f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.

Krisis Kepercayaan Guru

Oleh: Loresta Nusantara*

Melandanya pandemi Covid-19 di Indonesia berpengaruh terhadap berbagai sektor kehidupan. Salah satunya adalah sektor pendidikan. Pelbagai kebijakan dan program mendadak dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud RI).

Seperti pelaksanaan kegiatan belajar mengajar yang semula di sekolah pindah ke rumah, batalnya ujian nasional di semua tingkat satuan pendidikan, hingga kegiatan penerimaan peserta didik baru yang juga harus melalui daring. Tentu, awalnya serba kelimpungan.

Kesiapan sekolah melaksanakan pembelajaran di rumah melalui daring tidak semudah apa yang dibayangkan. Berbagai masalah muncul. Mulai dari tidak terjangkaunya akses internet, keterbatasan sarana dan prasarana orang tua maupun guru itu sendiri, bahkan penguasaan teknologi yang masih rendah menjadi masalah awal dan berkelanjutan saat situasi ini.

Kemendikbud RI pun mencanangkan program “Belajar dari Rumah” yang ditayangkan melalui saluran televisi pemerintah, TVRI. Peserta didik diminta mencari sumber informasi dan menjadikan media televisi sebagai sumber belajar satu arah.

Efektivitas program ini tentu tidak bisa disetarakan dengan interaksi pembelajaran langsung. Perbedaan pola pembelajaran yang biasanya tatap muka menjadi tatap layar, yang biasanya didampingi guru menjadi didampingi orang tua.

Hal lainnya, memunculkan peluang kejenuhan dan kebingungan bagi peserta didik dalam transformasi pengetahuan, belum lagi adaptasi peranan orang tua sebagai sumber utama dari setiap pertanyaan yang diajuukan oleh anak. Orang tua sebagai pintu pertama perubahan ini.

Selama pembelajaran daring, pelbagai media pembelajaran jarak jauh pun telah dicoba dan digunakan. Guru dan peserta didik berusaha merubah gaya, strategi atau metode mengajar dan belajar.

Guru dan peserta didik berupaya merubah gaya komunikasi selama pembelajaran. Guru juga berusaha memberi tugas yang sebisa mungkin bisa dijalankan bersama antara orang tua dan peserta didik, tugas yang berbasis pengembangan soft skill  juga diberikan.

Baca Juga  Merahmati Perbedaan Awal Puasa

Dalam praktiknya, pola pendidikan baru tersebut mengundang banyak keluhan dari orang tua peserta didik. Mereka merasa kewalahan, bahkan tak jarang bingung dengan mekanisme yang diterapkan sekolah. Belum adanya keseragaman proses pembelajaran, baik itu terkait standar maupun kualitas capaian pembelajaran yang diinginkan membuat sekolah atau guru memiliki kebijakan yang berbeda-beda.

Hal ini juga memicu rasa iri dan tidak percaya orang tua terhadap guru.

Sebagai seorang pendidik, desas-desus tentang pembelajaran daring sering saya dengar. Beberapa hari yang lalu, saya mendengar beberapa cerita dari seorang teman yang juga pendidik mengatakan beberapa orang tua di sekolahnya protes ke guru karena merasa selama ini yang mendampingi peserta didik, menjelaskan ketika peserta didik kesulitan memahami materi, atau sekedar mendampingi mengerjakan soal adalah orang tua, sementara guru hanya memberikan tugas setelah itu selesai.

Orang tua beranggapan guru hanya bersantai-santai di rumah begitu selesai memberikan tugas. Orang tua juga mungkin lupa bahwa guru juga harus melakukan koreksi, analisis soal, evaluasi tugas, dan menyusun tugas untuk esok harinya begitu tugas terkumpul.

Yang tidak kalah menariknya, awal bulan Mei lalu, ramai-ramai di berbagai media mengabarkan adanya beberapa orang tua yang mengeluh dan protes karena masih harus membayar Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP).

Orang tua merasa bahwa yang selama ini mendidik adalah orang tua, internet yang membiayai orang tua, listrik dan AC rumah yang membayar orang tua, semua fasilitas belajar dari orang tua.

Mereka merasa tidak berhak membayar SPP lagi selama masa pandemi. Karena guru dianggap tidak bekerja selama masa pandemi. Jika ini diberlakukan secara holistik, apa kabar guru di sekolah swasta? Yang jelas-jelas gaji mereka dari SPP yang dibayarkan peserta didik setiap bulannya.

Baca Juga  Ibu Muda Bekerja dan Bernasyiah: Mewujudkan Keluarga Tangguh Bersama Pasangan

Saya yakin, setiap guru berusaha menjadikan pembelajaran daring lebih bermakna, tidak hanya  menghasilkan peserta didik sebagaimana robot yang hanya mengerjakan latihan soal dan tugas-tugas tanpa mampu berpikir dalam level tinggi.

Melihat fenomena seperti ini, harusnya pemerintah segera mengambil tindakan. Agar tidak lagi muncul rasa saling iri atau tidak percaya antara guru dan orang tua peserta didik.

Situasi pandemi seperti sekarang ini harusnya membuka wawasan dan pengalaman baru bagi guru, peserta didik, dan orang tua. Diperlukan kolaborasi yang bijak antara guru, peserta didik, dan orang tua untuk menumbuhkan sistem belajar yang efektif dan bermakna.

Selain itu, kondisi seperti saat ini membuat orang tua merasakan peran guru dalam mendidik dan membimbing anak didiknya. Hal ini dapat menumbuhkan empati kepada profesi guru yang selama ini mungkin belum tersampaikan dengan baik ke masyarakat.

*Penulis adalah Pimpinan Daerah nasyiatul Aisyiyah Kota Malang

Bagikan
Post a Comment