f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
masa covid-19

Kaidah Ushul Fiqih Pada Masa Covid-19

Wabah Covid-19 masih terus berlangsung di seluruh penjuru dunia. Khususnya di Indonesia, Covid-19 sedang memasuki masa-masa puncaknya. Seperti anak usia 8-9 bulan yang baru mulai belajar berjalan, kebiasaan baru ini terasa asing dan berat terutama pada saat awal mula Covid-19 merebak di Indonesia.

Untuk memakai masker dan mencuci tangan sepertinya bukan hal yang berat untuk dicoba dan dibiasakan, tetapi untuk menghindari kerumunan bisakah untuk diterapkan? Sedangkan manusia adalah makhluk sosial yang bisa dikatakan; selama eksistensinya membutuhkan manusia-manusia lain untuk tetap bertahan.

Lantas apakah fiqih memiliki jalan keluar yang berkaitan dengan keseharian kita di masa pandemi? baik itu ibadah, muamalah madhah maupun muamalah ghairu madhah?

***

Menilik kembali hadis yang berkaitan tentang kesempurnaan Islam dan perkataan ulama bahwa Islam merupakan agama yang selalu selaras dengan zamannya. Keadaan pandemi yang mengubah setidaknya 80 persen dari kebiasaan kita ini tentunya memberikan tantangan tersendiri bagi para Ulama dan Mujtahid dalam memberikan solusi dan jalan keluar untuk permasalahan-permasalahan yang bersifat komprehensif.

Dan di antara dalil-dalil Ushul Fiqih para ulama dalam berijtihad dan tentunya dapat kita gunakan dalam menimbang dan menjadi tolak ukur sebuah permasalahan, seperti:

لاضرر ولاضرار

‘’ la dhoror wala diror”

(Tidak boleh melakukan sesuatu yang membahayakan diri sendiri dan orang lain)

Dalil ushul ini terdapat dalam hadis yang menegaskan bahwasanya seseorang tidak boleh melakukan perbuatan yang memebahayakan dirinya dan juga orang lain.

Kaidah ini dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari; khususnya selama masa pandemi ini. Salah satu contohnya jika seseorang dinyatakan positif Covid-19, ia tidak boleh melakukan aktivitas yang mengharuskan kontak secara langsung dengan orang yang sehat karena bisa membahayakan orang lain.

Baca Juga  Hikmah Menstruasi Pada Perempuan

Begitu juga sebaliknya orang yang sehat menjaga jarak dengan yang sakit untuk tidak membahayakan dirinya sendiri. Kaidah ini tentunya memiliki hikmah yang besar dalam hifz al nafs menjaga keselamatan jiwa, terlebih di masa pandemi ini.

***

Selanjutnya adalah kaidah Al-Masyaqqotu Tajlibu Al-Taisir; yang mana merupakan salah satu dari sekian banyak kaidah yang menjadi landasan argumentasi para ulama dan mujtahid dalam memberikan fatwa.

Al-Masyaqqotu Tajlibu Al-Taisir jika diterjemahkan memiliki arti “kesulitan itu mengharuskan kemudahan”. Salah satu landasan dalil dari kaidah ini terdapat pada surat Al-Baqarah 185 sebagai berikut:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Artinya:

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunju-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.

Walaupun dalam kaidah ini menyatakan bahwa kesulitan dalam menjalankan agama harus dihilangkan; tapi tidak berarti kita bisa menerapkan kaidah ini sesuka hati. Ada kondisi-kondisi yang membolehkan kita untuk menerapkan kaidah ini.

Baca Juga  Menuju Kehidupan New Normal
***

Menurut Nadawi dalam bukunya Qawaid Al-Fiqhiyyah kaidah “kesulitan itu mengharuskan kemudahan” bisa diterapkan dalam sehari-hari apabila masuk pada 7 kondisi berupa:

  1. Ketika dalam perjalanan dan pada kondisi tersebut terjadi kesulitan; sehingga dari kesulitan tersebut diperbolehkan bagi yang sedang melakukan perjalanan untuk mengqasar shalat, jamak taqdim ataupun jamak ta’khir, membatalkan puasa, dan diperbolehkan juga untuk tidak melaksanakan shalat jum’at bagi laki-laki yang kemudian diganti dengan shalat dzuhur.
  2. Dalam keadaan sakit.
  3. Kondisi terpaksa yang dapat membahayakan keberlangsungan hidup.
  4. Lupa, karena lupa merupakan salah satu yang tidak dikenai hukum taklifnya dan diluar kesadaran manusia.
  5. Ketidaktahuan.
  6. Kondisi yang mendesak.
  7. Ketidakmampuan bertindak secara hukum.

Contoh yang paling aktual dari pengamalan kaidah ini adalah ketika awal mula Covid-19 memasuki Indonesia; pemerintah melarang masyarakat untuk berkumpul atau berkerumunan dalam jumlah besar karena berpotensi meningkatkan penyebaran Covid-19; yang akhirnya akan membahayakan keselamatan jiwa dengan sosial distancing.

Tentunya dengan larangan ini shalat jumat sempat dilarang pada awal-awal masa diterpanya Indonesia dengan wabah virus corona. Bagi mayoritas orang Indonesia yang bermadzhabkan Syafiiyah, tentunya sangat sulit untuk tidak berkumpul dalam jumlah besar; karena dalam madzhab Syafiiyah sendiri shalat jumat mengharuskan adanya jumlah tertentu yaitu minimal 40 orang. Ketentuan ini bertolak belakang dengan sosial distancing yang digaung-gaungkan sebagai tata cara kebiasan baru dalam memerangi virus corona.

***

Dalam keadaan yang seperti itu, mengutamakan sosial distancing menjadi perlu agar tidak membahayakan jiwa orang lain. Kewajiban shalat jumat itu bisa ditiadakan dan menggantinya dengan shalat zuhur di rumah; yang di mana perbuatan tersebut merupakan buah dari penggunaan kaidah “Al-Masyaqqatu Tajlibu Al-Taisir”.

Ada beberapa pendapat ulama mengenai keadaan ini. Konferensi Dewan Ulama Al-Azhar yang mengemukakan fatwanya sebagai berikut. “Bahwa, boleh secara syar’i meniadakan shalat jumat dan shalat berjamaah dalam suatu negara, karena khawatir penyebaran virus corona akan menghancurkan negeri dan masyarakat”.

Baca Juga  Tafsir Ayat Poligami Menurut Nasr Hamid Abu Zayd

Lalu bagaimana cara penerapan kaidah ini dalam kondisi yang sekarang kita hadapi? yang tidak hanya diukur melalui penerapan kaidah dalam ibadah saja; tapi juga untuk aktivitas yang lainnya, di mana kita sedang berjuang dan terus berusaha melawan Covid-19 ini. 

Tentunya, dalam masa pandemi ini kita pribadi dituntut dengan bijak untuk menerapkan kaidah ushul tersebut agar tidak membahayakan diri sendiri dan juga orang lain. Tidak hanya dalam ibadah, tapi dalam aktivitas apapun baik itu aktivitas yang bersifat duniawi.

Kita pribadi bertanggung jawab atas keselamatan diri dan orang lain. Ketika kita mengetahui bahwa perkumpulan yang banyak cenderung menyebabkan merebaknya virus, maka kita akan berusaha sebisa mungkin untuk menghindarinya. Jika terpaksa harus menghadapinya maka pilihan yang kita punya adalah tetap menerapkan protokol kesehatan serta tetap memperhatikan aspek-aspek kesehatan seperti yang kita ketahui sebelumnya. 

Bagikan
Post a Comment