destruktif yang mungkin datang padanya.

Dalam Q.S an-Nisa ayat 4 disebutkan bahwa “berilah maskawin (mahar) kepada wanita yang dinikahi sebagai pemberian dengan penuh kerelaan”. Perilaku semacam ini ialah bukti penghargaan terhadap setiap perempuan shalehah. Karena dia telah menjaga kesuciaannya dan hanya menerima hubungan pernikahan dengan seorang laki-laki, di mana saat itu terlaksana akad nikah dan pemberian mahar.

Dengan serangkaian kegiatan yang kaya akan nilai kepatutan dan kemanusiaan di atas, pasangan suami istri dapat menjalankan ikatan pernikahannya dengan rasa penuh pertanggung jawaban. Dalam Q.S al-A`raf ayat 81 Allah SWT menegaskan bahwa hubungan suami istri itu hanya berhak untuk laki-laki dengan perempuan. Pertanggung jawaban ini tidak hanya dalam aspek sosial (horizontal), namun juga dapat dipertanggungjawabkan dihadapan Allah SWT (secara vertikal).

Tawaran Hukum Islam Kepada Perempuan

Dengan merujuk kembali ajaran Islam, dalam Q.S an-Nisa ayat 124 Allah SWT berfirman; “barangsiapa laki-laki dan perempuan yang mengerjakan amal-amal saleh kemudian beriman, maka mereka diganjar surga tanpa dianiaya sedikitpun dihadapan Allah SWT”.

Hal ini tentu saja jaminan bagi kaum perempuan bahwa, kesetaraan gender itu sangat mempunyai legitimasi dalam ajaran Islam. Oleh karena itu perempuan hanya mampu melawan ketertindasannya itu dengan semakin mendekatkan diri serta meneguhkan hati dan fikirannya untuk senantiasa tunduk pada hukum-hukum Allah SWT.

Baca Juga  Pandangan Islam Terhadap Maraknya Berita Hoax

Adapun hukuman bagi perempuan yang tidak kunjung mendekatkan diri kepada syariat Islam, sebagaimana dalam Q.S an-Nur ayat 26 “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji”. Maka atas keingkarannya itu seorang wanita akan mendapatkan laki-laki (pasangan) hidup sebagaimana dirinya.

“Hidup secukupnya, berbuat baik sebanyak-banyaknya”

Hanif Aidhil Alwana

Bagikan
Post a Comment